Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Aturan Plastik di Bali

 

Seperti yang pernah terjadi, beberapa tahun lalu sudah ada aturan terkait penggunaaan tas plastik untuk belanja yang berbayar 200 rupiah. Iya sempet seneng banget akhirnya plastik berbayar meskipun murah banget (dan tentu sangat terlampau mampu membelinya). Tapi ternyata hangat seperti tahi ayam saja. Beberapa bulan setelah itu mereka membebaskan plastik berbayar tersebut.

Lalu, Pemerintah Bali memutuskan untuk sangat membatasi penggunaan plastik di pulau dewata ini tercatat sejak Januari 2019. Sempet (meskipun sedikit) agak skeptis ya, Ah jangan-jangan juga hangat-hangat tahi kucing juga. Dan... ternyata, sekarang Maret 2019, nggak ada pertanyaan "Mau pakai plastik?" di minimarket. Rasanya mulut ini otomatis menjawab "nggak usah plastik" tapi kok pas abis beli ada yang kurang, apa ya...

Ternyata, memang orang Bali tercatat taat dalam menjalankan aturan tanpa plastik tersebut. Beberapa minggu di Ubud ini, selain nggak pernah dapet plastik dari minimarket meskipun belanja banyak pun, sedotan di beberapa tempat pun sudah berubah menjadi sedotan bambu, stainless, atau paper straw (ini di Starbucks).

Btw soal Starbucks ini, sedotannya jadi dari kertas kan. Jadi jangan lama-lama kalo mau minum soalnya lebih dari 30 menit sedotannya bisa jadi bubur kelamaan di dalem air 😂 atau kalau nggak gitu udah nggak bisa disedot karena pas masuk di cup lid nya si paper nya jadi rusak nyunyut gitu haha! Trus soal cup lid, kemaren ke Starbucks yang di pusat Ubud, mereka pake cup lid yang bisa diminum dari situ tanpa sedotan (jadi lid nya mirip yang buat minuman panasnya, tapi ini buat yang dingin gitu). Unfortunately, gelas-gelas mereka masih dari plastik semua sih. Tapi ya great movement lah. Denger-denger di Surabaya juga udah ada Starbucks yang gitu juga.


Seorang teman yang hidup di Singaraja bilang kalau sekarang dia pun kesulitan menemukan plastik kresek jadi harus rajin beli dan bawa tas belanja sendiri. Seorang teman yang hidup di Denpasar pun pernah membawa plastik kreseknya sendiri (bekas beli sesuatu) tapi ditolak sama yang punya toko katanya nanti dia yang kena razia meskipun itu bukan plastik dari tokonya.

Dan, gw pun baru pertama kali dalam hidup gw kesulitan nemuin tas plastik buat ngirim baju kotor ke laundry. Sumpah demi apa biasanya ada di koper, di tas, di bekas kresek minimarket, jadi gw sempet bingung harus gimana nih bungkus baju-baju kotor ini. Nah gw punya paper bag kan, gw pake itu akhirnya dan paper bag gw dibalikin sama abang laundry nya. Jadilah gw bisa pake lagi kan soalnya gw nggak punya tas belanja yang gw bawa ke Bali.

Penggunaan tas plastik emang masih nggak bisa 100% dihindari dari kehidupan sehari-hari. Tapi bukan berarti nggak bisa kan substitusi dengan yang lainnya. Itu masalah kebiasaan aja. Oh ya, yang mau jalan-jalan ke Bali siapin tas belanjaan sendiri.

 
nggak nyesel beli tas ini, super gede enak banget semua muat kek tas sampah. 150 bath aja 😄

Kebayang gimana bahagianya gw akhirnya penggunaan plastik bisa dikurangi? BAHAGIA BANGET! Gw bangga banget sama orang-orang yang beneran taat patuh menjalankan aturan tanpa plastik ini. Sumpah bahagia banget! Perasaannya itu seperti "FINALLY!!!"

Serius, bayangkan orang satu pulau mengurangi penggunaan plastik, bisa berapa plastic waste yang kita kurangi? Itu kalau orang satu pulau, kalau orang dua pulau, tiga pulau, dan tujuhbelasribu pulau? Bruh, ada harapan untuk bumi kita!

So, let's keep doing this! I can, you can, we can! 💓

Comments

  1. Sesok-sesok gowo karung mbak, muat akeh nak nang indomaret. Sak mas-mase malah iso mlebu, wkwkwkwk

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Gampangnya Apply e-visa Rusia

Red square Jadi, WNI diberi kemudahan untuk ke Rusia. Cukup dengan apply e-visa yang bisa didapatkan dalam hitungan hari saja. Meskipun sudah sering apply e-visa, tapi e-visa Rusia ini agak unik formulirnya. Jadi sebelum apply, gw baca gimana caranya di sini yang amat sangat runtut dan mudah dipahami. Sebelum isi formulir online, ada baiknya siapkan foto 3.5 x 4.5 dengan background putih dulu. Setelah itu jangan lupa untuk beli asuransi. Karena agak kepikiran, gw putuskan untuk beli asuransi dari perusahan yang ada di sana. Asuransi yang gw beli dari sini . Tadinya setelah beli kok nggak ada info apapun, bahkan bukti bayar pun nggak ada. Tapi petugasnya cukup tangkas setelah gw email, gw langsung dapat asuransinya. Nomer asuransi diperlukan untuk mengisi formulir, jadi harus beli asuransi sebelum apply visa.  Nah, bagi gw, ini formulir baru kali ini dapat pertanyaan yang unik-unik semacam apakah pernah pelatihan militer, wajib militer, pernah pegang / punya senjata, bahkan sampai ...

Setelah Schengen Visa Ditolak Jerman

Bentheim Gw tau Jerman tuh emang meticulous banget, tapi gw nggak sangka bakal se- meticulous itu. Kira-kira bulan Maret gw apply Schengen via Jerman. Kenapa via Jerman? Karena Belanda nggak ada slot heheheee. Rencana perginya bulan April kalau nggak salah waktu itu. Karena suami ada libur tapi cuma pendek banget, dan dia pengen banget pulang ke sana, yaudah lah coba aja. Dapet antrian, mana bayarnya 700ribu pula 😅 lalu pergilah gw submit semua dokumen gw.  Gw bukan yang pertama kali mengajukan Schengen, jadi gw udah "tau" harus submit apa aja. Karena sebagai orang yang menikah dengan warga EU, kami berhak untuk tidak menunjukkan buku tabungan (yg penting tabungan pasangan yang EU yg ditampilkan), dll. Dengan ina inu, eh ternyata diminta surat kerja lah, kalau freelancer harus kasih tau bukti kerjaan juga. Gw rasa ribet ya karena nggak formal kerjanya, jadi ya udah gw tulis ibu rumah tangga. Itu juga masih harus bikin surat pernyataan siapa yg membiayai biaya hidup gw kala...