Skip to main content

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Catatan Kuliah (1) : Memilih kampus dan jurusan

 

Jadi begini saudara saudari, ini adalah tulisan dari seorang manusia yang sudah merasakan 9 semester kuliah di kampus negeri di kota Malang yang yaaaaaa secara rank sih bagus, diperhitungkan lah di dunia pendidikan (a.k.a ngajar dan kawan-kawannya). Tiba-tiba ingin menulis nostalgia masa kuliah dan cerita di dalamnya. Nggak tau sih bakal konsisten apa nggak tapi diusahakan konsisten soalnya kok kayaknya seru dan mungkin bisa kasih tips buat para siswa yang bingung mau pilih kampus dan jurusan.

Tahun 2009 adalah tahun dimana gw harus memilih kampus dan jurusan. Tapi, gw yang anak pertama nggak tau apa-apa soal kuliah ini tiba-tiba aja disuruh babe sekolah di almamaternya dulu dengan harapan gw bakal jadi guru di sekolah. Ya saat itu menjadi guru di sekolah bukanlah pilihan diri (sekarang pun nggak), tapi lama kelamaan mengajar menjadi hobi (yang tentunya kemudian dibayar juga dong). Yah jadi suruh masuk kampus babe, dengan jurusan yang babe ambil juga. Babe gw gitu amat ya ama gw dulu 😏 Ingin hati milih jurusan elektronika di kampus depan kampus gw, karena gw demen banget bikin alat elektronika kebakar, ada passion lah disana. Eh tapi nggak boleh dong, padahal babe juga orang elektro. Padahal juga si babe itu setaun sebelumnya rekomendasiin gw ambil elektro karena doi denger anak temennya jurusan elektro kerja di perusahaan multinasional dan gajinya gede. Kemudian tiba-tiba gw disuruh jadi orang yang humble aja gitu masuk matematika. OH KALKULUSSSS!


Yasudah lah toh nanti juga bakal ketauan kan gimana kedepannya. Karena ndak mau jadi guru akhirnya jurusan yang gw pilih adalah matematika murni keduanya. Gendeng kan!!!! Babe nggak tau dong, sampe pas ujian babe nanya "pilihan pertama pendidikan matematika kan?" Kagak be! Elah. Kemudian si babe nanya lagi "tadi ujian gimana? Bisa semuanya?" Gw jawab aja bisa. Bisa sih kalo cuma baca soal aja. Trus gw bilang kalo soal ujiannya yang matematika gw cuma jawab 2 doang, nomer satu sama nomer terakhir aja. Yang gw kerjain penuh cuma kimia aja (gw pinter banget kimia lho dulu). Disitulah babe mulai panik dan memikirkan rencana hingga browsing kampus-kampus swasta yang kualitasnya ok buat kuliah. "Pa, sante aja kali. Lolos lolos!!"

Sadar tidak sadar, hasil terhadap selalu itu dipengaruhi oleh pikiran kita sendiri. Jadi lebih baik mikir positif daripada negatif. Meskipun kadang secara akal kayaknya nggak nyampe LOL. Catet ya : alam bawah sadar akan mempengaruhi kita

Diterimalah gw di kampus ini dengan bayar SPP cuma 650 ribu satu semester, jurusan matematika murni (yang pada akhirnya membawa gw ke programming dan coding). Pengumuman tanggal 1 Agustus sepertinya karena gw inget banget ini kado ulangtaun diri gw sendiri, dan saat itu Mbah Surip meninggal. Inget banget gw liat liputannya di rumah makan sepulang daftar ulang dari kampus. Apakah gw ikut tes jalur tes nasional aja? Oh tentu tidak. 2 kali jalur mandiri gw ikutin dan gagal. Mandiri 1, SNMPTN (tes nasional), mandiri 2, tuhan emang tau kemampuan bayar kuliah gw jadi gw diterima di jalur nasional dengan SPP TERMURAH. Babe geleng-geleng kepala nggak nyangka gw bisa masuk kampus ini.

ceritanya nih ada yang nggambar, trus dibuang. kita ambil eh malah diedit

Kemudian masuk kelas, kesan pertama gw di jurusan matematika adalah "KAYAKNYA MATEMATIKA YANG GW PELAJARI GA GINI DEH???? KOK MATEMATIKA JARANG NGITUNG SIH? MALAH BIKIN PEMBUKTIAN KEK NULIS NOVEL AJA!!!!"

Ya Tuhan kejadian itu 10 tahun lalu ternyata.

bersambung tiap hari rabu ya biar gw nulis tiap minggu ...

Comments

  1. Matematika...
    Programming...
    Coding....

    Alamak....
    *mimisan
    *pingsan

    Aku juga sebenernya pinter matematika lho, kalo disuruh ngitung aku jagonya...
    Ngitungin utang temen2 yg minjem duit ke aku.. hahaha *apasihgajelas

    ReplyDelete
    Replies
    1. RAN YA TUHAN HAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHAHAHHAA itu juga aku pinter sih, satu sen aja diinget *ehhh

      Delete
  2. Hei mbaknya, saya juga masuk kampus negeri lewat jalur nasional dan bayar spp nya juga murah, 900 ribu ajah. Bandingkan dengan spp adek saya yang kampus negeri di jogja, yang katanya kampus elit ituh, tapi bayar spp nya 10 jutah -___-'

    saya masuk jurusan itung-itungan: akuntansi


    Gaweane ngitungi duit, duite wong maksute......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya murah kan ya kita dulu, adekku skrg 6-7jutaan satu semester hahahahhahahaha mahalllll.

      sedih nggak mas ngitungin duit orang aja? HAHAHA

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad

Catatan Kuliah (6) : Masuk bareng, keluar bareng (?)

Sanur Sebagai mahasiswa yang masih belum mengenal kerasnya kehidupan kala itu, kita berikrar "Kita masuk bareng kita juga harus keluar bareng." Naif? Iya tentu. Maklumin aja namanya juga mahasiswa baru kan. Maunya yang  flawless  terus. Tapi apa salahnya sih berdoa baik kali aja malaikat mengamini lol.  Ternyata, kenyataannya, tentu saja tidak. Iya kalau semua  setting  nya  default  semua mahasiswa tidak ada kesulitan yang berarti, dosen nggak resek, mahasiswa juga nggak resek, data nggak resek, pasti lulus bareng kita. Kehidupan perkuliahan keras di akhir hahaha Gw dari awal masuk kampus ngerasa kalo gw nggak akan lulus tepat waktu. Aneh ya, harusnya orang mikir lulus tepat waktu tapi gw udah ada feeling. Dan gw berusaha keras buat nggak terlalu jatuh dalam angka. Ya maksudnyaaaa karena gw anak minor komputasi jadi gw udah bisa tebak lah data yang gw pake pasti agak makan waktu. Jadi  range  kelulusan adalah 7 semester, 8 semester, 9 semester, diatas 9 semester. Temen gw ya