Skip to main content

Ingin Tinggal di Pedesaan

Geneva ... tapi bukan di Indonesia 😂 Gatau deh ini akhir-akhir ini aku suka banget nontonin kanal orang di youtube yang tinggal di desa, bisa self sufficient banget, tenang, damai, slow. Trus nonton Gilmore Girls, Virgin River juga. Suka aja ngeliatnya. Emang bener kehidupan di desa memang terasa berjalan lebih lambat karena nggak ada yang ngejar-ngejar. Nggak macet dan nggak sebising kota. Sebenernya mau gw simple. Gw emang banyak maunya sih tapi ya kenapa emang? Siapa tau diaminin malaikat lho. Gw pengennya tinggal di tempat desa yang alamnya itu masih lebih banyak daripada manusianya. Tapi kalo bisa sih fasilitasnya udah lengkap termasuk fasilitas kesehatan ya, terlebih lagi soal internet! Internet cepet adalah koentji.  Sempet lho kepikiran, "Ah gw pengen tinggal di NZ. Jumlah kambingnya aja jauh lebih banyak dari jumlah manusianya." Atau tinggal di sana tapi yang masih bisa nemu kang bakso, lontong kupang, sate, cilok, cimol, lupis, getuk lindri lewat depan rumah gitu.

Who the hell are you?

Saya bergabung di salah satu platform internasional gitu lah sejenis media sosial juga, sebut saja seperti platform facebook, twitter dan lain-lain. Platform yang satu ini membuat saya mengenal banyak jenis orang dari seluruh belahan dunia. Dari yang tulus sampai yang cabul. Sudah tidak terhitung berapa kali saya diincar perverts. Tapi banyak juga yang informatif dan serius ingin berteman. Bahkan sampai sekarang juga masih berteman, salah satunya teman Prancis yang sedang menempuh pendidikannya di Solo. Beberapa kali juga bertemu dengan mereka. Ada yang guru sains, ada juga yang baker, ada yang masih pelajar, dan masih banyak lainnya sih ya. Seneng lah jelas, ketemu dengan mereka didunia nyata dan mereka tentu saja benar-benar nggak pervert.

Nah suatu ketika ada yang mengirim pesan pertamanya dengan menulis “Salam”, kemudian dilanjutkan dengan berbagai pernyataan. Kebiasaan saya memang jarang menulis kembali dengan ‘salam’, kecuali jika dia menyebutkan “Assalamualaikum” lengkap, barulah saya akan menjawabnya. Mungkin karena berbeda mindset ya, mungkin lho. Dia marah dan bilang kenapa saya tidak membalas salamnya. Nah salam yang gimana ini? Saya pun menjelaskan alasan saya. Eh dia nggak terima sama alasan saya, malah bilang kalau semua wanita Indonesia seperti itu. Nah lho. Salah bunda kah mengandung????????

Saya juga nggak terima dong, ini kan personal dia dan saya, kenapa main bilang kalau semua wanita Indonesia seperti itu. Kalau memang saya salah, saya tanggung jawab kok. Dia bilang kalau kebanyakan orang Indonesia yang ditanyainya tidak menjawab salamnya dan itu sudah merupakan karakter wanita Indonesia. Mungkin pas apesnya saya aja kali ya, eh dia langsung nyolot begitu. Nah saya nggak terima lah, saya orang matematika kok diajari soal ambil sampel acak. Trus saya nanya spesifiknya berapa orang? Apakah benar dari semua orang itu tidak menjawab salamnya begitu. Dia bilangnya sekitar (seingat saya) 80% dari orang Indonesia seperti itu. Wahhhh kena deh sama solotan saya. “Maaf ya, saya belajar matematika, saya mengenal dan mengetahui secara pasti matematika lebih detail dari anda, jika anda bilang 80% maka anda tidak berhak mengatakan jika semua wanita Indonesia seperti itu. Hasil riset anda tidak valid.” Oiya dia bilang itu dari riset dia, riset ala-ala. Ala kadarnya, cuman buat kepuasan dia aja. Dia juga nyinyirin Korea. Ih makin sebel deh.

Udah tau kalau si dia itu bikin ‘onar’, lahhh kok ya malah saya ladenin gara-gara riset ala kadarnya dia itu. Duh sebel deh. Gara-gara nggak terima juga sih nantangin anak matematika buat adu argument soal pengelolan riset.

Singkat kata, udah sebel kan aku, mau jawab untuk terakhir kalinya la kok akun saya diblokir lho. Saya belum kasih pembelaan apapun dia sudah blok saya. Kurang ajar kan. Udah main judge sendiri, salah, di blokir lagi. Rasanya pengen lempar bata ke muka dia. Tapi berhubung nggak kenal dia, yaudah lah lebih baik begitu aja deh. Cuman dulu sempet sakit hati gara-gara tiba-tiba dipersalahkan dan diblok. Hina dan nista.

Anyway, don’t judge the book by its cover itu kadang bener lho.

Comments

Popular posts from this blog

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

[Piknik] Menjejakkan kaki di Bromo

Puluhan tahun hidup sebagai warga Jawa Timur, namun baru pertama kali menjejakkan kaki di Gunung Bromo. Bertepatan dengan upacara Kasada yang terjadi satu tahun sekali dan bertepatan dengan bulan purnama (semoga nggak salah kasih info), sekitar akhir bulan Juli tahun 2015.  Gunung Bromo merupakan gunung yang bertetangga dengan gunung Semeru. Jika kita pergi kesana, maka akan melihat banyak tulisan BTS -yang saya kira Behind The Scene-, ternyata adalah Bromo Tengger Semeru. Tidak hanya melihat gunung Bromo seorang, disana kita akan disajikan jejeran gunung-gunung kecil disana. Ok.. first of all mari dimulai dari berangkat ke Bromo. Menuju Bromo bisa menyetir motor sendiri, bisa juga menyewa tour dari titik keberangkatan (seperti yang saya lakukan), bisa menggunakan ojek seharga 100ribu per ojek sepuasnya, bisa menyewa jeep dari titik mula menuju Bromo (dengar-dengar sih harganya 600ribu/jeep, satu jeep bisa untuk 4-6 orang tergantung ukuran badan orangnya heheh). Jeep yang saya