Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit. Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya. Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego. Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...
Ada beberapa pertanyaan dari teman, beberapa kolega, saudara, dari hubungan saya. Ya mungkin karena ini baru bagi mereka kali ya. Macem-macem pertanyaannya sampai menanyakan soal kewarganegaraan. Kalau yang sudah paham, pertanyaannya akan ‘Tapi kamu nggak lepas kewarganegaraanmu kan Pris?’. Bagi yang nggak paham dan ingin tau, pertanyaannya menjadi ‘Aku boleh tau nggak nasib kewarganegaraan kamu setelah menikah?’. Kalau orang sok tau tapi pengen kepo, pertanyaanya begini ‘Wahh, kamu bentar lagi jadi WNA dong ya?’ Pertanyaan mana yang sering? Yang paling buncit. Itu antara sok tau tapi pengen kepo, apa Cuma sekedar basa basi, atau gimana juga kurang paham ya. Yang pasti sih buat yang beneran peduli atau ingin tau, nada pertanyaan berbeda. Bahkan salah satu kolega mau nanya aja sungkan. Sampai bilang ‘Pris ini aku pengen tau banget sih, tapi kalo kamu nggak mau kasih tau juga gapapa kok’. Mungkin dia penasaran juga kali ya. Menikah dengan WNA tidak membuat kita seketika ...