Skip to main content

Praktisnya Menggunakan e-meterai

Sebagai pelaku kawin campur, meterai adalah hal kecil yang sering kali luput karena dikit-dikit tempel meterai untuk perihal pengajuan visa. Seringnya beli satu, dua taro dompet, eh nggak tau keselip di mana. Belum lagi kalau ternyata setelah dokumen dicetak - ditempel matere - lalu ditandatangani - kemudian discan, ini prosesnya kayak berulang banget dan bisa berkali-kali karena salah tanggal atau orang yang dituju atau dokumen udah keburu expired. Udah kecil, nggak murah, sering ilang pula wkwkwk.  e-meterai mulai diluncurkan tahun 2021. Gw belum pernah coba karena jujur masih bingung apa iya ini imigrasi nanti nerima e-meterai gw? Hingga hari ini, Januari 2023 gw harus kirim dokumen bermeterai untuk update alamat gw sebagai penjamin visa. Iya, nggak bisa via website langsung, harus kirim permohonan via email yang dilengkapi dokumen permohonan dg tanda tangan di atas meterai.  Hah hoh karena nggak ada printer di rumah, kalau ngeprint cuma perlu sebiji. Meterai udah ga ada juga. Akhir

Ibu Kita

Tanggal 21 April selalu menjadi hari yang berkesan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Pada tanggal itu tahun 1879 lahirlah seorang bayi perempuan yang diberi nama Raden Ajeng Kartini. Kala itu masih jaman penjajahan Belanda (iyalah non, Belanda disini ratusan taun), beliau termasuk orang yang lahir pada kalangan bangsawan. Beliau termasuk beruntung karena mengijinkan putrinya untuk sekolah, yang waktu itu hanya kaum lelaki saja yang boleh sekolah. Ya meskipun sekolahnya nggak sampai kelar juga sih, tapi paling nggak beliau sekolah sampai umur 12 tahun itu sudah bagus banget buat perempuan jaman segitu.

Dipingit lah beliau setelah umur 12, agak nggak tau juga sih kenapa ada mitos dan adat yang aneh-aneh begitu. Ohhh saya akan menulisnya terpisah tentang adat. Kembali ke Kartini, beliau yang tidak mau menyerah dengan keadaan, selalu menginginkan untuk maju dan berkembang. Akhirnya beliau mulai menulis surat kepada sahabat pena-nya yang ada di Belanda. Karena saban hari beliau bacaannya Bahasa Belanda, jadilah beliau makin mahir berbahasa Belanda itu. Mulai surat menyurat dan ternyata surat beliau banyak katanya. Kemudian beliau dinikahkan dengan bupati Rembang. Setelah menikah, beliau hamil dan lairan, tapi nasib berkata lain. Beliau harus berpulang tak lama setelah melahirkan anak pertamanya. Umurnya berakhir pada angka 25 tahun (seusia saya sekarang). Selesai sudah perjuangan beliau memperjuangkan hak-hak wanita agar menjadi sejajar dengan lelaki. Tapi ternyata masih ada Kartini Kartini lain penerus beliau.

Jadi ini ceritanya, Kartini itu sosok yang memperjuangkan kaum wanita dijamannya. Beliau tidak mau kaumnya dibodohi lelaki, hanya menunggu dirumah, belajar masak, menunggu dikawinkan, berperan di ranjang, hamil dan melahirkan, mengurus suami dan anak, udah begitu aja. Beliau tidak mau kaumnya hanya menjadi kaum yang tertindas dan tidak mengenal pendidikan. Termasuk sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia, surat-surat beliau yang pernah ditulis akhirnya dikumpulkan dan diterbitkan dalam satu buku. Habit gelap terbitlah terang. Pikiran beliau yang sudah bisa dikatakan maju pada masa itu, sangat berpengaruh kepada kemajuan wanita saat ini. Serius.

