Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Netflix Series to Watch; The Serpent

Kali ini gw masih kasi tau series yang agak psikopat. Ya nggak agak sih, emang psikopat beneran. Kemarenan kami nonton The Serpent di netflix. Serpent ini kisahnya adalah kisah seorang psikopat dari Prancis yang membunuh backpacker untuk mengambil uangnya. Oh ya, ini kejadian tahun 70an ya. Bisa dibayangin nggak jaman segitu, backpacking keliling dunia, bawa duit satu tas. Satu tas karena ATM masih belum menjadi hal yang umum. Bisa sih nggak bawa duit tapi pake travel cek gitu. 

Btw ini diambil dari kisah nyata ya.

Gw nanya ke H, orang jaman dulu udah kaya banget ya, bisa backpack keliling dunia padahal pesawat aja masih mahal banget kan jaman dulu? Eh ternyata bisa dong jalur darat. Ada rute bis dari Eropa sampe India sampe Thailand. Gila kan! Kebayang nggak road trip jaman segitu, di jalan berminggu-minggu, tapi bisa stop di satu tempat berhari-hari juga. Keren sih menurut gw. 

Pelaku asli

Jadi si orang Prancis ini namanya Alain (bukan nama asli tentunya), setelah beberapa periode pencurian dan pembunuhan, dia ketemu Monique (juga bukan nama asli) dari Quebec. Quebec ini satu tempat di Kanada yang berbahasa Prancis. Ceritanya tiba-tiba muncul diketahui otoritas karena ada orang tua dari 2 orang Belanda yang lapor ke Dubes Belanda di Thailand gegara anaknya kok nggak bales surat, nggak telpon selama berbulan-bulan. Curiga dibunuh dong. Akhirnya pencarian dimulai dari situ. 

Yang bikin gw seneng banget sama series ini selain karena ini psikopat (what's wrong with me?) tentu saja karena mereka berbahasa Belanda, Prancis, Inggris dan sedikit Thailand. Kadang-kadang ada Jerman dikit-dikit karena si istri Dubes Belanda orang Jerman. Logat berbahasa Inggrisnya Alain dan Monique ini Prancis gitu. Buat gw lucu, gw suka denger orang punya aksen dengan catatan gw bisa paham apa yang mereka omongin. 

aktor pemeran Monique - Alain

Yang bikin gemes, semua data yang mereka dapatkan ini dalam bentuk arsip. Pencarian jadi lama karena data nggak tercatat digital dan semua data bisa "dipalsukan" karena nggak ada catatan digitalnya. Kalaupun ada, nyarinya lama banget nggak sedetik dua detik langsung terkoneksi ke FBI atau CIA. 

Alain ini pinter banget memanipulasi korban, termasuk Monique. Monique ga jadi korban karena dia cakep dan Alain "naksir" dia. Sampai si Monique akhirnya ikutan Alain. Monique sebenernya sadar kalau dia dimanipulasi tapi nggak mau nyerah sama Alain karena you know, cinta. Di satu titik gw malah lebih takut Monique karena dia tau kalau dia punya pilihan tapi dia nggak mau keluar. Beda dari Alain yang membuat satu dunia baru buat dia yang bernama Alain. 

Dari series itu yang bikin gw agak engap ngeliatnya itu mereka perokok semua. Bener-bener nafasnya pake rokok. Kata H juga jaman segitu orang-orang gila rokok banget. Series ini hanya 8 episode. Menurut gw oke banget meskipun pemeran aslinya ada yang keberatan karena kurang persis. Ya namanya juga dibikin film ya, pasti ada yang dikurangi ditambah dikit-dikit tapi yang penting intinya sama. 

Nggak kebayang tahun segitu bisa bunuh orang segitu gampangnya 😓  Btw gw suka banget liat yang jadi Monique, cantik banget 😅

Comments

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Gojek ke bandara juanda

While waiting, jadi mending berbagi sedikit soal gojek. Karena saya adalah pengguna setia gojek, saya pengen cobain ke bandara pake gojek. Awalnya saya kira tidak bisa *itu emang sayanya aja sih yang menduga nggak bisa*, trus tanya temen katanya bisa karena dia sering ke bandara pakai motornya. Nah berarti gojek bisa dong?? Sebelum-sebelumnya kalo naek gojek selalu bayar cash, tapi kali ini pengen cobain top up go pay. Minimum top up 10ribu. Jadi saya cobain deh 30ribu dulu. Eh ternyata lagi ada promo 50% off kalo pake go pay. Haiyaaaaa kenapa ga dari dulu aja ngisi go pay hahaha. Dari kantor ke bandara juanda sekitar 8km. Kantor saya sih daerah rungkut industri. Penasarannn banget ini abang mau lewat mana ya. Tertera di layar 22ribu, tapi karena pakai go pay diskon 50% jadinya tinggal 11ribu. Bayangin tuhh... pake bis damri aja 30ribu hahaha. 11ribu udah nyampe bandara. Biasanya 15ribu ke royal plaza dari kantor haha. Lagi untung. Bagus deh. Nah sepanjang perjalanan, saya mikir ter