Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Who the hell are you?

Saya bergabung di salah satu platform internasional gitu lah sejenis media sosial juga, sebut saja seperti platform facebook, twitter dan lain-lain. Platform yang satu ini membuat saya mengenal banyak jenis orang dari seluruh belahan dunia. Dari yang tulus sampai yang cabul. Sudah tidak terhitung berapa kali saya diincar perverts. Tapi banyak juga yang informatif dan serius ingin berteman. Bahkan sampai sekarang juga masih berteman, salah satunya teman Prancis yang sedang menempuh pendidikannya di Solo. Beberapa kali juga bertemu dengan mereka. Ada yang guru sains, ada juga yang baker, ada yang masih pelajar, dan masih banyak lainnya sih ya. Seneng lah jelas, ketemu dengan mereka didunia nyata dan mereka tentu saja benar-benar nggak pervert.

Nah suatu ketika ada yang mengirim pesan pertamanya dengan menulis “Salam”, kemudian dilanjutkan dengan berbagai pernyataan. Kebiasaan saya memang jarang menulis kembali dengan ‘salam’, kecuali jika dia menyebutkan “Assalamualaikum” lengkap, barulah saya akan menjawabnya. Mungkin karena berbeda mindset ya, mungkin lho. Dia marah dan bilang kenapa saya tidak membalas salamnya. Nah salam yang gimana ini? Saya pun menjelaskan alasan saya. Eh dia nggak terima sama alasan saya, malah bilang kalau semua wanita Indonesia seperti itu. Nah lho. Salah bunda kah mengandung????????

Saya juga nggak terima dong, ini kan personal dia dan saya, kenapa main bilang kalau semua wanita Indonesia seperti itu. Kalau memang saya salah, saya tanggung jawab kok. Dia bilang kalau kebanyakan orang Indonesia yang ditanyainya tidak menjawab salamnya dan itu sudah merupakan karakter wanita Indonesia. Mungkin pas apesnya saya aja kali ya, eh dia langsung nyolot begitu. Nah saya nggak terima lah, saya orang matematika kok diajari soal ambil sampel acak. Trus saya nanya spesifiknya berapa orang? Apakah benar dari semua orang itu tidak menjawab salamnya begitu. Dia bilangnya sekitar (seingat saya) 80% dari orang Indonesia seperti itu. Wahhhh kena deh sama solotan saya. “Maaf ya, saya belajar matematika, saya mengenal dan mengetahui secara pasti matematika lebih detail dari anda, jika anda bilang 80% maka anda tidak berhak mengatakan jika semua wanita Indonesia seperti itu. Hasil riset anda tidak valid.” Oiya dia bilang itu dari riset dia, riset ala-ala. Ala kadarnya, cuman buat kepuasan dia aja. Dia juga nyinyirin Korea. Ih makin sebel deh.

Udah tau kalau si dia itu bikin ‘onar’, lahhh kok ya malah saya ladenin gara-gara riset ala kadarnya dia itu. Duh sebel deh. Gara-gara nggak terima juga sih nantangin anak matematika buat adu argument soal pengelolan riset.

Singkat kata, udah sebel kan aku, mau jawab untuk terakhir kalinya la kok akun saya diblokir lho. Saya belum kasih pembelaan apapun dia sudah blok saya. Kurang ajar kan. Udah main judge sendiri, salah, di blokir lagi. Rasanya pengen lempar bata ke muka dia. Tapi berhubung nggak kenal dia, yaudah lah lebih baik begitu aja deh. Cuman dulu sempet sakit hati gara-gara tiba-tiba dipersalahkan dan diblok. Hina dan nista.

Anyway, don’t judge the book by its cover itu kadang bener lho.

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Sudah Vaksin Covid Lengkap

Sei sapi yang kucintai Yes, it's my biggest flex this year.  Setelah vaksin pertama akhir Mei kemarin, akhirnya gw udah dapet suntikan kedua tanggal 21 Agustus 2021. Cantik kan tanggalnya?  Masih di RS yang sama, Surya Husadha, kali ini gw berangkat pagi. Yaa... 15 menit lebih pagi daripada vaksin pertama 😬 Karena gw ketiduran, seperti biasa. Hari itu hari sabtu, memang sengaja milih akhir pekan waktu vaksin pertama. Kita nggak tau efeknya bakalan gimana kan.  Vaksin pertama gw bisa bilang hampir ga ada efek apapun sih. Cuma ke UGD aja hari ketiga karena asam lambung naik banget. Setelah gw inget-inget, gw emang nggak banyak makan setelah vaksin malah gegoleran dan kata dokternya "Kalau abis vaksin tuh makan mbak yang banyak, protein yang banyak, jangan malah ga makan. Jadinya asam lambung naik kan?" Yasudah abis disuntik ranitidin, sejam juga gw udah mendingan.  Jadi gw bertekad "Ok setelah vaksin kedua, gw harus makan yang banyak!!!" Setelah gw datang di RS,...