Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?'
'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik'

Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_-



Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya.

Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kalau novel ini ringan. Filsafat sih tapi ringan sekali. Harganya juga murah hahaha. Secara garis besar, novel ini bercerita tentang obrolan anak kecil bernama Cecilia yang sedang sakit dengan malaikat dari surga bernama Ariel. Dialog mereka sebenarnya sederhana. Malaikat Ariel hanya menjawab semua pertanyaan polos Cecilia. Tapi pertanyaan Cecilia yang membuat saya berpikir. Ya semua itu pernah saya pertanyakan pada diri sendiri.


'...disana kami selalu menyadari bahwa alam semesta adalah teka teki akbar. dan jika sesuatu adalah teka teki, kamu tentu boleh sedikit menebak-nebak'

Ceritanya malaikat Ariel tertarik banyak hal dengan bagaimana rasanya menjadi makhluk yang terbuat dari daging dan darah, sedangkan Cecilia penasaran dengan kehidupan malaikat di surga. Best part dari novel ini ketika Ariel mengatakan bahwa bulan adalah tempatnya menari balet, bahkan saat Neil Amstrong menginjakkan kakinya di bulan, ada jutaan malaikat sedang menyaksikannya disana. Dia bisa jadi manusia pertama di bulan, tapi ada jutaan malaikat disana yang bahkan bulan menjadi tempatnya menari balet. Asteroid menjadi tempat merenung dan berpikir bahkan tempat mengasingkan diri sebentar kira-kira 50-100 tahun. Sedangkan seluncuran yang paling mengasyikkan adalah ketika menunggangi komet. Komet Haley yang datangnya 76tahun sekali saja, bagi mereka itu sangat singkat sekali.

Keadaan Cecilia yang sakit dan kritis serta kemampuannya berkomunikasi dengan malaikat yang seolah sengaja dkirim Tuhan untuk menemaninya sebelum kepergiannya, membuatnya berimajinasi dan berpikir lebih dalam tentang segala sesuatu. Cecilia pun bisa merasakan papan ski dan toboggan-nya di malam hari bersalju. Dengan sedikit petualangan mereka berdua, mereka juga membicarakan hal-hal yang terjadi didalam bumi dan surga. Ahh indah sekali.

'kamu kembali ya?'
'maukah kau pergi dan terbang bersamaku?'
'tapi aku tak bisa terbang'
'sudah waktunya kita akhiri omong kosong ini. kemarilah'
Novel ini layak baca, sekedar untuk membantu merenungkan esensi kita berada didunia ini dan juga dunia ini beserta isinya. 
sedang mempertimbangkan untuk membeli koleksi Dunia yang lainnya, Dunia Anna sih yang sedang dipertimbangkan :)

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...