Skip to main content

Pentingkah Memiliki Asuransi?

sunset di Kuta Bali
Dulu tiap kali denger kata asuransi, gw selalu antipati. Rasanya seperti, "Apaan sih asuransi-asuransi? Udah duit ilang, nggak dapet apa-apa, mending diinvestasikan aja lah" Asuransi yang gw punya cuma asuransi kesehatan aja karena otomatis terdaftar di Askes sebagai anak dari PNS.

Asuransi adalah pertanggungan atau perjanjian antara dua belah pihak, di mana pihak satu berkewajiban membayar iuran atau kontribusi atau premi. Pihak yang lainnya memiliki kewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran/kontribusi/premi apabila terjadi sesuatu yang menimpa pihak pertama atau barang miliknya sesuai dengan perjanjian yang sudah dibuat) -  Wikipedia
Tentu saja akhir-akhir ini sudah berubah dong opini gw terhadap asuransi. Tak kenal maka tak sayang. Gw pelajari tentang asuransi lebih jauh beserta manfaatnya. Tapi, benahi dulu definisi awal asuransi. Banyak orang yang salah kira kalau asuransi adalah soal "investasi." Asuransi bukan investasi.

[Book] Max Havelaar

Akhirnya kelar. Itu deh kata-kata yang pertama saya ucapkan ketika selesai membaca Max Havelaar. Dari dulu saya suka sejarah, suka banget. Cuman ya paham sendiri kan bagaimana guru sejarah yang ada disekolah, kebanyakan, nggak semua kok, itu agak bosenin. Kebanyakan kok, karena ada satu guru sejarah waktu SMA dan saya fans beratnya. Udah cantik, modis, trendi, kalau ngajar sejarah enak banget. Belajar sejarah baru kali itu terasa menyenangkan. Nilai ujian pun bagus-bagus hahahah

Kembali ke Max Havelaar. Buku ini menjadi buku incaran saya sejak SD. Karena SD masih belum paham apa-apa, Cuma mikir aja sekarang “sok pinter banget ya gue dulu, pengen baca buku beginian”. Dulu penasaran karena katanya buku ini membunuh kolonialisme. Sampai gimana banget sih sampai buku ini dilarang beredar dan pernah dilarang edar oleh pemerintah Belanda kala itu. Takut kayaknya sih mereka.

Buku ini ditulis Multatuli (nama pena dari Douwes Dekker). Oiya, kepengen punya buku ini karena yang nulis Douwes Deker, beken banget kan waktu itu ceritanya, nggak tau kenapa beken pokoknya keren aja dulu ngerasanya. Kesampaian beli ini buku akhir tahun 2014. Bayangin, belinya 2014, kelarnya april 2016. Dasar males baca.

Jadi ceritanya intinya nyeritain tentang si Multatuli yang kerja 18 tahunan sebagai Residen di beberapa daerah di Indonesia (sebut saja orang penting) pada masa itu. Beliau melihat banyak sekali penindasan dan ketidakadilan. Yaiyalah ya, namanya juga jaman penjajahan, Belanda disini 350 tahun begitu, pastilah banyak penindasan. Seolah beliau itu kasian banget ngeliat orang Indonesia jaman penjajahan dulu. Dan melakukan kritik keras melalui buku ini. (saya tidak bahas inti cerita lebih dalam, bisa nanya ke mbah google kalau soal ini). Tapi beliau emang paling nggak nyampe hati ngeliat orang menderita kok.

Menurut pengalaman saya baca buku ini, ini buku diawal ngebosenin banget. Bukan karena bukunya jelek, bukan, tapi karena saya nggak terlalu suka aja deskripsi yang panjang. Dan buku ini diawal banyak deskripsinya. Bagus kok sebenernya, untuk menggambarkan kondisi kala itu yang masih jaman 1800an. Buat saya yang lahir mendekati jaman millennium, jelas lah jaman penjajahan itu jauh dari bayangan saya (bersyukur banget lahir nggak di jaman penjajahan hehe). Penggambarannya bisa dibilang detail. Detail cerita betapa menderitanya orang-orang Indonesia kala itu.

Karena saya bacanya nggak runtut, I mean baca dari tahun 2014 sampai 2016 dan males ngulang lah ya, akhirnya ingetnya juga sepenggal-penggal. Intinya aja, bisa ngerasain gimana menderitanya deh. Nah, karena merasa kok buku ini lama banget kelarnya, berniat baja deh akhirnya. Pokoknya bulan April 2016 harus kelar. Kelar kok. Dan mendekati akhir-akhir jadi mulai merasa “Wahhh buku ini beneran deh kerennnnn”. Mulai kerasa nyambungnya dan bagusnya juga mendekati akhir. Karena memang cerita buku ini alurnya nggak kayak novel, tapi loncat sana sini yang bener-bener harus konsen biar bisa ngikutin ceritanya. Tapi beneran, di akhir itu bener-bener bisa dibilang “Pantes lah buku ini dapet penghargaan, pantes lah buku ini pernah dilarang edar, satire banget”.

Pokoknya seneng aja akhirnya kelar baca buku yang berat ini. Seneng deh. Akhirnya juga bisa bilang “Bagus”, jadi nggak nyesel nyari buku ini bertahun-tahun, nyelesein bacanya juga bertahun-tahun hehehe. Oiya, Multatuli diakui sebagai penulis yang berpengaruh pada jamannya sama kerajaan Belanda.

Baca aja Max Havelaar kalau ingin mengetahui lebih banyak gambaran penderitaan rakyat pada masa itu. Ngeri.

 

Ini ada di Belanda sana katanya
Gambar wikipedia

Buku yang dapetinnya taunan, baca juga taunan.

Comments

  1. I have that book, dan ASLI bukan bajakan *penting*

    Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha buku ini jg aseliii lhooo, nyarinya susahhh pas aku dlu pengen. Baru ketemu taun kmrn dan bacanya baru kelar taun ini hahahaha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar. 
Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa menaw…

Pake Jenius

Beberapa waktu lalu sering liat counter Jenius di Matos, yang lalu kutemui pula di MOG. Anak Malang tau lah dua mall ini. Nah udah cari info sana sini ya, kok kayaknya asik gitu. Jadi memberanikan diri untuk sign up. Apakah perlu kujelaskan fitur dan fungsinya secara mendetail? Karena sudah banyak tercecer informasinya di internet. Nggak ah, gw mau bahas pengalaman gw pake kartu ini selama sebulan ini.

Sign up lah aku di counter MOG (ya gusti kejebak lagi gw pake nambah kartu-kartuan begini). Kemudian, berkatalah mbaknya "Transfer aja mbak satu juta kesini, kita lagi ada promo kalau transaksi pertama kali satu juta akan ada free kartu member starbucks dengan saldo 50ribu. Lumayan lho mbak Starbucks". Gw nggak fanatik Sbucks (cuma kalo harus beli Chai tea selalu kesini). Dan tanpa sadar pun gw transfer sejuta ke akun jenius gw. Because, why not? Lagian juga mindah duit gw sendiri ke rekening yang lain kan? Nggak ilang duit juga.

Jadilah kudapat kartu Jenius beserta k…

Punya Rekening Lagi : CIMB on Account

Saya cenderung males bawa uang cash. Kenapa? Ribet, nominal rupiah yang gede banget kebanyakan nol, dan seringnya di dompet isinya duaribuan. Pernah lho duaribuan itu ada kali 30lembar. Serasa kaya, kalo duitnya merah haha

Saya lebih suka debet. Lebih praktis kan, tapi nggak bisa dipake beli di toko kelontong. Jatohnya malah lebih mahal sih emang, dipakenya juga kalo nggak ke toko kelontong kan. Tapi... Saya juga sebenernya rada takut akhir-akhir ini. Karena uang di rekening bisa aja tiba-tiba ilang. Ada temen, satu kali gaji ilang. Untung aja dia urusin bener-bener dan bisa balik duitnya. Ada lagi OB juga gitu, duitnya juga ilang mendadak. Takutnya itu kan di hack atau diduplikat kartu ATM nya. Semakin canggih lah pokoknya.

Nah karena banyak kejadian kayak gitu, saya jadi lebih protektif ke kartu mana yang bisa dipake sembarangan dan mana yang nggak boleh. For sure, ini berhubungan dengan berapa banyak jumlah rekening yang dimiliki. Menurut saya sih minimal harus punya 2. Satu buat …