Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Abra Satu Dua Dirham

Abra 2 dirham

Konon diambil dari Bahasa Arab, abara yg artinya nyebrang. Abra ini ada di area Bur Dubai, salah satu tempat favorit kami karena ya suka aja ada di kota tuanya. 

Ada sungai kecil yg memisah daerah kecil di Dubai, yg ujungnya lari ke laut. Dulu sih gw nggak gitu suka naik Abra karena takut tenggelem wkwkw. Gw nggak bisa renang 😅 Trus kemarin ngide nyari tau seberapa dalam sih nih sungai. Ternyata 1-5 meteran kira-kira. Yang paling deg-degan ini pas naik turun abra karena goyang-goyang dan kadang masih ada jarak sekian cm dari abra ke apa sih sebutannya yang kayak jembatannya gitu. Kalau udah prosesi naik turun pasti gw fokus banget nggak bisa diganggu gugat.

abra satu dirham lagi docking.

Abra ini sekali nyebrang harganya 1 dirham aja, sekitar 4 ribuan lah. Sebenernya bisa aja nggak nyebrang sungai pake abra kalau mau ke tempat tujuan, tapi muter dan lama. Nyebrangnya juga sebentar aja kok, 5 - 10 menitan. Serunya naik abra ini bener-bener bisa menikmati gedung-gedung tinggi dari air. Iya, gedung-gedung tinggi, Dubai mah punya apa selain gedung-gedung bagus yang balapan tumbuh ke atas. 

posisi supir abra 2 dirham

posisi supir abra 1 dirham

pemandangannya, gedung-gedung tahun 80an lah kira-kira

Pertama kali gw naik ini, gw naik yg harga 1 dirham dibayar koin. Baru kemarin aja tau kalau ada yg harga 2 dirham dan bisa dibayar pakai Nol card. Bentuknya lebih ekslusif banget. Bayarnya tap kartu ketika masuk dan tap ketika keluar. Abra yg ini malah terkesan seperti abra ala turis. Padahal ya nggak juga. Ini juga sama buat nyebrang. Lebih nyaman juga. 

Bentuk abra 2 dirham

jarak duduknya "nempel" air jadi bener-bener kecipratan air banget

supirnya lagi istirahat

Tiap kali ke Dubai, selalu nungguin naik abra. Ga perlu alasan aja karena tiap kali ke Dubai creek, akan selalu ada aja hal baru yg diliat. Manusianya, pemandangannya, perilakunya, ada aja. Ada yang begitu naik langsung foto-foto ala influenser sampe turun. Ada yang gitu naik, kepanasan, eh tapi nggak gerak sama sekali macem lagi sunbathing aja. 

Dulu jaman tanpa covid, abra yang satu dirham ini bisa bener-bener dempet umpel-umpelan. Semunya pasti duduk karena ya bisa nyebur kalo nggak duduk. Tapi sejak covid, duduknya jadi dibikin lebih longgar dan pasti berjarak minimal 1 orang. 

Gw suka semua jenis abra, mau yang satu dirham yang dua dirham semuanya suka. Selalu gw bawa dompet koin buat jaga-jaga naik abra karena H juga males nyimpen koin tapi kalo mau naik abra bingung nyari koin.

Indonesia punya nggak sih sistem transportasi air macem gini? 😆

Comments

  1. Wah sungainya dubai bersih banget yah jernih jg...

    Klo indonesiabak ndak usah ditanya punya rranspor kayak gitu atau enggak,, yg perlu dutanyakan sungai dindonesia masih ada aernya atw enggak,, kering banget mbak... Mending tinggal di dubai ahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHHAHA iya juga ya. Atau, airnya bisa jalan atau ketutup sampah wkwkkwk. PAdahal kalau dieksplorasi bisa seru juga lho ya. Jalan-jalan ke daerah orang dan pake transportasi masal ala daerah itu juga bisa jadi cerita yang seru banget sih bagiku.

      Delete
  2. Menyenangkan sekali bisa keluar negeri #mao

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkkw iya menyenangkan apalagi kalau nggak perlu bayar hahahah

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

If Money Wasn't The Problem, What Would You Do?

In this extraordinary life, I would be a teacher still.  Helping people to understand even some little things to make them feel worthy and understand themselves better. It seems that teaching has become a calling for me. Not about teaching such specific subject like mathematics or so, but more like... I like to give new perspectives for people, and having them saying "Oh.... I see..." is satisfying for me. Of course, by teaching I can learn so many new perspectives from different people too. It's like the more I teach the more I learn, and that is so true. Maybe more like a guide. I like giving guidance to people who needs it. No, I don't like giving unsolicited guiding. I like to guide people who wants to be guided. I'd teach them how to love, love themselves first. Yea sure when we are talking about things, they would say "do useful things like engineering, plumbing, this and that" but they tend to forget that we need some balance in life. Not saying t

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini