Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Mister, Selfie!

Aku sih sering baca-baca blog atau denger pengalaman mixed couple terutama orang Indonesia dengan orang ras kaukasoid tentang bagaimana mereka, terutama yang pihak Indonesia-nya, menjadi korban jadi tukang foto pasangannya yang diajak foto orang Indonesia terutama cewe-cewe, atau kalo nggak dikira tour guide. Sekian lama menjalin hubungan dengan orang ras ini, belum pernah lah aku mengalaminya sampai ketika hari itu ketika makan siang, segerombolan anak SMP dengan lantangnya teriak : 

Mister, Selfi!!

Pertamanya sih nggak ngira eh ternyata bakal ada orang yang minta selfi sama HJ. Karena selama ini seringnya HJ yang suka gangguin orang selfie. Bahkan pas di pesawat terbang ke Lombok kemaren, ada newlywed dibangku seberang selfi yang akhirnya kena HJ, eh dia malah ikutan pose dan mereka berdua nggak sadar sampai akhirnya pas liat hasil fotonya. dan akhirnya mereka berdua ngajak HJ selfie juga 😯

Nah, anak-anak SMP ini begitu denger HJ bilang 'Ok, come on', langsung ehh pada seneng bener. Langsung ngerubungi HJ. HJ nggak mau dong ketinggalan juga, dia ngeluarin hapenya dan minta selfie di hape dia juga. omegot!

Awalnya HJ ngajak aku juga buat selfie, duhh ya nggak laku lah eike. Secara kulit eike coklat sensasional begini. Mereka kan maunya selfi sama yang kulitnya putih.

Belum selese kok kegaduhan si anak-anak SMP itu, mereka nyamperin meja kita minta selfi lagi. Kali ini saya yang diminta pegang hapenya. Jadi selfi dari arah saya gitu. omegot ini anak-anak. Oke lah ya, yaudah deh nggak apa-apa. Eh udah gitu mereka sok akrab lagi sama kita. Sama aku terutama gara-gara mereka nggak bisa bahasa inggris. Pake acara dorong-dorong segala. Duhh..

Nah, akhirnya kan makanan kita dateng ya. Begitu mereka balik ke posisi mereka semula, HJ bilang 'Wah harusnya aku juga minta hasil fotonya yang dari hape mereka'. Ini apapulaaaaaaa 😵😴😲😱😫😩😠😨😟😞

#PengalamanPertama 

Comments

  1. ya ampun dimintain selfi udah kaya artis aje ye

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, brasa artis dia. Akunya yang brasa tour guide. Sedih deeh

      Delete
  2. Dikit2 cekrek ya mba.. hehe
    Kasihan yang dibelakang itu gak keliatan.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha biarin yg dibelakang ga kliatan #DendamGaraGaraGakDiajakSelfie

      Delete
  3. Kok gak pernah ada yang ngajakin aku foto yah...

    *toyor pala*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahl masnya pas kesurabaya kalo bilang ya nnti ak ajak selfie lho. Masnya ga bilang sih

      Delete
  4. Halo mbak...mau tny, mbak udh bkin prenup belum ya? Soalx sya jg mau nkah ma org blnda dan gk tau cri notaris disurabaya dmn. Mksih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa cek di komen sebelumnya ya mbak 😄
      Kita pengennya ga bkin, tp UU nya kayaknya belom direvisi ya ☹

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men