Skip to main content

Merah Putih

Gw sama Indonesia itu ibarat dua sejoli dalam love and hate relationship. Gw terlahir di tanah yang diperjuangkan orang-orang terdahulu. Nggak keitung berapa juta nyawa hilang untuk itu. Gw bersyukur gw nggak perlu lagi bawa bambu runcing untuk merebut negeri ini dari tangan penjajah. Sejak sebelum nikah gw mulai "berteman" dengan birokrasi dua negara. Birokrasi dari Belanda, tentu saja tidak seribet birokrasi di negeri ini. Segala macam email akan segera dibalas dan dibantu untuk dihubungkan ke pihak terkait atau yang menangani itu. Bahkan untuk permintaan Schengen visa tipe kunjungan keluarga di masa pandemik ini diberikan high priority dan email dibalas dalam sekejap. Sedangkan di Indonesia, aaahhh yaaa gitu dehh.

Tapi, nggak akan pernah gw pungkiri tiap kali gw denger lagu Indonesia Raya gw selalu mewek. Tiap kali liat bendera Indonesia, gw diam sebentar  berterima kasih atas nikmat bisa tinggal di negeri ini tanpa perlu memegang senjata. Gw bener-bener marah saat suami g…

Jadi WNA?



Ada beberapa pertanyaan dari teman, beberapa kolega, saudara, dari hubungan saya. Ya mungkin karena ini baru bagi mereka kali ya. Macem-macem pertanyaannya sampai menanyakan soal kewarganegaraan. Kalau yang sudah paham, pertanyaannya akan ‘Tapi kamu nggak lepas kewarganegaraanmu kan Pris?’. Bagi yang nggak paham dan ingin tau, pertanyaannya menjadi ‘Aku boleh tau nggak nasib kewarganegaraan kamu setelah menikah?’. Kalau orang sok tau tapi pengen kepo, pertanyaanya begini ‘Wahh, kamu bentar lagi jadi WNA dong ya?’

Pertanyaan mana yang sering? Yang paling buncit. Itu antara sok tau tapi pengen kepo, apa Cuma sekedar basa basi, atau gimana juga kurang paham ya. Yang pasti sih buat yang beneran peduli atau ingin tau, nada pertanyaan berbeda. Bahkan salah satu kolega mau nanya aja sungkan. Sampai bilang ‘Pris ini aku pengen tau banget sih, tapi kalo kamu nggak mau kasih tau juga gapapa kok’. Mungkin dia penasaran juga kali ya.



Menikah dengan WNA tidak membuat kita seketika menjadi WNA. Kita memang akan kehilangan beberapa hak kita sebagai WNI, tapi tidak serta merta membuat kita menjadi WNA. Ya kaliiii langsung jadi WNA, bisa abis otomatis ini kayaknya warga Indonesia. Wong banyak yang nikah sama orang asing. Memang sih ada beberapa Negara yang bisa memberikan kita paspor negaranya jika kita menikah dengan seorang warga dari Negara itu, yang saya denger sih Irlandia begitu. Tapi kan nggak semuanya. Prosedur menjadi warga Negara asing itu nggak gampang. Han Yoora aja yang udah belasan taun tinggal di Indonesia dan memohon menjadi WNI aja masih belum disetujui kok. Tau Han Yoora nggak? Itu tuh yang pernah main di Kelas Internasional.


 Tapi ada yang saya heran nih, kenapa pertanyaannya selalu ‘Kamu jadi WNA?’ bukan ‘Suamimu nanti jadi WNI?’. Kenapa ya? Apa karena hak wanita dipandang selalu mengikuti lelakinya? Nggak tau juga sih.

Nah karena saya nggak akan dobel kewarganegaraan ataupun otomatis pindah kewarganegaraan, anak saya yang akan memegang dobel kewarganegaraan. Double citizenship holder nantinya dia sampai usia 17 tahun maks 21 tahun, yang kemudian dia harus memilih. Inipun dulunya, hukumnya si anak ngikut kewarganegaraan bapaknya. Hukum double citizenship ini baru aja lahir beberapa tahun yang lalu. 

Yaudah jelasnya, nggak bakal jadi WNA dengan tiba-tiba kok. Nggak akan pindah kewarganegaraan, paling cuman nambah 'rumah' aja 😍

*Denger-denger Prenup tidak lagi diwajibkan untuk pelaku kawin campur as per 28 Oktober 2016, tapi kok sampe saat ini nyari infonya nggak nemu ya ini bener apa nggak, ini udah deal apa belom. Plisssssss jangan bikin saya frustasi.
**Tetiba pengen bikin pre-wedding photo haha random banget sih

Comments

  1. Mas bule orang kompeni bukan sih? Setau gw kompeni jg gak mengakui double citizenship. Yang bisa dobel ya anaknya. Tp kan tetep, nanti ujung-ujungnya musti milih salah satu.

