Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Cerita Gowes Bareng Jogja Bike (1)

 

Salah satu tujuan yang harus tercapai ketika mengunjungi Jogja kemarin adalah GOWES di Malioboro. Itu semacem ga bisa nggak deh pokoknya kudu gowes, sendirian ya gak masalah wis.

Terus kan sebenernya tujuan ke Jogja kemarin adalah Ujian Bahasa Korea tapi kita punya ekstra 2 hari sebelum ujian. Emang sengaja nyisain waktu buat liburan tipis-tipis. Gw kesana bareng pengajar Korea (Maya) tentunya dan juga pengajar Bahasa Inggris (Mbak Trias). Mbak Trias butuh hiburan, doi tepar gegara jadi anggota KPPS sehari sebelumnya. Jadi pas dateng tiba-tiba ngerasa sakit.

Malemnya kita cari makan, eh doi malah mual-mual masuk angin. Duh masa iya jauh-jauh ke Jogja tapi berakhir di kasur aja? Nah pas jalan pulang, kan dicegat mas-mas Jogja Bike ini ditawarin sepedaan. Gw sih OKE banget kan, tapi si mbak ini menolak dengan dalih lagi sakit. Trus gw rayu-rayu dia biar ikutan gowes itung-itung cari keringat gitu biar cepet bisa sendawa dan anginnya keluar ntah lewat lubang manapun oke lah. Long story short, doi mau ikut gowes. Jadi kita bertiga gowes bareng.

Oh ya, ada beberapa hal yang kita rasa bisa komplain ke Jogja Bike ya. Kondisi sepeda agak goyang yang mana ketika mengayuh itu terasa kali goyangan tidak stabilnya. Kemudian remnya juga rada alot dan nggak begitu pakem. Kondisi ini akan sangat mempengaruhi orang yang jarang bersepeda (jadi krasa terus mau jatuhnya).

 

Tuhan, disitulah gw ngerasa kalo spion tuh butuh. Ga peduli buat sepeda apapun ya, akan lebih baik kalau sepeda disana ada spionnya biar ga jereng mata ini kalo mau belok atau nyebrang.

Gw sangat suka sekali dengan konsep bersepeda ini. Sayang sekali, program yang baru berjalan mungkin setahunan ini sudah harus mengalami minus sana sini. Aplikasi kemarin agak percuma karena scanner sepeda rusak jadi harus di scan manual. Mengembalikannya pun harus ke tempat meminjam sepeda juga karena rusaknya penyimpanan database ini (sebetulnya bisa dikembalikan ke tempat lain).

Oh ya aplikasinya namanya InaBike. Baru ada di Jogja juga Bali. Semoga kota lain ikutan juga ya ada InaBike ini. Asik soalnya.

Harga sampai lebaran masih gratis. Tapi semoga setelah berbayar, mereka pun akan berbenah. Karena hey! Program ini bagus banget lho, saat males jalan muter Malioboro kita punya opsi lain untuk mengayuh sepeda sepanjang Malioboro (atau seputeran Malioboro). Cobain deh kalau ke Jogja 😊

Comments

  1. Gak ilang dimaling tuh sepeda? Secara barecode aja udah gak berfungsi. Gw yakin gps nya juga udah mati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmmm kujuga tidak tahu. apakah aku harus jaga disana malem hari? wkkwkw
      itu digembok sih kayae ya. haruse digembok sih, kl ga digembok yo wasalam wes

      emg sayang bgt sih scanner e rusak dan beberapa sparepart nya sepeda juga kurang sip. smoga aja ada perbaikan ya. soalnya asik lho jalan2 naek peda pancal gt. ngurangin polusi juga

      Delete
  2. Jogja, meskipun jaman sekarang udh modern tapi masih segar dan sehat kotanya kayak dulu. Gak kaya Jakarta yg udah banyak polusi kendaraan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih bisa nemu seger di Jogja sih daripada Jakarta ya :D

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Gojek ke bandara juanda

While waiting, jadi mending berbagi sedikit soal gojek. Karena saya adalah pengguna setia gojek, saya pengen cobain ke bandara pake gojek. Awalnya saya kira tidak bisa *itu emang sayanya aja sih yang menduga nggak bisa*, trus tanya temen katanya bisa karena dia sering ke bandara pakai motornya. Nah berarti gojek bisa dong?? Sebelum-sebelumnya kalo naek gojek selalu bayar cash, tapi kali ini pengen cobain top up go pay. Minimum top up 10ribu. Jadi saya cobain deh 30ribu dulu. Eh ternyata lagi ada promo 50% off kalo pake go pay. Haiyaaaaa kenapa ga dari dulu aja ngisi go pay hahaha. Dari kantor ke bandara juanda sekitar 8km. Kantor saya sih daerah rungkut industri. Penasarannn banget ini abang mau lewat mana ya. Tertera di layar 22ribu, tapi karena pakai go pay diskon 50% jadinya tinggal 11ribu. Bayangin tuhh... pake bis damri aja 30ribu hahaha. 11ribu udah nyampe bandara. Biasanya 15ribu ke royal plaza dari kantor haha. Lagi untung. Bagus deh. Nah sepanjang perjalanan, saya mikir ter