Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Catatan Kuliah (2) : Kampus swasta atau negeri?



Setelah minggu lalu menulis Catatan Kuliah (1), sekarang saatnya menulis lanjutannya. Jadi balik lagi ya ini bukan sok tau tapi pengalaman aja. Kali aja pengalaman gw ini bisa bantu kalian yang sedang galau.

Sebelum masuk kuliah, gw nggak segalau adek gw yang 3-4 tahun lalu masuk kuliah. Gw sebagai anak pertama yang informasinya kurang ketika sekolah SMA tentang perkampusan, ya ada informasi tentang kampus tapi kebanyakan adalah kampus yang swasta atau kampus yang memiliki ikatan dinas (STAN dan kawan-kawannya). Nah ITN (Institute Teknik Nasional), kampus swasta yang ada di Malang dulu sempet gw lirik karena gw bisa masuk tanpa ujian (LOL! Males banget ujian).

Kurangnya informasi yang masuk untuk pelajar SMA amat sangat membuat kebanyakan siswa SALAH masuk jurusan. Bukan karena salah masuk sebenernya ya tapi karena kurang aja literasi dan kurang mampu mengenali bakatnya sendiri.

Karena tidak semua siswa mendapat privilege untuk mendapatkan informasi dari sekolah maupun guru, jika memang ingin melanjutkan pendidikan carilah dulu kemauan dan kemampuan untuk melanjutkan. Entah itu kemampuan berpikir atau membayarnya.

Nah, adek gw sejak kelas 2 SMA udah galau banget bakal kuliah dimana. Bahkan dari kelas satu SMA pun dia udah rajin numpuk nilai bagus (YA KARENA EMANG DIA PINTER SIH), karena kalo nilai dia jelek dia bakal gulung-gulung di teras rumah takut diomelin mama. Ya tetep diomelin sih, abis malu-maluin udah gede nangis gulung-gulung gara-gara nilai turun 5 poin aja (sumpah ini nyata).

Adek gw mengincar teknik migas. Pokoknya mau ga mau boleh ga boleh harus masuk migas. 2 taun dia mikir migassssssss trus. Gamau tau deh pokoknya migas. Ga isa dibelokin juga. Dia nanya "Mbak, enaknya aku kuliah apa ya? Aku kalo nggak masuk migas, aku mau masuk matematika aja deh kek mbak sama papa" DEMI OPO!

Ya gw sih jawabnya... sebentar, dibikin dialog aja :

"Ya kamu maunya apa?"
"Migas mbak"
"Mampu otaknya?"
"Kayake ya mampu" Btw iya dia mampu kalo secara otak. Gw akui ini.
"Dimana?"
"Di xxx" Gw lupa kampusnya
"Trus prospek kerjanya gimana? kamu mau milih profesi apa?"
"Ya prospek kerjanya bisa di X bisa di Y bisa di Z, profesinya bakal A, nanti bisa B, ...." dia jelasin panjang lebar dan dia tau apa yang dia bahas
"Trus papa mampu bayar nggak?"
"Nah itu! agak mahal sih"

Tahun selanjutnya dia tiba-tiba belok jurusan "Mbak, aku mau ambil elektro!"
"LAH lu kata migas?"
"Ndak jadi, terlalu mahal kasian papa. Elektro aja"
"Dimana?"
"Masih observasi kampus"
Dia observasi beberapa kampus yang memiliki jurusan elektro . Kira-kira dimana kampus yang cukup bagus, yang nanti kerjanya itu nggak nyari tapi dicari, link kerjanya gimana.
           
Sebelum lulus SMA, dia diterima di ITS tanpa tes (lupa jurusan apa), tapi bersamaan dengan tes masuk kampus STTPLN jurusan elektro. Dia nanya gw enaknya dia ambil apa, karena dia yakin tes di STTPLN ini bakal lolos. Ya gw suruh dia mempertimbangkan dua sisi. ITS tentu banyak link, tapi kamu yakin nggak bisa langsung dapat kerja? Apakah ada link yang menghubungkanmu ketika kamu lulus? Gw sih yakin dia mampu kalau soal menyerap ilmu. Pertanyaan yang sama untuk STTPLN. Adek gw jawab "Kalau STTPLN ini nantinya kalau nilainya bagus terus akan ada kesempatan lebih mudah masuk PLN. Bisa juga masuk kelas kerjasama. Link untuk kerja lebih lebar dan terbuka..." panjang lebar dia jelaskan.

