Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Drama makan siang

Disclaimer : Tulisan ini murni pengalaman pribadi yang jujur dan tidak ada penambahan dan pengurangan, serta tulisannya dijamin jujur. Kalo bagus ya dibilang bagus, kalo jelek ya dibilang jelek.


Setelah check out dari acara konferensi akhir taun, kita langsung menuju tempat makan siang Djati Djoglo Lounge di Araya, Malang. Saya belum pernah kesini, dan lagi lokasinya lumayan jauh. Ini semacem Araya itu jauh dari jangkauan deh.


Nah karena baru pertama kali, kita mah nikmatin aja namanya juga dibayarin kantor ya. Pertama masuk langsung 'wow, great'. Emang tempatnya bagus banget, kece dan dibelakangnya itu ada kolam renang dengan pemandangan lapangan golf. Well.. I mean, ini bisa jadi lounge buat yang mau golf disana. Jadi ini benar menjual tempat. Tempatnya juga fresh banget. Suka banget sama tempatnya.









The lucky one, yang dapet kamera mirrorless inj



Teman berfilosofi, meskipun mukanya nggak wise, tapi omongannya selalu dalem dan bijak plus susah dipahami




Drama dimulai ketika starter mulai datang. Ok starter udah dateng sekitar 10 menit kita nyampek. Tapi minumannya nggak dateng-dateng sampe sekitar 30 menit. Haus lah. Muka muka laper, kalo masih disuruh nunggu makanan kok ya nggak etis ya. Setelah minuman datang, aku buka laptop. Pikirku sih makanan dateng cepet, tapi ternyata kok lama ya. Hampir satu jam belum datang, yaudah deh kerja bentar.




Saking asiknya kerja, nggak sadar aja makanan tetangga udah mulai datang. Kita ceritanya semeja orang 5, lah meja depan yang dibalkon udah dapet. Nengok lah kesana, 'Lho kok udah dapet sih? aku belom'. Ternyata meja seberang juga depan kanan juga belom dapet. Waduh sedih dong. Mulai senewen. Aku itu paling garang paling jahat pas laper, dibikin emosi. Kalo aja kanibal temen sendiri nggak dipenjara gitu paling aku udah makan temen sebelahku.

Mereka heran kok dimejaku belom dateng semua makanannya. Ada satu mbak yang deket sama aku dan mikir kalori, dia bilang 'Pris aku udah kebanyakan kalori, kamu makan ya setengahnya ayam aku". Okelah itu udah biasa kalo dia beli makan banyak pasti dibagi ke aku karena dia nggak mau kebanyakan kalori. Setelah piringnya mendarat di mejaku, kita makan lah bareng-bareng itu ayam. Eh beberapa saat kemudian banyak makanan datang ke mejaku dan itu kita makan juga bareng-bareng berlima. Sampe ada yang nyeletuk, 'Untung ya kalian mau dikasih makanan separoan gitu, daripada laper kan'. Dipikir-pikir juga iya sih, kita pada doyan juga makan makanan separonya temen. Apa-apa mau deh.




Satu jam setengah kemudian, makanan yang ada di mejaku mulai dateng satu demi satu, tapi bukan punyaku! Dan bukan punya satu rekan kerjaku. Wah nggak beres ini. Kita semua pada komplain makanan nggak dateng-dateng eh mereka bilang kalo keterbatasan waiters. Padahal kita semua udah dateng ketempat itu seminggu sebelum acara dan mereka konfirm bisa handle hampir 200 orang disana. Berarti indikasi no problem kan?

Ternyata manager-manager yang ada di bawah juga komplain semuanya. Mereka marah-marah. Aku gimana? Ya makin senewen gara-gara orderanku belom dateng juga. Tapi udah kenyang juga sih gara-gara makanan sumbangan. Sampai ada satu panitia bilang 'makanannya udah dapet semua kan?', ya simpel aja aku jawabnya 'mbak aku belom dapet, aku dari tadi disumbang orang-orang lho semua makanan disini'.

