Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Jakarta oh Jakarta!

Kuningan

Nggak pernah tinggal di Jakarta, tapi Jakarta ini jadi kota yang gw nggak berharap banget buat datengin lagi dan lagi. Lucunya, dia jadi salah satu kota yang sering gw kunjungi demi satu hal penting entah dokumen, apapun itu. 

Dulu waktu gw kecil, pertama kali diajak ke Jakarta sama mami papi (kakek nenek gw) naik bus malam. Seneng dong, wah akhirnya gw ke Jakarta! Ibukota! Sampai di Jakarta juga ya seneng-seneng aja tinggal di rumah saudara yang gede, makanan enak-enak, diajak jalan-jalan. Sekitar 2 mingguan gw di sana. 

Rumahnya ada di Tebet Barat Dalam. Ah inget banget gw, rumah bangunan lama yang masih apik banget. Agak serem sih karena ya you know rumah tipe-tipe Belanda gitu, ada juga foto yang menurut gw terlalu magis yang ditempatkan di tiap sudut ruangan termasuk kamar yang gw buat tidur. Agak susah tidur sih gw waktu itu. 

Sebutek itu udaranya

Tapi gw seneng karena bisa pamer ke temen-temen, "EH aku udah ke Jakarta lho!!!" Namanya juga anak SD guys. Btw, berkali-kali ke Jakarta belum pernah ke Monas hey. Ga bisa pamer ke Monas.

Saat usia gw udah beranjak dewasa, kunjungan gw ke Jakarta lebih perkara tentang dokumen, visa, ujian, interview kerja (ga penting juga tapi kok bisa gw bela-belain dateng ya?), seminar (yg ini keren banget nih ketemu orang macem Dian Sastro, RK dan Menlu yang masih Bu Retno Marsudi), transit terbang tapi bermalam, jemput H, yang intinya bukan soal jalan-jalan untuk bener-bener menikmati kota, terlebih lagi untuk tinggal. 

Salah satu sudut di... gw lupa di mana

Nah, suatu malam sepulang dari seminar, gw berdua bareng temen gw jalan kaki karena gatau balik ke tempat kos harus gimana. Sebenernya kos ke hotelnya ga jauh banget, tapi jalan juga gempor. Waktu itu udah sekitar jam 10 malem, tapi kita laper akhirnya belok ke KFC. Kenapa ke KFC? Karena kami berdua agak trauma kemarinnya beli lalapan tapi nggak bisa dimakan. Yang bener-bener bikin mata melek adalah kondisi kos yang kami tempati. Itu sebenernya nebeng temen sih, tapi akhirnya kami sewa kamar sendiri untuk 2 malam karena kamar teman kami cuma cukup untuk satu orang, dua orangpun nafas aja susah. Itu lebih mirip bangunan terbengkalai yang yaudah lah kalo kamu mau tinggal sini yaudah sini. Bener-bener nggak layak jadi hunian, tapi penuh kamarnya. Kos temen gw waktu itu 600 ribu.

Kamar mandi yang yaaa gitu deh. Kecoak dan tikus dimana-mana, nggak kecil pula. The worse things you could imagine. Gw kira, "Ah ya mungkin karena gw terbiasa tinggal di rumah sodara gw yang mewah kali. Lain kali coba lah, bisa aja beda" Oh wow momen lain yang bikin gw benci banget adalah waktu gw jalan di mal, gw jalan ditabrak dong sama orang, bukan dia yang minta maaf tapi gw 😓 Ga ada maaf, ga ada apa-apa, malah dilirik sinis gitu. Like, OMG! This is crazy!

Oh ya lupa, bau gotnya hmmm gw ga bisa deskripsikan ini gimana bisa sebangsat ini.

Akhir-akhir ini gw sering terbang ke Jakarta. Ya nggak sebulan 3 kali juga, tapi terbilang cukup sering dalam kurun waktu 2 tahun belakangan ini (dibandingkan tahun-tahun sebelumnya). MAN! Udara bener-bener kotor banget ya? Di bandara aja belum terbang kok bisa-bisanya kabut itu tebel banget. Awal ngeliat seneng dong, gw kira kabut dingin beneran. Eh tapi kok gerah, ah ternyata udaranya sekotor itu. Tentu saja belakangan ini malah lebih buruk lagi kualitas udaranya. Begitu pesawat take off, baru beberapa detik yang di bawah udah nggak keliatan karena tertutup kabut 😖

Sudut baca di salah satu MRT stop

Pengalaman lain yang bikin gw geleng kepala; gw dan temen gw ke Kota Tua, cari tempat buat solat. Karena nggak liat masjid, tapi liat ada tempat yang diberi tanda "musola". Masuklah kita berdua. Begitu masuk, engap banget yaallah 😑 Nggak bisa nafas, panassss banget, airnya panas, banyak semut, kaki gw gatel banget di karpetnya. Nggak ada enaknya solat langsung buru-buru keluar. Itu pertama kalinya gw solat diburu keadaan. Biasanya tiap kali solat di tempat lain, selalu adem meskipun bukan masjid atau musola yang bagus.

Ya gw tau ini karena gw nggak tinggal dan hidup di Jakarta jadi gw gatau segimana menariknya ibukota bagi residen. Tiap kali gw dateng ke suatu tempat, seburuk apapun itu gw selalu bisa liat bagusnya. Gw belum nemu sisi itu buat Jakarta. Sama sekali. Ya mungkin suatu saat nanti, ntah kapan. Mungkin kalo gw udah nemu makanan-makanan yang enak kali ya 😎

Oh tuhan, semoga gw nggak akan pernah tinggal di Jakarta. Gw takutnya kalo gw terlalu benci biasanya malah dikasi tinggal. Satu hal yang selalu gw ucapin tiap kali pesawat mendarat di CGK, gw tarik nafas dalam-dalam, liat ke jendela dan berujar "Halo Jakarta, it's me, again!" Begitu juga ketika meninggalkan Jakarta, "Bye Jakarta, see you later!"

And hey! Salut yang mendalam bagi orang yang tinggal di Jakarta, untuk yg memilihnya maupun tidak punya pilihan 😉

Comments

  1. wahahaha mb pris...aku paham tuh sholat di musholanya area kotu kota tua...hihi...ya begitu deh hahhahaha

    jakarta, aku sempat tinggal di sana kurleb 4 tahun emejingly bisa...walau ya...bener bener harus beradaptasi dengan harga makanannya yang mahal hahahha...setelah di tangerang ya kadang ku kangen juga pengen main ke jakarta hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo berkunjung okelah yaaa kan ga tinggal di situ ya. aku juga kadang masih sering kangen Jakarta ga ada angin ga ada badai tetiba aja kangen. Tapi kalo udah di sana rasanya nyebelin juga apalagi kalo pas nggak hoki dan ketemu orang yg ga asik gitu hahahah

      mungkin itu juga kali ya pesona Jakarta :)

      Delete
  2. Sy akrab dengan Jakarta 2010-2019, ya begitulah Jakarta sesuai dan cocok.
    Dulu sy juga gak berniat, eh malah akhirnya harus merasakan kerasnya ibukota selama ini, walau akhirnya aku bs meninggalkan semuanya beserta kenangannya. Bye.

    Itu gedung yg putih² kayanya kalau gak di S.Parman, setelah Mall TA, itu ada bangunan mirip kaya gitu.
    Kalau gak ada lagi di Jaksel, Antasari itu juga kayanya ada bangunan mirip² seperti itu. Hanya mastikannya itu dimana, ya lupa² inget.

    Satu hal yg buat sy kangen Jakarta adalah moda transportasinya yg modern, ya Transj yg terus berbenah, MRT, LRT, KRL yang walaupun sering berjubel, tp itu yg tidak dpunya kota² lain di Indonesia.

    Ingin balik lagi? Ya sesekali oke, bwt stay rasanya tidak lagi deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. WOW 9 tahun di Jakarta? :O salut!!!
      Kyaknya emang love and hate-nya Jakarta ya. Kalau ditinggali itu menyedihkan, tapi kalau lagi ga di situ juga dikangenin haha.

      Tapi bener sih yang bikin kangen ini kota yang makin berbenah jadi mirip kayak di luar negeri kemajuannya. Nggak jauh sama metropolitan luar negeri, udah ada MRT, kereta bandaranya juga oke banget udah.

      Itu kayaknya si gedung putih malem itu waktu itu berhenti di metro sekitar pacific place, trus jalan dikit. udah lupa soalnya waktu itu jalannya cari makan saking lapernya haha! kayaknya sih nggak jauh2 banget dari Kuningan situ.

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Mengenal Nyai, Eyang Buyut Orang Indo Kebanyakan

  Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang darah campuran Eropa, saya pernah janji nulis tentang orang Indo dan Nyai, nenek buyut dari para Indo kebanyakan. Sekarang kita liat definisi dari Indo sendiri. Jadi Indo (Indo-Europeaan atau Eropa Hindia) adalah para keturunan yang hidup di Hindia Belanda (Indonesia) atau di Eropa yang merupakan keturunan dari orang Indonesia dengan orang Eropa (Kebanyakan Belanda, Jerman, Prancis, Belgia). Itulah kenapa saya agak risih mendengar orang menyebut Indonesia dengan singkatan Indo. Karena kedua hal itu beda definisi dan arti. Sekarang apa itu Nyai? Apa definisi dari Nyai? Nyai adalah seorang perempuan pribumi (bisa jadi orang Indonesia asli), Tionghoa dan Jepang yang hidup bersama lelaki Eropa di masa Hindia Belanda. Hidup bersama atau samenleven yang artinya kumpul kebo, tidak menikah. Fungsinya nyai itu apa? Fungsinya diatas seorang baboe dan dibawah seorang istri, tapi wajib melakukan kewajiban seorang baboe dan istri. Karena mem

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men