Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

[Movie] My Way

Plot cerita diawali dari Kim Jun shik dan Tatsuo yang doyan lari, sampai akhirnya mereka menjadi pelari nasional. Tatsuo yang merupakan orang Jepang dan berasal dari keluarga yang berkuasa di Korea. Kalau nggak salah sih jaman itu masuk PD2. Sampai Jepang masih berkuasa di Indonesia, alihan dari Belanda jaman itu.

Ini film lama, saya nonton pas tengah malem di salah satu stasiun tv swasta yang akhirnya membawa saya kepada kegantengan Jang Dong Gun dan membawa keheranan kepada salah seorang teman Korea "kamu kelahiran taun berapa Pris kok sukanya Dong Gun sih? Ketuaan tuh" hoho. Tua-tua mateng ganteng hehehe. Ubek-ubek leptop ternyata nemuin film ini jadilah nonton lagi.

Jungshik dan Tatsuo ini sudah kenal dari kecil, mereka sama-sama pelari maraton. Tapi karena Jepang berkuasa atas Korea, maka orang-orang Korea dijadiin budak mereka. Nggak beda jauh lah dari jamannya Jepang di Indonesia. Nah suatu ketika ada olimpiade nasional maraton, tadinya Jungsik nggak boleh ikutan, tapi maksain akhirnya dia ikut olimpiade itu. Sebenernya menang sih, tapi Jepang ogah ngumumin kemenangan dia akhirnya yg dijadikan pemenang adalah Tatsuo ini, dan beberapa Jepang yang lainnya. Marah dong ya, merasa menang kok nggak diakui. Tawuran deh akhirnya semua orang Korea ngelawan orang Jepang. Singkat kata pihak Jepang memberikan hukuman kepada orang-orang Korea tersebut dengan menjadi prajurit untuk Jepang dan harus berkorban demi kekaisaran Jepang. Berpisahlah Tatsuo dan Jungshik ini. Jungshik jadi tentara paksaan, Tatsuo disuruh ke Jerman buat sekolah kedokteran. Tapi dia nolak sih, trus nggak tau kelanjutannya gimana.

Ntah kenapa, mungkin salah satu alasan Jepang mengambil banyak orang Korea untuk menjadi prajuritnya karena Jepang kabisan prajurit kali ya. Sama seperti Belanda yang mengambil orang Afrika untuk dijadikan prajurit waktu menjajah Indonesia.

Nah, mulai deh. Cadas dari sini. Prajurit dipaksa berperang melawan Uni Sovyet kala itu. Cadas men. Perang terus deh dari sini. Darah dimana-mana. Nah nggak tau gimana ceritanya, ehh kok Tatsuo tiba-tiba jadi kolonel yg datang untuk memimpin pasukannya Jungshik. Nah kan aneh? Ehh tapi nggak juga sih, kan kakek dia orang pentingnya Jepang juga. Dan dia emang pengen jadi kayak kakeknya sih.

Digambarkan bagaimana keras dan jahatnya Jepang kepada orang Korea yang dijadikan prajurit secara paksa. dihantam sana sini, dipaksa sana sini, duhh kesian deh liatnya. Liat orang ganteng digebukin, ditonjok-tonjok kan sayang hehee. Tapi ini jadi bikin saya mikir sih, Jepang tuh jahat banget ya jaman perang (nggak bermaksud menyinggung orang Jepang jaman sekarang lho ini, tapi jaman dulu, dan pandangan saya terhadap orang Jepang dulu dan sekarang beda kok, yg jelas saya ndak bermaksud menyinggung). Berkali-kali bilang kalau orang Korea pemalas, kerja lamban, sifat itu emang bawaan orang Jepang yg etos kerjanya 3 kali lebih tinggi dari orang Korea. Dan karena kebawa sampai sekarang, gila aja, mereka gila kerja. Workaholic. Saya kadang sering aneh sama orang yg gila kerja. Seolah hidupnya hanya didedikasikan untuk kerja. Ada satu orang Korea di film itu bilang "mending kalo perang untuk negara sendiri daripada perang buat Jepang".

Setelah Jepang kalah, sepertinya ada pemboman Nagasaki Hirosima yang membuat Indonesia bisa memproklamirkan kemerdekaan disini, nasib para orang Korea sampai pimpinan Jepang yg Tatsuo itu pindah ke Uni Sovyet. Uni sovyet memegang kendali atas mereka. Ibarat bola, mereka dioper sana sini tak jelas nasibnya. Jungshik sama Tatsuo masih nggak akur aja. Tapi Jungshik masih mikirin nasib temannya yang dulu jadi cucunya majikannya ini. Singkat kata, perang pecah di Sovyet dan mereka bisa kabur dari sana ntah gimana caranya mereka bisa sampai didaratan lain. Tatsuo yang tertembak kan ditinggalin bentar dirumah kosong sementara Jungshik cari bantuan. Ehh kok ya Jungshik malah ditahan.

3 tahun kemudian..

Tatsuo yang terpisah dari Jungshik merasa memiliki 'hutang nyawa' kepada Jungshik. Bertahun-tahun dia mencari Jungshik sampai desperate gitu. Eh nggak nyangka ketemu di Eropa. Mereka berdua sama-sama jadi pasukan Eropa. Ntah ya gimana caranya, yg jelas kan sudah ketemu.

Perang pecah lagi disana. Dimana-mana perang pecah. Ini saya nggerasa dunia nggak ada amannya. Apa mungkin Thailand doang yg aman? Mengingat nggak pernah ada orang yang menjajah Thailand btw. Nah karena perang lagi, mereka berdua hanya ingin pulang. Dari awal mereka ada di Sovyet juga mereka cuman pengen balik pulang, tapi malah kelempar-lempar sampai Eropa. Akhirnya mereka berhasil kabur, tapi ada pasukan yang membunuh orang Jepang. Di masa pelarian, mereka nggak luput dari tembak dan bom sana sini yang akhirnya membuat Jungshik terkena peluru didadanya. Jantung deh kayaknya.

Kemudian Jungshik memberikan kalung nama milik dirinya dan menukarkan dengan milik Tatsuo. Sembari dia bilang ke Tatsuo "kamu bilang aja kamu orang Korea, kalo kamu bilang kamu orang Jepang mereka akan membunuhmu. Mulai sekarang nama kamu Kim Jungshik, bukan Tatsuo. Kamu harus pulang, kamu harus lari lagi".
"Tapi kita harus pulang dan lari bersama, aku ingin lari lagi dengan kamu"
"Aku ingin pulang tapi tak bisa pulang, kamu harus janji kepadaku kamu harus pulang dengan selamat disana. Dan lari"

Yah karena kondisi Jungshik yang sekarat, akhirnya dia meninggal.

Ini scene yang paling menyentuh. Karena mengingatkan saya kepada siapapun yang selalu berkorban demi orang lain. Jungshik bisa sebenernya hidup dan pulang ke negerinya dg mengorbankan Tatsuo, ya kan? Tapi yang dia pilih adalah mengorbankan dirinya sendiri dengan memilih bertukar identitas.

Tatsuo akhirnya bisa pulang dan menyandang nama Kim Jungshik serta melanjutkan berlari.

Ingatlah, selalu ada orang yang rela mengorbankan dirinya sendiri demi orang lain. Ntah apapun itu alasannya, semenyedihkan apapun orangnya, saya yakin bahwa selalu ada orang yang rela berkorban demi orang lain.

Dan yang jelas, Jang Dong Gun biarpun berdarah-darah dan mati akhirnya, dia masih keliatan ganteng banget hehhee.....

Taken from internet

Comments

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men