Senin, 16 Desember 2019

Sesuai Platform kok


Pernah denger "sobat misqueen"? Frasa itu terucap pertama kali di twitter gegara kalo di twitter bacotannya seringkali menandai ketidakmampuan akan finansial. Gunanya, untuk menyindir pengguna instagram yang katanya suka "pamer" kekayaan.

Iya apa iya?

Jadi ibarat kata, pengguna twitter tuh cenderung nggak nampilin kekayaan atau bragging about being poor. Sedangkan instagram sebaliknya, bahkan konon sampai ada yang stress gara-gara nggak kuat liat postingan temen-temennya yang "hidup enak" atau sering liburan. Ya kali posting foto pas lagi susah berak, ya ngapain.

twitter for bacot

Kemudian gw jadi mikir, lah tujuan twitter kan emang buat bacot sekian ratus karakter sedangkan instagram kan untuk pamer foto. Masa kalo unggah foto selalu dibilang sombong? Terlepas dari niat sesungguhnya yang kita nggak tau ya. Tapi balik lagi kan tujuan platform yang dipakai ini apa. Foto yang bagus kan juga soal estetika. Ada yang suka dengan human interest photography. Ada pula yang suka dengan jepretan makanan. Ada juga yang suka dengan pemandangan alam. Ada pula yang suka selfie dan lain sebagainya. Wajar dong mereka berikan yang terbaik untuk menyajikan gambar yang akan diunggah. Atau biasanya sebagai preview atau teaser tayangan blog maupun vlog.

Di sisi lain, suami gw pake twitter buat kerjaan dia. Dia butuh berita kilat yang berhubungan dengan situasi keamaan karena itu kerjaan dia. Ada pula orang lain yang menggunakan twitter sebagai akun alter. Semacem di real life dia pendiam tapi ternyata vulgar. Ya nggak salah, selama tidak melanggar aturan apapun.

Gw pribadi nggak suka dengan ungkapan sobat miskin, kenapa? Karena gw percaya ucapan adalah doa. Kata-kata itu punya kekuatan yang nggak kamu duga bisa begitu kuatnya. Taun lalu sekitar bulan Mei gw doa "Tuhan, gw pengen pindah ke Bali taun depan. Kasih jalan Tuhan." Juni setahun kemudian gw udah pindah aja ke Bali. Gw percaya kalau kalimat yang kita ucapkan secara sadar maupun tidak akan membawa dampak personal and I chose not to say anything bad or things that I dont want that to happen.

instagram for pamer

Sama halnya dengan Linkedin yang kita update dengan CV terbaru. Segala jenis pencapaian di sana. Nggak mungkin cuma nulis "mampu menyelesaikan tugas dengan baik." Ya pasti ada bumbu-bumbu pemanisnya. Bagaimanapun juga yang membuat kita dilirik recruiter juga salah satunya karena penulisan bahasa di CV atau profile yang menarik. Kan lagi jualan bookk.

Perihal narasi yang mengandung sombong, yaaa itu diluar kontrol kita. Ada narasi yang kalem emang ingin membagi ilmu, ada pula yang sombong alus atau emang beneran sombong dan songong. Balik lagi, sosial media ya adalah media untuk "bersilaturahmi" via layar. Apa yang kita unggah dengan niat apapun akan mendapatkan reaksi yang tidak bisa kita kontrol. Tinggal sebijaknya kita aja lah. Perlu disaring kalau memang perlu. Ambil waktu sekian menit untuk mencerna dan nggak asal berbagi berita.

Siapa tau, eh siapa tau, dari penggunaan sosial media itu tadi bakalan bisa dipertemukan dengan jalan hidup yang selama ini dinanti-nanti. Tentunya dengan menggunakan kaidah bersosial media yang benar. Jaman sekarang apapun bisa ditemukan jejak digitalnya. Just, dont make it worse lah.

Jadi ya santai saja 😉
Share:

1 komentar:

  1. twitter iku gae mbacot, tapi lek IG pisan se story ne
    kalau IG feed ya eman ya Allah tolong
    tapi ncen kadang pamer foto ndek Ig serba salah kok
    jare penggawean dulin ae
    lah.....
    terus sing kate diposting kata kata mutiara ngunu
    yasalaam....

    netizen ncen maha benar wakakakaa

    BalasHapus

Share your thoughts with me here