Setelah 2 jam menunggu, panitia bilang, 'siap-siap ya jam 3 kita balik'. Lho lah makanan aku aja belom dateng kok. Tapi untung panitianya sigap, dia langsung suruh waiternya buat take away, karena emang udah dibayar sih. Waiter kita panggil, aku mendadak jahat 'Mbak, saya udah nunggu 2 jam lho dan makanan saya belom dateng. Ini yang dimeja ini semua makanan dikasih dari meja lain lho. Gimana sih'. Si mbaknya kroscek di listnya katanya namaku NGGAK ADA DI LIST. Minta digunting kuku nih mbaknya. Marah lah aku, untung aku hafal sih sama isi listnya jadi bisa langsung nunjuk. Dia langsung minta maaf gara-gara nggak teliti. Aku tak butuh maafmu mbak, aku butuh makananku!!!

15 menit kemudian makananku udah dibungkus manis. Kemudian dia dateng lagi kemeja nawarin es krim. Ya emang desertnya itu. Karena udah mepet jam balik, kita otomatis pengen makan es krimnya di bis dong. Biar praktis juga. Eh dia bilang 'maaf mbak, sendoknya nggak boleh dibawa pulang'. Emosi semua deh orang-orang. Hampir aja pake tagar #boikotMakanEsKrim dan kita ngomel-ngomel, akhirnya semua sendok diganti sendok plastik. Wong ya mereka provide sendok buat take away kok. Minta diomelin dulu baru dikasih.

Sendok fenomenal, kudu marah marah dulu baru dikasih sendok ini

Setengah dari piring kosong ini hasil sumbangan

Ngasih kritik boleh dong ya? Kritik membangun kok. Ya semoga aja mereka kalo nggak sengaja ini tulisan, tolong servisnya diperbaiki lagi ya. Orang kalo laper itu jadi jahat lho mbak mas. Bukan cuman saya aja kok yang gitu. Jangan pakai alasan kekurangan staff. No no, we came to be happy. Kita cuma mau punya happy tummy. Soal makanan, not bad lah. Cukup enak kok, kisaran harga kabarnya yang bikin PO sekitar 70-80ribu untuk menu utama. Viewnya, kece deh. Suka banget. Minusnya ya di servisnya yang lama aja.

Note : sebagian besar foto disini diambil menggunakan mirrorless hadiah, sisanya iphone lawas.

Comments

  1. Elaahh... sembur api wae.....

    Aku yo podo mbak, nek ngeleh hawane pengen nguntal wong, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya emang smua orang laper itu nggak boleh nunggu kali ya haha

      Delete
  2. Aku kan pengangguran kenapa tidak menggunakan jasa tenagaku saja ya ? Keterbatasan waiters tidak akan terjadi, selama itu ada aku. Karena aku kerjanya gesit, urusan makan sisa teman, itu nomor satu ku juga. Yang penting kenyang. Apalagi ,jatahnya datang juga akhirnya. Tambah buncit perutku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nahhh harusnya mas bumi disitu tuh siang itu. Lumayan kan aku ga perlu nunggu 2 jam lebih kann

      Delete
  3. tempatnya bagus banget itu mah mba.. makan siang jadi kayak piknik kalau pemandangannya kayak gitu mah. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya tempatnya emang bagus bangettt, malah kata temen kalo malem jauh lbh bagus lagi. tp ya gitu sayangnya cuman satu, servisnya agak lama hohoho

      Delete
  4. makanannya lezat... membuat lapar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kalo liat gambar itu lagi aja jadi laper dan kebayang2 onion ring-nya hahah

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

If Money Wasn't The Problem, What Would You Do?

In this extraordinary life, I would be a teacher still.  Helping people to understand even some little things to make them feel worthy and understand themselves better. It seems that teaching has become a calling for me. Not about teaching such specific subject like mathematics or so, but more like... I like to give new perspectives for people, and having them saying "Oh.... I see..." is satisfying for me. Of course, by teaching I can learn so many new perspectives from different people too. It's like the more I teach the more I learn, and that is so true. Maybe more like a guide. I like giving guidance to people who needs it. No, I don't like giving unsolicited guiding. I like to guide people who wants to be guided. I'd teach them how to love, love themselves first. Yea sure when we are talking about things, they would say "do useful things like engineering, plumbing, this and that" but they tend to forget that we need some balance in life. Not saying t

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini