Skip to main content

Mendaftar Pelatihan di Prakerja

Sanur Jadi dulu program ini diluncurkan pemerintah untuk kasih insentif orang yang di PHK atau tidak bekerja pas pandemi. Jadi ya gw tentu saja nggak punya hak tho. Sebagai orang yang nggak punya hak, ya gw nggak ikutan lah. Trus temen gw beberapa bulan lalu bilang, ikut aja soalnya ini buat yg kerja yg mau nunjang skill juga lho.  "Hah masa sih?" Yaudah pas liat oh ya bener juga, jadi gw daftar. Daftar pertama di gelombang 20 nggak lolos. Trus ya udah patah hati dah lah gausah daftar. Eh tiba-tiba minggu lalu temen gw lolos gelombang berapa gitu, lalu bilang kalau gelombang 29 udah buka. Yaudah deh ikutan aja. Eh lolos dong. Pembukaan gelombang ini termasuk cepet. Hampir tiap minggu selalu ada gelombang baru yang dibuka. Jadi daftar di gelombangnya itu selama 3 harian, pengumumannya 3 hari kemudian, lalu 3 hari kemudian udah bukaan baru. Bener-bener cepet banget. Nah temen gw yang lagi S2 nggak bisa ikutan padahal dia juga kerja sebagai pengajar. Alasannya KTP sudah terdafta

[Book] Max Havelaar

Akhirnya kelar. Itu deh kata-kata yang pertama saya ucapkan ketika selesai membaca Max Havelaar. Dari dulu saya suka sejarah, suka banget. Cuman ya paham sendiri kan bagaimana guru sejarah yang ada disekolah, kebanyakan, nggak semua kok, itu agak bosenin. Kebanyakan kok, karena ada satu guru sejarah waktu SMA dan saya fans beratnya. Udah cantik, modis, trendi, kalau ngajar sejarah enak banget. Belajar sejarah baru kali itu terasa menyenangkan. Nilai ujian pun bagus-bagus hahahah

Kembali ke Max Havelaar. Buku ini menjadi buku incaran saya sejak SD. Karena SD masih belum paham apa-apa, Cuma mikir aja sekarang “sok pinter banget ya gue dulu, pengen baca buku beginian”. Dulu penasaran karena katanya buku ini membunuh kolonialisme. Sampai gimana banget sih sampai buku ini dilarang beredar dan pernah dilarang edar oleh pemerintah Belanda kala itu. Takut kayaknya sih mereka.

Buku ini ditulis Multatuli (nama pena dari Douwes Dekker). Oiya, kepengen punya buku ini karena yang nulis Douwes Deker, beken banget kan waktu itu ceritanya, nggak tau kenapa beken pokoknya keren aja dulu ngerasanya. Kesampaian beli ini buku akhir tahun 2014. Bayangin, belinya 2014, kelarnya april 2016. Dasar males baca.

Jadi ceritanya intinya nyeritain tentang si Multatuli yang kerja 18 tahunan sebagai Residen di beberapa daerah di Indonesia (sebut saja orang penting) pada masa itu. Beliau melihat banyak sekali penindasan dan ketidakadilan. Yaiyalah ya, namanya juga jaman penjajahan, Belanda disini 350 tahun begitu, pastilah banyak penindasan. Seolah beliau itu kasian banget ngeliat orang Indonesia jaman penjajahan dulu. Dan melakukan kritik keras melalui buku ini. (saya tidak bahas inti cerita lebih dalam, bisa nanya ke mbah google kalau soal ini). Tapi beliau emang paling nggak nyampe hati ngeliat orang menderita kok.

Menurut pengalaman saya baca buku ini, ini buku diawal ngebosenin banget. Bukan karena bukunya jelek, bukan, tapi karena saya nggak terlalu suka aja deskripsi yang panjang. Dan buku ini diawal banyak deskripsinya. Bagus kok sebenernya, untuk menggambarkan kondisi kala itu yang masih jaman 1800an. Buat saya yang lahir mendekati jaman millennium, jelas lah jaman penjajahan itu jauh dari bayangan saya (bersyukur banget lahir nggak di jaman penjajahan hehe). Penggambarannya bisa dibilang detail. Detail cerita betapa menderitanya orang-orang Indonesia kala itu.

Karena saya bacanya nggak runtut, I mean baca dari tahun 2014 sampai 2016 dan males ngulang lah ya, akhirnya ingetnya juga sepenggal-penggal. Intinya aja, bisa ngerasain gimana menderitanya deh. Nah, karena merasa kok buku ini lama banget kelarnya, berniat baja deh akhirnya. Pokoknya bulan April 2016 harus kelar. Kelar kok. Dan mendekati akhir-akhir jadi mulai merasa “Wahhh buku ini beneran deh kerennnnn”. Mulai kerasa nyambungnya dan bagusnya juga mendekati akhir. Karena memang cerita buku ini alurnya nggak kayak novel, tapi loncat sana sini yang bener-bener harus konsen biar bisa ngikutin ceritanya. Tapi beneran, di akhir itu bener-bener bisa dibilang “Pantes lah buku ini dapet penghargaan, pantes lah buku ini pernah dilarang edar, satire banget”.

Pokoknya seneng aja akhirnya kelar baca buku yang berat ini. Seneng deh. Akhirnya juga bisa bilang “Bagus”, jadi nggak nyesel nyari buku ini bertahun-tahun, nyelesein bacanya juga bertahun-tahun hehehe. Oiya, Multatuli diakui sebagai penulis yang berpengaruh pada jamannya sama kerajaan Belanda.

Baca aja Max Havelaar kalau ingin mengetahui lebih banyak gambaran penderitaan rakyat pada masa itu. Ngeri.

 

Ini ada di Belanda sana katanya
Gambar wikipedia

Buku yang dapetinnya taunan, baca juga taunan.

Comments

  1. I have that book, dan ASLI bukan bajakan *penting*

    Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha buku ini jg aseliii lhooo, nyarinya susahhh pas aku dlu pengen. Baru ketemu taun kmrn dan bacanya baru kelar taun ini hahahaha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Mendaftar Pelatihan di Prakerja

Sanur Jadi dulu program ini diluncurkan pemerintah untuk kasih insentif orang yang di PHK atau tidak bekerja pas pandemi. Jadi ya gw tentu saja nggak punya hak tho. Sebagai orang yang nggak punya hak, ya gw nggak ikutan lah. Trus temen gw beberapa bulan lalu bilang, ikut aja soalnya ini buat yg kerja yg mau nunjang skill juga lho.  "Hah masa sih?" Yaudah pas liat oh ya bener juga, jadi gw daftar. Daftar pertama di gelombang 20 nggak lolos. Trus ya udah patah hati dah lah gausah daftar. Eh tiba-tiba minggu lalu temen gw lolos gelombang berapa gitu, lalu bilang kalau gelombang 29 udah buka. Yaudah deh ikutan aja. Eh lolos dong. Pembukaan gelombang ini termasuk cepet. Hampir tiap minggu selalu ada gelombang baru yang dibuka. Jadi daftar di gelombangnya itu selama 3 harian, pengumumannya 3 hari kemudian, lalu 3 hari kemudian udah bukaan baru. Bener-bener cepet banget. Nah temen gw yang lagi S2 nggak bisa ikutan padahal dia juga kerja sebagai pengajar. Alasannya KTP sudah terdafta

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men