Skip to main content

BUKU

Ganesha - Ubud. Toko buku favorit, sering jual buku antik. Benda yang gw sayang banget yaa buku-buku gw. Gw mau minjemin buku gw, tapi kalau buku gw diminta orang... hmmm... nggak dulu deh ya. Kalau minjemin pun pasti mikir-mikir dulu, orangnya bertanggungjawab apa nggak hehehee. Dari kecil, orangtua gw selalu minta untuk berhemat ya karena kita memang dari keluarga yang biasa saja. Uang jajan gw biasanya setengah dari uang jajan temen-temen gw. Bukannya mereka pelit, ya emang dibiasain hidup gak foya-foya aja. Lagian juga gw nggak punya alasan kan, karena belum punya duit sendiri haha!  Tapi kalau soal buku, nggak usah ditanya. Semahal apapun pasti dibeliin kalo emang perlu. Royal banget kalo soalan buku. Karena prinsip mereka, "Orangtua kamu ini nggak kaya, nggak mampu ngasih kamu duit banyak. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberi kamu pendidikan terbaik yang kamu bisa dapatkan. Buku salah satunya. Jadi nggak boleh pelit." Betul, nilai kehidupan tersebut

Kenapa Matematika?

Tanyakan kepada banyak siswa siswi di seluruh Indonesia, apakah mereka menyukai matematika? Saya yakin akan lebih banyak yang menyatakan "kurang menyukai matematika" daripada "menyukai matematika". Layaknya sudah menjadi hal yang umum dan wajar kalau mengatakan matematika itu sulit. Bahkan setelah saya menjadi mahasiswa matematika dan lulus dari jurusan matematikapun saya juga merasa kalau matematika itu memang sulit. Bukan bermaksud membesar-besarkan kalau memilih jurusan matematika itu pasti akan mengalami masa sulit karena sulitnya matematika. Bukan. Setiap jurusan pasti memiliki tingkat kesulitan tersendiri.

Nah, dulu saya sering bertanya-tanya kenapa kita belajar matematika sesulit ini di sekolah ?Fungsinya apa??? Apakah integral bisa diterapkan orang awam dalam proses membeli barang di supermarket ? Apakah differensial bisa juga digunakan orang awam untuk menghitung hutang ? Selalu bertanya-tanya seperti itu. Bagi beberapa teman, matematika memang momok terbesar bagi mereka. Ilmu yang menurut mereka terlalu sulit untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. begitupun saya. Saya sangat merasakana hal tersebut. Berbeda lagi dengan fisika yang selalu aplikatif untuk kehidupan sehari-hari.

Setelah resmi menjadi mahasiswa matematika, saya merasakan ilmu matematika yang didapatkan di SMA sangatlah berlebihan. Menurut saya sih. Misal tentang integral untuk menghitung volume benda putar menggunakan cakram. Itu sangatlah tidak aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, karena ilmu tersebut memang berguna untuk kedokteran untuk mengitung volume kanker agar bisa memberikan dosis yang tepat untuk penembakan laser (partikel). dan masih ada beberapa ilmu yang hanya bisa diterapkan bagi orang yang nantinya akan melanjutkan kuliah dibidang teknik maupun yang lainnya.

Bukan berarti saya mengatakan jika matematika itu tidak penting dan tidak perlu dipelajari, berdasarkan pengalaman, saya tidak pernah terlalu iseng menghitung volume susu cair dalam kardus yang penyok. Jika saya ingin membeli susu kardus, ya sudah saya beli aja, liat harganya berapa trus ambil dan bayar, trus diminum. Beres. Tidak semua orang awam bisa 'iseng' seperti itu, kecuali beberapa teman saya. Mungkin pemberian materi sulit tersebut di SMA bertujuan untuk mengenalkan hal tersebut kepada siswa yang mungkin nantinya tertarik untuk melanjutkan studi dibidang matematika. Mungkin lho ya. Tapi sejauh pengalaman saya dan beberapa murid saya, itu hanya menghabiskan banyak waktu (seandainya kita bs protes haha).

Memang matematika itu penting dalam setiap aspek tetapi tidak semuanya dan tidak serta merta diberikan dibangku SMP ataupun SMA. Contoh lain, misal program linier. Itu penting untuk diajarkan karena fungsinya mencarai nilai maksimum dan minimum, dan hal itu sangat aplikatif dalam kehidupan sehari-hari yang tidak terlalu rumit. Ada lagi materi yang pernah saya dapatkan di semester 5, tahun ini diajarkan untuk anak SMA kelas 2 bidang peminatan.

Menurut pandangan saya, harusnya ilmu matematika yang diajarkan sesuai dengan porsi bagi pola pikir dan kebutuhan. Karena tidak semua siswa setelah lulus akan kuliah matematika. Mungkin untuk ilmu fisika dan kimia 60% akan terlihat pemanfaatannya dalam kehidupan, lain halnya dengan matematika yang tetap terlihat absurd. Kuasanya matematika terletak pada akarnya, tidak terlihat. Untuk menghasilkan teorema yang aplikatif dan mudah dalam bidang fisika sudah tentu menggunakan teorema njelimet matematika yang hanya dipahami orang yang 'iseng' hahaha

#curhatan iseng mantan mahasiswa matematika#

Dapet gambar ini dari share grup, dan sangat googleable. Mengingatkan kenangan buku kuliah yang paling mahal

Comments

Popular posts from this blog

BUKU

Ganesha - Ubud. Toko buku favorit, sering jual buku antik. Benda yang gw sayang banget yaa buku-buku gw. Gw mau minjemin buku gw, tapi kalau buku gw diminta orang... hmmm... nggak dulu deh ya. Kalau minjemin pun pasti mikir-mikir dulu, orangnya bertanggungjawab apa nggak hehehee. Dari kecil, orangtua gw selalu minta untuk berhemat ya karena kita memang dari keluarga yang biasa saja. Uang jajan gw biasanya setengah dari uang jajan temen-temen gw. Bukannya mereka pelit, ya emang dibiasain hidup gak foya-foya aja. Lagian juga gw nggak punya alasan kan, karena belum punya duit sendiri haha!  Tapi kalau soal buku, nggak usah ditanya. Semahal apapun pasti dibeliin kalo emang perlu. Royal banget kalo soalan buku. Karena prinsip mereka, "Orangtua kamu ini nggak kaya, nggak mampu ngasih kamu duit banyak. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberi kamu pendidikan terbaik yang kamu bisa dapatkan. Buku salah satunya. Jadi nggak boleh pelit." Betul, nilai kehidupan tersebut

Lessons Learned in 2021

March '21. Me, during the lowest point of my life. Yes, I still smile and dead inside lol. 2021 is personally not an easy year. It's the year where I questioned my existence as a human being. I thought being a kind person was enough.  Obviously, I felt insecure when the closest person told me how I was not special, doing less than what I could. That triggered me and I started to ask myself "What am I doing on this earth? What's my purpose as a human? What am I going to do? What do I want to do? What do I want to become? What kind of future do I want? What am I?"  That person only became the trigger, yet the problems existed inside me. So I realized completely that it was about me, not someone else. There was something wrong with me. When I knew that the problem is me, I seek help. Lucky me (or should I say, unlucky me?), I didn't have those scary nights alone. My best friend went through the same, so we're kinda helping each other. Though the trigger was d

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini