Skip to main content

Posts

Showing posts with the label belanda

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Setengah Belanda

Kemarin, saya kembali berbicara dengan cucu dari kakaknya nenek saya. Bingung nggak? Hahaha Oke, jadi begini ceritanya,  Mama dari nenek saya itu seorang Indo. Saya panggilnya mami. Catet ya, Indo bukanlah Indonesia, tapi Indo adalah anak keturunan Indonesia dan negara lain (yang kebanyakan ras kaukasoid), misal Indonesia - Belanda yang paling beken, atau Indonesia – Jerman. Nanti deh saya tulis terpisah soal ini ya. Kembali ke nenek buyut, mamanya mami yang Indo ini menikah dengan orang Belanda. Ceritanya kakek buyut ini seorang prajurit Belanda di sini. Menikahlah mereka berdua. Jadi nenek buyut yang aslinya sendiri sudah Indo, menikah dengan orang Belanda, lahirlah dua orang anak. Yang pertama laki-laki, yang kedua perempuan (nenek saya). Erich Carl (Booley) von Bannisseth dan Rita von Bannisseth (yang kemudian menjadi Rita Herawati).  dari Kiri ke kanan : papi (kakek saya), kakak ipar mami (nenek), mami (nenek), kakaknya mami Anak laki-lakinya akhirny...

[Book] Max Havelaar

Akhirnya kelar . Itu deh kata-kata yang pertama saya ucapkan ketika selesai membaca Max Havelaar. Dari dulu saya suka sejarah, suka banget. Cuman ya paham sendiri kan bagaimana guru sejarah yang ada disekolah, kebanyakan, nggak semua kok, itu agak bosenin. Kebanyakan kok, karena ada satu guru sejarah waktu SMA dan saya fans beratnya. Udah cantik, modis, trendi, kalau ngajar sejarah enak banget. Belajar sejarah baru kali itu terasa menyenangkan. Nilai ujian pun bagus-bagus hahahah Kembali ke Max Havelaar. Buku ini menjadi buku incaran saya sejak SD. Karena SD masih belum paham apa-apa, Cuma mikir aja sekarang “sok pinter banget ya gue dulu, pengen baca buku beginian”. Dulu penasaran karena katanya buku ini membunuh kolonialisme. Sampai gimana banget sih sampai buku ini dilarang beredar dan pernah dilarang edar oleh pemerintah Belanda kala itu. Takut kayaknya sih mereka. Buku ini ditulis Multatuli (nama pena dari Douwes Dekker). Oiya, kepengen punya buku ini karena yang nulis Douwes De...