Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Netflix Series to Watch; The Serpent

Kali ini gw masih kasi tau series yang agak psikopat. Ya nggak agak sih, emang psikopat beneran. Kemarenan kami nonton The Serpent di netflix. Serpent ini kisahnya adalah kisah seorang psikopat dari Prancis yang membunuh backpacker untuk mengambil uangnya. Oh ya, ini kejadian tahun 70an ya. Bisa dibayangin nggak jaman segitu, backpacking keliling dunia, bawa duit satu tas. Satu tas karena ATM masih belum menjadi hal yang umum. Bisa sih nggak bawa duit tapi pake travel cek gitu. 

Btw ini diambil dari kisah nyata ya.

Gw nanya ke H, orang jaman dulu udah kaya banget ya, bisa backpack keliling dunia padahal pesawat aja masih mahal banget kan jaman dulu? Eh ternyata bisa dong jalur darat. Ada rute bis dari Eropa sampe India sampe Thailand. Gila kan! Kebayang nggak road trip jaman segitu, di jalan berminggu-minggu, tapi bisa stop di satu tempat berhari-hari juga. Keren sih menurut gw. 

Pelaku asli

Jadi si orang Prancis ini namanya Alain (bukan nama asli tentunya), setelah beberapa periode pencurian dan pembunuhan, dia ketemu Monique (juga bukan nama asli) dari Quebec. Quebec ini satu tempat di Kanada yang berbahasa Prancis. Ceritanya tiba-tiba muncul diketahui otoritas karena ada orang tua dari 2 orang Belanda yang lapor ke Dubes Belanda di Thailand gegara anaknya kok nggak bales surat, nggak telpon selama berbulan-bulan. Curiga dibunuh dong. Akhirnya pencarian dimulai dari situ. 

Yang bikin gw seneng banget sama series ini selain karena ini psikopat (what's wrong with me?) tentu saja karena mereka berbahasa Belanda, Prancis, Inggris dan sedikit Thailand. Kadang-kadang ada Jerman dikit-dikit karena si istri Dubes Belanda orang Jerman. Logat berbahasa Inggrisnya Alain dan Monique ini Prancis gitu. Buat gw lucu, gw suka denger orang punya aksen dengan catatan gw bisa paham apa yang mereka omongin. 

aktor pemeran Monique - Alain

Yang bikin gemes, semua data yang mereka dapatkan ini dalam bentuk arsip. Pencarian jadi lama karena data nggak tercatat digital dan semua data bisa "dipalsukan" karena nggak ada catatan digitalnya. Kalaupun ada, nyarinya lama banget nggak sedetik dua detik langsung terkoneksi ke FBI atau CIA. 

Alain ini pinter banget memanipulasi korban, termasuk Monique. Monique ga jadi korban karena dia cakep dan Alain "naksir" dia. Sampai si Monique akhirnya ikutan Alain. Monique sebenernya sadar kalau dia dimanipulasi tapi nggak mau nyerah sama Alain karena you know, cinta. Di satu titik gw malah lebih takut Monique karena dia tau kalau dia punya pilihan tapi dia nggak mau keluar. Beda dari Alain yang membuat satu dunia baru buat dia yang bernama Alain. 

Dari series itu yang bikin gw agak engap ngeliatnya itu mereka perokok semua. Bener-bener nafasnya pake rokok. Kata H juga jaman segitu orang-orang gila rokok banget. Series ini hanya 8 episode. Menurut gw oke banget meskipun pemeran aslinya ada yang keberatan karena kurang persis. Ya namanya juga dibikin film ya, pasti ada yang dikurangi ditambah dikit-dikit tapi yang penting intinya sama. 

Nggak kebayang tahun segitu bisa bunuh orang segitu gampangnya 😓  Btw gw suka banget liat yang jadi Monique, cantik banget 😅

Comments

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men