Beberapa hari kemudian pengumuman dan adek gw diterima di STTPLN. Dia nanya harus ambil yang mana dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut. Gw jawab "STT!"

"Tapi kan swasta mbak, di Jakarta lagi"
"Papa mampu bayar nggak?"
"Mampu"
"STT!"

Tadinya sempet berat si babe kalo anaknya sekolah jauh, trus gw bilang aja "Itu anak kalo disini-sini aja ya nggak berkembang lah. Biarin idup di kerasnya kota besar, biar ga manja, biar ngerasain perjuangan hidup. Anak itu mampu kok nyerap ilmu, kalo emang ada kerjaan setelah lulus yang menanti ya kan lebih enak. Prinsip itu kalo bisa kita yang dilamar kerjaan, bukan kerjaan yang ngelamar kita. Selama papa mampu bayar, biarin dia berangkat!"


Setelah dipikir-pikir (babe yang mikir), nanya ke sodara yang kerja disana juga kira-kira pandangannya gimana, akhirnya approved. Berangkatlah dia ke Jakarta. Dia buktiin kok kalo dia mampu dan dia memang layak. Mulai masuk hingga saat ini, dia selalu memegang posisi IPK tertinggi dan nggak hanya IPK aja yang tinggi tapi skill yang mumpuni juga. Kalo nggak ada skill mah, gw pasti jadi orang pertama yang nyinyirin dia 😏

Pesan gw ke dia sih selalu "Lu pinter itu keren, nilai selalu bagus dan skill mumpuni itu nilai plus. Tapi jangan sampe sosial lu jelek dan lu sombong hanya karena kamu diatas. Jangan pelit ilmu dan jangan jadi orang yang jengkelin". Dia aktif juga jadi asdos sampai saat ini. Skill juteknya dia juga sama kek gw kok, skalinya diganggu dia bakal skak mat!!! Gw bangga adek gw begitu 😂

Kampus swasta atau negeri sama aja yang penting bisa mengembangkan skill-mu dan juga memfasilitasi pengembangan dirimu, serta memberikan persentase tinggi untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah.

Bukan berarti ITS itu jelek ya guys, no, ITS itu one of the best university di Indonesia. Hanya saja dengan mempertimbangkan segalanya dan tetek bengeknya, pilihan jatuh ke STTPLN yang swasta. Terbukti juga di tahun-tahun terakhir adek gw kuliah, udah banyak kakak tingkatnya juga teman seangkatannya yang udah dapet job.

Intinya apa? Kampus swasta atau negeri itu tidak masalah. Jadi bukan status negeri atau swastanya tapi tentang kualitas yang ditawarkan kampus tersebut untuk menunjang kamu dalam memperdalam kemampuanmu dan proses hidup setelahnya.

bersambung ke episode selanjutnya ya ...

Comments

  1. Aku mileh kampus ndek emben bukan mana yang paling baik, tapi mana yang paling aku mampu dan mana yang paling murah bayar spp-ne, wkwkwkwwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. HUAHAHHAHAHAHAHAHAHAH Gimana yaaa?? sepertinya aku jg gitu deh :D

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Tentukan Jangka Waktu Investasi

Seperti Ganesha bukan? Dewa ilmu pengetahuan dan lambang kecerdasan. Favorit gw. Tapi ini speaker sih 😆   "Aku mau investasi" "Oke bentuknya apa dan berapa lama?" "Hmm ya pokoknya apa lah yang cocok buatku" Ya you kira I dukun? Selain menentukan profil resiko , acara yang perlu untuk dipikirkan adalah menentukan berapa lama jangka waktu investasi. Ada yang membagi kedalam dua kategori yaitu pendek dan panjang, ada pula yang membaginya ke tiga kategori yaitu jangka pendek, menengah, dan panjang. Nah kebutuhan ini hanya investor yang tahu. Tentunya tiap orang nggak bisa disamakan kebutuhannya.  Jangka pendek biasanya berkisar tidak lebih dari 5 tahun. Biasanya deposito dan obligasi dimasukkan dalam kategori ini. Biasanya yang jangka pendek ini selalu mendapat return pasti, karena selalu pasti jadi resikonya sangat rendah sekali. Kemudian jangan lupa untuk mengecek apakah return yang ditawarkan masih mampu untuk menghalau laju inflasi untuk beberapa tahun ...