    Prenup? Ah elah itu ribet banget ngurusnya. Eh bukan ngurusnya sih, tapi apa yang musti dicantumin, wkwkwk. Coba tanya notaris aja. Yang bikin ginian kan notaris. Gw gak begitu mudeng. Ibu sih, sukanya yang impor. Kalo saya kan lokal, jadi gak pake prenup, wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Malahan aku baru tau kalo irlandia mengakui, tak kira smuanya ga mngakui dobel citizenship haha

      Nah kemaren pas sumpah pemuda katanya uda ditandatanganin kalo ini mixed couple ga wajib prenup. Tapi tapi kok ga ada keterangan lebih lanjutnya, jadinya kita sepakat aja bikin. Skrg lagi ribet riweh cari notaris yg paham, ga smua notaris tau soale. Dan jelasnya yg murah, masa ada yg sampe USD 2000. Gila kan?! Bisa DP mobil udah haha

      Delete
    2. GILA ! 2000 DOLLAR???

      Mahal banget????


      Oh, kirain orang Belanda. Kalo Irlandia, British, Amerika, Australia, Perancis, emang boleh dual citizenship. Timor Leste aja boleh loh. Hanya negara tertentu saja yang boleh dual. Kalo India setau gw juga boleh, tapi yang keturunan dikasih KTP khusus bukan paspor. Jadi dengan punya KTP khusus itu mereka bisa bikin rekening, beli properti, bebas visa seumur hidup, dll. Tapi mereka gak punya hak dalam memilih di setiap pemilu.

      Kenapa yah Indonesia gak niru India? Kan mayan, keturunan Indonesia kan banyak, mereka pasti nanti pada beli properti di sini, bikin rekening di sini, kan pendapatan buat negara tuh. Tapi emang setiap negara punya kebijakan masing-masih sih. Gak bisa disamaratakan.

      Delete
    3. Belanda massss belanda. Merah putih biru hahaha

      Iyo mahal bgt. Apa krn indonesia masih ribet urusan birokrasi jdinya mempersulit hal yg gak seharusnya dipersulit? Mau ngurus aja mikir2, kalo nikah di singapore aja gampang. Orang luar bs dg gampangnya apply buat nikah ga babibu

      Ktp khusus itu macem kitas ato kitap begitu? Aku ga paham sih kl disini, nanti jelasnya dia punya kitas trus di upgrade kitap

      Pengen halal aja ribet bener hahah

      Delete
    4. Btw ada kenalan notaris yg bs bkin prenup murah dan legal gak? Haha aku frustasi nemu dket tp mahal, jauh tp murah. Ribet bet

      Delete
  2. Aku hanya bisa mangut-mangut tanda tidak paham urusan ginian. Mau koment juga bingung. Intinya jalanin saja, banyak kok temanku yang kini menetap diluar negeri semisal jerman. Dan hidupnya bahagia, dan aku pernah dikasih kartu pos ciri khas asal suaminya.
    Ada juga temanku di Autralia dan hepy juga.
    Pertanyaan yang kadang tidak perlu dijawab.

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar. 
Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa menaw…

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?' 'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik'
Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_-



Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya.

Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kalau novel ini ri…

Pake Jenius

Beberapa waktu lalu sering liat counter Jenius di Matos, yang lalu kutemui pula di MOG. Anak Malang tau lah dua mall ini. Nah udah cari info sana sini ya, kok kayaknya asik gitu. Jadi memberanikan diri untuk sign up. Apakah perlu kujelaskan fitur dan fungsinya secara mendetail? Karena sudah banyak tercecer informasinya di internet. Nggak ah, gw mau bahas pengalaman gw pake kartu ini selama sebulan ini.

Sign up lah aku di counter MOG (ya gusti kejebak lagi gw pake nambah kartu-kartuan begini). Kemudian, berkatalah mbaknya "Transfer aja mbak satu juta kesini, kita lagi ada promo kalau transaksi pertama kali satu juta akan ada free kartu member starbucks dengan saldo 50ribu. Lumayan lho mbak Starbucks". Gw nggak fanatik Sbucks (cuma kalo harus beli Chai tea selalu kesini). Dan tanpa sadar pun gw transfer sejuta ke akun jenius gw. Because, why not? Lagian juga mindah duit gw sendiri ke rekening yang lain kan? Nggak ilang duit juga.

Jadilah kudapat kartu Jenius beserta k…