Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Suka Naik MRT

ADCB Station - DXB

Gw suka banget naik MRT. Pertama kali gw naik MRT waktu ke Singapore pertama kali. Waktu itu beli kartu yang sekali pakai karena pikirnya nggak bakalan lama di Singapore. Tapi ternyata mendekati hari pulang malah beli kartu gambarnya Thor dan gw tuker ke suami gw. Salah satu keputusan yg gw sesali. Gw tukar karena punya H gambarnya sesame street lucu. Padahal sekarang gw bucin sama Thor.

Tentu saja karena Indonesia kala itu belum punya MRT. Jadi ya wajar dong gw seneng banget naik MRT. Lalu ke Dubai, pertama kalinya gw tau MRT mereka ada kelas gold dan rakyat jelata. Gw nyelonong aja di gerbong gold, ditarik H dan dia yang malu (karena gw gatau apa-apa jadi gw nggak malu). 

Kalau ada cowo di gerbong wanita ini langsung diusir. Yang ngusir, ya penumpang wanita segerbong 😂

Ketika gw tau kalau MRT yang di Jakarta sudah beroperasi, gw bahkan berencana ke Jakarta untuk cobain MRT. Trus keturutan sih waktu bikin visa. Dibela-belain pkoknya harus naik MRT meskipun cuma satu dua stop. Eh kenapa gw seneng banget ya? 

Yang gw suka banget di dalam MRT adalah; "the next stop is Dubai Mall" Gw suka banget karena mereka akan pakai dua bahasa kan, bahasa lokal dan Inggris. Seru aja dengernya. Gw punya beberapa kartu dari negara-negara tsb yang dipakai untuk naik MRT. Terutama negara yang sering gw kunjungi.

Eh iya gw suka banget ngamati gaya orang. Karena sering ke Dubai dan berbagai macam jenis orang ada di sana, gw suka amati gaya mereka. Ada yang betah pake tanktop dan short pants aja meskipun dalam MRT dan stop-nya selalu dingin. Ada yang masuk pake helm karena bawa scooter listrik itu. Ada yang gayanya mirip penggambaran pekerja kantoran di FTV. Ada segerombolan orang Filipina yang dengan berbagai macam profesi dan dengan santainya ngobrol pake bahasa mereka karena gw dikira orang Filipina. Macem-macem banget.


Yang gw kurang suka dari naik MRT, kadang jalan dari luar ke peronnya itu jauh bener. Kalo nggak ketinggian ya bener-bener jauh banget. Sejauh ini yang jarak terjauh dari masuk kereta sampai ke tempatnya itu stop yang menuju Dubai Mall. Ini jalan kaki aja perlu 10-15 menit. Panjang bener. Bukan yang jadi alasan males naik MRT lagi sih, cuma kadang kalo lagi nggak mood, jalannya males heheee.

MRT ini angkutan masal yang murah, cepet, efisien, kecuali di jam rush hour terutama saat pandemi seperti ini. Kami nggak bakalan masuk kalau bejubel. Terakhir kali nunggu MRT pas hari sabtu, jam 5 sore, penuhnya bukan main. Nggak dah. Ngomongin soal rush hour, pernah sekali pake MRT jam 8 pagi di Singapura juga padetnya bukan main. Tapi karena gw nggak ada acara apa-apa ya gw nunggu sampe sepi dong. 

Menurut gw kota-kota besar di Indonesia haruslah punya angkutan masal begini. Nggak repot mikir parkir, bayar parkir, murah dan tentunya lebih sehat karena 10 ribu langkah kaki pasti tercapai.

Kalau MRT sudah tersebar di Indonesia, kalian mau naik MRT nggak?

Comments

  1. sempet jadi buncin tokoh kartunnya sesame street? sapa tuch? kalau aku cookie monster ama elmo wkkwkwkwk

    hahahha lucu dirimu ditarik suami suruh ke kelas yang bukan gold oas nyobain MRt dubai hahahah...aku jadi oenasaran yang kelas dubai bedanya apa ama yang kelas rakyat jelata....kayaknya kalau di dubai kelas rakyat jelata pun sama sama kinclongnya hhahahha


    btw baru tau klo ada penumpang yang naik mrt pake helmnya hahhahah...

    tapi iya setuju banget kalau jalan ke oeron kadang yaaaa jauuuuuuuuh bener...gempor ni kaki apalagi kalau kluar stasiun banyak tangganya...begh...nikmat !! :D

    pertanyaan terakhir...mauk asal ga pandemik hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha tapi nyesel mba abis tuker kartunya, karena langsung bucin sama Thor pas pulang wkwkw.

      kelas gold kursinya duduk 2-2 kayak bus malem gitu. jadi isinya cuma 10 baris kayaknya. kalo kelas rakyat jelata ya gitu deh hahaa, masih nyaman alhamdulillah.

      semoga pandemik cepet kelar ya, biar kita bisa naik MRT lagi :(

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men