Bisa dilihat sekarang, di era globalisasi saat ini, wanita sudah sangat berkembang. Wanita memiliki hak atas dirinya sepenuhnya, bisa menentukan arah hidupnya, wanita juga tidak hanya berkutat di dapur dan ranjang saja saat ini. Bayangkan saja jika di era globalisali begini wanita Indonesia masih saja nangkring di dapur dan ranjang tanpa memberikan kontribusi apapun dalam perkembangan dunia. Alamak… mau jadi apa diri saya ini? Mungkin, bisa jadi, saya sudah punya anak 3 kali ya, yang tidak memiliki impian yang tinggi bahkan pendidikan sekalipun. Mentok juga SD aja kali.

Sekarang bisa dilihat jumlah wanita yang ada di jajaran posisi yang biasanya hanya ditempati laki-laki. Manajer saya seorang wanita. Mentri luar negeri kita juga wanita. Kita bahkan pernah punya presiden wanita. Sopir bus transJ juga ada yang wanita lho. Bayangkan jika wanita hanya ada di dapur dan ranjang???? Ke laut aja.

Saya menjadi salah satu orang yang beruntung karena hal yang dilakukan ibu kita Kartini. Beliau memegang peranan yang penting bagi perkembangan wanita Indonesia. Emansipasi. Saya hanya membayangkan sesuatu jika saya hidup pada masa itu. Mungkin saya akan menjadi seperti Kartini, yang akan menjadi fenomenal kali ya, mengingat betapa keras kepalanya saya.
Intinya begitu. Apa yang diinginkan Ibu Kita Kartini sudah sedikit banyak tercapai kawan. Namun sayang, hidupnya hanya sepanjang seperempat abad. Bayangkan jika hidupnya bisa lebih lama, mungkin beliau akan menangis terharu mengetahui bahwa impiannya tercapai.

Ibu… wanita-wanita Indonesia sudah banyak yang keras kepala ingin kemajuan ibu. Sama seperti yang ibu inginkan. Keinginan kita sama, menjadi maju dan tidak dipandang rendah kaum lelaki. Bukan berarti kami tidak perlu lelaki, tapi kami hanya ingin dihargai. Kami masih perlu lelaki, begitupun lelaki yang masih perlu wanita. Impian anda tercapai ibu.

Terima kasih atas impian anda dimasa lalu, karena impian tersebut menjadikan saya seorang wanita berpendidikan tinggi. Dan terima kasih Tuhan, saya tidak lahir di jaman penjajahan 

Thanks to our mother, Kartini.

Oiya, ada sekitar 5 jalan di Belanda yang dikasih nama Kartini. Negara sono aja bisa menghargai Ibu Kartini ya. Kalau jalanan disini yang pakai nama Kartini sudah tak terhitung banyaknya. Dan tradisi Indonesia setiap tanggal 21 April, apalagi bagi siswa, mereka pakai kebaya atau baju daerah. Lucu aja meliat pawai baju kebaya dan tradisional dress daerah lainnya. Serambi mengenalkan baju khas daerah selain Jawa (mengingat banyaknya baju adat di Indonesia).

And happy birthday to Prisca as well. She was born on April 21.
 
Taken from internet

She was not in a good mood

Her friends

Comments

Popular posts from this blog

Praktisnya Menggunakan e-meterai

Sebagai pelaku kawin campur, meterai adalah hal kecil yang sering kali luput karena dikit-dikit tempel meterai untuk perihal pengajuan visa. Seringnya beli satu, dua taro dompet, eh nggak tau keselip di mana. Belum lagi kalau ternyata setelah dokumen dicetak - ditempel matere - lalu ditandatangani - kemudian discan, ini prosesnya kayak berulang banget dan bisa berkali-kali karena salah tanggal atau orang yang dituju atau dokumen udah keburu expired. Udah kecil, nggak murah, sering ilang pula wkwkwk.  e-meterai mulai diluncurkan tahun 2021. Gw belum pernah coba karena jujur masih bingung apa iya ini imigrasi nanti nerima e-meterai gw? Hingga hari ini, Januari 2023 gw harus kirim dokumen bermeterai untuk update alamat gw sebagai penjamin visa. Iya, nggak bisa via website langsung, harus kirim permohonan via email yang dilengkapi dokumen permohonan dg tanda tangan di atas meterai.  Hah hoh karena nggak ada printer di rumah, kalau ngeprint cuma perlu sebiji. Meterai udah ga ada juga. Akhir

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad