Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Belajar dari kematian



Kematian selalu datang tiba-tiba tanpa kita bisa memperkirakan kapan. Kematianpun memberikan satu cerita yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita yang masih berjuang dengan kerasnya kehidupan. 

taken from internet

 Beberapa waktu yang lalu seorang teman kehilangan ibunya. Ibunya yang diketahui tidak menderita sakit apapun, tidak ada riwayat sakit sama sekali selama hidupnya, tiba-tiba mengalami gagap. Seolah sulit bicara. Bisa sih ngomong tapi harus dipandu. Jadi syaraf diotaknya seperti mesin, tidak bisa mengungkapkan isi hatinya.

Mendapatkan cerita itu, saya pun berpikir ‘apa ndak stroke itu? Atau masalah syaraf dimana gitu kek. Aneh aja kalo tiba-tiba gagap. Karena itu udah pasti ke syaraf’. Teman tersebut mengatakan ‘nggak apa-apa kok, kata dokternya cuman terlalu sering terpapar kipas angin jadinya kulitnya ketarik kebelakang dan mulutnya nggak bisa ngomong’. 

Kok saya merasa ada yang janggal ya disini. Ah sudahlah semoga baik-baik saja. Padahal saat itu kami semua menyuruhnya membawa ibunya ke rumah sakit, ke dokter spesialis. Tapi dia bilang nanti nanti dan nanti. Akhirnya tuhan berkata lain. 

Ibunya yang akan dibawa ke dokter spesialis hari senin malam, terjatuh dari motor yang dikendarainya hari senin siang. Tau kan Surabaya panasnya gimana? Hari itu panas bener-bener menyengat. Si ibu jatuh setelah mengendarai motornya, dan sepertinya kepala bagian belakangnya trauma. Sesampainya dirumah, si ibu muntah dan pingsan. 

Dibawa ke rumah sakit dan segera masuk ICU. Kita baru berkesempatan menjenguk hari rabunya. Nggak tau kenapa saya jadi ikut nangis mendengar cerita si mbak. Karena saya teringat kakek saya. Kakek yang paling dekat dengan saya. Dan juga ingat nenek saya yang setaun lalu juga mendadak masuk ICU. Bedanya, nenek saya sehat kembali walaupun sempet bikin gempar mas-mas ICU gara-gara nenek minta dibawain bedak sama lipstiknya (tampil maksimal adalah kewajiban meskipun sakit). Sedangkan si ibu ini, satu jam setelah kita jenguk, beliau meninggal. 

Apa kata dokter spesialis? Si ibu menderita pendarahan batang otak. Jadi ada yang terpapar di kepala bagian depan, yang menyebabkan stroke seluruh tubuh. Dan ada yang terpapar bagian belakang kepala yang menyebabkan kematian mendadak. Itu kata dokternya. 

Si dokter berkata jika si ibu termasuk kuat bisa bertahan dalam keadaan koma selama 3 hari dalam kondisi pendarahan batang otak, yang mana biasanya hanya perlu waktu beberapa jam saja bagi penderita untuk bertahan. 

Si mbak bercerita kalau dia menyesal sering membentak orangtuanya, seringkali membuat sedih ibunya. Masih belum bisa membahagiakan ibunya. Karena memang semua begitu mendadak dan kita memang tidak pernah tau kapan hal itu datang.

Mungkin tuhan sedang mengajarkan kita satu hal. Satu atau beberapa hal tentang kehidupan dan kematian. Karena memang benar, kita akan merasa sangat kehilangan seseorang ketika orang itu tiada. Moral value-nya, jangan sia-siakan apa yang ada dan orang-orang yang ada disekitar kita. Karena ketika kamu menyesal akan satu hal, tidak akan mudah bagimu untuk memaafkan diri sendiri.  




and I miss you my grandpa, still hope that you are here to see me now. I will always miss you...

Comments

  1. Kematian...

    Sesuatu yang tidak bisa tidak harus kita hadapi...

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Snailmail

I signed up in an international portal since I was at high school. I was a quiet one, not much talk especially with stranger. But since that day, I feel myself get easier to talk to strangers. In that portal, there are several options why you join there, including 'flirting', that is shown on the optional boxes. And I found something interesting, snailmail. I never heard about this before, but I thought it is like a mail that goes slower because snail always walking so slow. Then someone chatted me and told me that she want to snailmail. I asked her what is that and she said 'it is postcard swapping'.   was taken at Museum Angkut years ago. taken using my old unique phone Wow.. postcard swapping.. my granny and I did it long time ago before mobile phone was invented. Well I mean before we all use mobile phone to connect to each other. I have family in The Netherlands, and we only have a phone, if we call them using home phone it would cost a lot for even few minu...

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...