Skip to main content

If Money Wasn't The Problem, What Would You Do?

In this extraordinary life, I would be a teacher still.  Helping people to understand even some little things to make them feel worthy and understand themselves better. It seems that teaching has become a calling for me. Not about teaching such specific subject like mathematics or so, but more like... I like to give new perspectives for people, and having them saying "Oh.... I see..." is satisfying for me. Of course, by teaching I can learn so many new perspectives from different people too. It's like the more I teach the more I learn, and that is so true. Maybe more like a guide. I like giving guidance to people who needs it. No, I don't like giving unsolicited guiding. I like to guide people who wants to be guided. I'd teach them how to love, love themselves first. Yea sure when we are talking about things, they would say "do useful things like engineering, plumbing, this and that" but they tend to forget that we need some balance in life. Not saying t

Menengok Karya Blanco

Balinese woman - taken by husband in Ibu Susu cafe

Karena sendirian dan penasaran, berjalanlah kaki ini menuju Blanco Museum. Seorang daku yang ga paham soal lukisan (mertua gw pasti demen kalo dibawa kesini), mendatangi sebuah museum yang berisikan lukisan (?).

Ceritanya sih Antonio Blanco ini ke Bali sekitar tahun '52, kemudian Raja Ubud yang baik hati memberikannya sepotong tanah untuk dijadikan rumah dan studionya. Letaknya ya di tempat museum ini berada, di seberang Tjampuhan. Btw di Tjampuhan ini dulu si Walter Spies juga punya rumah yang akhirnya pindah karena udah terlalu "berisik" banyak pengunjung. Ubud ini sepertinya magnet buat pekerja seni banget (atau seluruh Bali?).


Blanco punya anak 4 dan yang mewarisi bakatnya cuma satu katanya. Dan Blanco meninggal akhir tahun 90an di usia yang cukup tua, sekitar 80 sekian. Coba kalau mau info lebih lanjut soal Blanco bisa datengi web nya aja disini. Nah apa yang kutangkap dari melihat fotonya Pak Blanco ini? Masih inget nggak film DKI yang ada orang pake topi pelukis gitu? Muka yang dilihat siapa yang kebayang siapa 😁


Nah, bagi yang belum tahu, Blanco ini lukisannya cenderung tentang kemolekan wanita. Konon pernah dibilang feminis. Sekilas membaca tentangnya, masuklah menuju galerinya. Btw tempatnya luas dan asri banget ya, tapi galerinya rada serem dan gelap. Typical galeri lukisan cuma agak lebih serem lagi sih menurut gw.

 gerbang menuju galeri

Sik, ada hal yang sungguh menggelitikku. Demi apapun gw ngakak dapet brosur itu. Setelah bayar, kita pasti dikasih tiket dan juga brosur kan. Udah tau kan kalau wanita Bali jaman dulu cenderung topless gitu? Hal itu juga yang merupakan sejarah bangsa kan? Tentang wanita tanpa penutup yang cenderung membiarkan dadanya terbuka dan terlihat dan hal tersebut totally normal. Dari sisi cerita sejarah sih mengatakan itu bentuk kejujuran. Tentang bagaimana si buah dada yang terlihat segar (terlihat tidak pernah disentuh) menunjukkan kejujuran tentang pemiliknya yang artinya orang itu bisa dipercaya (karena buah dada aja nggak disentuh orang berarti dia bisa menjaga miliknya dengan baik jadi bisa dipercaya, begitu katanya).

 

Nah, yang menggelitik itu adalah brosur menggunakan gambar wanita Bali jaman dulu yang topless dan disensor. Like, what?? Bagian payudara itu disensor pihak sana ya, bukan gw iseng sensorin sendiri. Gw belum bisa edit gambar yang disensor begitu.


Disensor. Mencoba kupahami mungkin karena ini untuk publikasi jadi harus disensor. Padahal di dalem mah isinya ginian semua. Tapi nggak terkesan porno sama sekali. Beda aja sih nangkepnya gw. Buat gw nggak porno, sensual iya. Tapi buat banyak orang bisa jadi porno ya. Ada ruangan yang katanya sih erotic room gitu. Jangan dibayangkan isinya kek kamarnya si Grey ya. Tapi ruangan ini isinya gambar pantat dan wanita masturbasi 😂 Gw cuma bisa bilang "wuw".
 

Di dalam galeri nggak boleh ambil foto ya. Karena gw anaknya nurut, gw ga ambil foto sama sekali. Sedikit gambaran aja, dalam galeri, sedikit pencahayaan. Jadi buat gw terkesan agak horor dikit. Tangga ke lantai duanya tangga ala rumah jaman dulu yang rumah orang kaya kek di sinetron gitu. Warna cat nya juga cenderung merah dan biru gelap ntah apa maksudnya. Di bandingkan dengan Museum Puri Lukisan, Puri Lukisan jauh lebih cerah pencahayaannya. Tapi lokasinya adem, seger gitu, karena rimbun.

Untuk harga WNI tiket masuk 35ribu rupiah, untuk WNA sepertinya sekitar 50ribu. Jadi apa yang kudapatkan dari kunjungan ke Blanco ini? Hmmm... hmmm... ku tak tahu 😂 Tapi ya udah sih, enak aja. Pulangnya gw beli es krim.

Comments

  1. Pris kenapa ke Bali ga info? kalo info kali kita bisa temu-temu

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehhh lahhhh tenang aja, ntar lagi aku pindah sana. ntar kopdar yes :D

      Delete
  2. Ya ampun mbak, baru tau kalo ada museum begituan di Bali. Dan itu kenapa di sensor? Yaolo...

    Mungkin buat kaum selangkangan, liat gambar tetek bisa ngac*ng kali yah, hahaha

    Sebenernya, segala sesuatu kalo dilihat dari sisi yang berbeda, maka akan menimbulkan perspektif yang berbeda. Kalo sampe terangsang cuman karena liat gambar, lukisan atau patung yang naked, emang otaknya kotor

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi anda termasuk yang mana? wkwkw
      emang susah sih kl udah dari otaknya yang kotor apa-apa bisa nyalahin orang lain. ibarat bunuh orang eh pisaunya yang disalahin :D

      itu mungkin disensor karena ntar takutnya buat koleksi para penghobi pornografi LOL

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men