Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Membatasi Bermain Sosial Media

Sosial media itu nggak melulu buruk. Buktinya, isi twitter gw kebanyakan berita ekonomi dan global, selain video-video makanan, kucing dan tech. Tapi sejak sebulan lalu gw memutuskan untuk membatasi pemakaian instagram dan twitter (krn gw aktif di dua platform ini). Sejak perkara tidak sehatnya mental dan fisik karena terpisah jarak dengan H, sosial media bukannya jadi tempat pelampiasan malah membuat suasana tidak karuan. 

Membatasi ya. Bukan menghilangkan waktu untuk bersosmed sama sekali. Karena gw masih butuh juga buat kontak-kontak imigrasi lol.

Bukan karena gw merasa kalau sosmed itu toxic tapi ini lebih ke diri sendiri aja. Rasanya tenaga gw udah habis buat diri gw sendiri, apalagi harus baca atau lihat “kehidupan” orang lain. Gw yang nggak pernah peduli dengan kehidupan jungkir balik orang lain ngerasa kalau diri gw terlalu lelah bahkan untuk diri gw sendiri. Melihat "cerita" orang lain bagi gw nggak sekadar melihat saja. Tapi juga menganalisa dan menemukan sisi menarik dari tiap ceritanya. Karena manusia itu unik.

Sejak pulang dari Dubai, gw menghindari banyak orang untuk memulihkan kondisi gw. Ditelpon temen-temen deket, nggak gw angkat. Bahkan sampe keluar grup dari grup favorit gw (tapi gw mau masuk lagi minggu ini, udah kangen juga ih). Kangen sih, kadang gw menanti cerita-cerita dari orang-orang terdekat gw. 

Karena merasa sedang “gila”, akhirnya gw isolasi diri gw dan juga mulai rutin melakukan olahraga ringan 10-20 menit setiap hari. Kalau lagi nggak males yaa latihan yang sampai gobyos. Kalau lagi males ya yoga aja 15 menit. Chat, telpon, cuma dari H aja yg gw respon.  Lainnya sih seperlunya aja. Oh sama bos gw sih. Karena dia bantu banget distraksi gw dengan kasih kerjaan banyak yg justru malah gw nikmati.

Ternyata, amat sangat membantu. Meskipun gw masih masuk twitter untuk baca berita atau sekedar update, bedanya sekarang gw nggak baca thread apalagi yg thread nggak jelas. Dulu mah gw baca semua. Sekarang juga gw cuma cek instagram gw seminggu sekali atau sehari sekali kalau gw DM imigrasi.

Gw sekarang udah ngerasa baikan. Udah bisa dan mau nerima telpon dari temen-temen gw. Udah mau ngeladeni chat curhat mereka. Gw bersyukur banget circle terdekat gw berusaha memahami gw dan nggak ganggu gw selama yg gw minta. Bahkan nahan curhat dan nanya dulu “is it a good time to talk?” 🥺

Tulisan ini sebagai salah satu bentuk melepaskan yang ditahan dan juga sebagai bentuk syukur telah diberikan orang-orang dekat yang mengerti dan tidak menuntut 💕.

Comments

  1. sama toaaaastt

    aku juga uda lama ga buka ig twitter, ga tau kenapa ada rasa kurang nyaman...bukan karena apa apaa sih tapi tiap kali buka ada sesuatu yang kayak malah abis buka nyesel walaupun ga ngapa ngapain sebenernya...kayak dikau aja aku mba buka paling mentok mentoknya pas lagi butuh info penting aja, selebihnya ga bukaaa...mungkin banyak faktor malesnya juga sih aku hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa mungkin kita udah puas kali ya dulu2 mainnya? Hahaha

      yang penting tau batas diri juga ya biar ga gila haha :D

      Delete
  2. Kalau saya malah sudah jarang banget main medsos Mbak... Twitter saja entah sudah berapa bulan nggak dipegang. FB pun sama.

    Bener kata Mbak, ngurus hidup sendiri saja sudah capek, apalagi harus merhatiin hidup orang lain. EGP dah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara ga langsung, alam bawah sadar kita kayak nuntun kita buat memperhatikan "kehidupan" orang lain ya hehehe

      Delete
  3. Sosmed saya dong blog doang. Hidup bahagia tanpa melihat kehidupan orang lain. Fokus sama diri sendiri dan keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. BETUL banget. Bahagia itu ketika kita ga ngeliat standar hidup orang lain ☺️

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

[Piknik] Jejak sejarah di Malang

Beberapa bulan yang lalu ketika si mas ke Bromo, dengan waktu yang mepet banget, akhirnya kita niat jelajah singkat jejak sejarah di Kota Malang. Biasa lah ya, dia selalu bawa buku panduan. Selain nerd, dia juga nggak mau oon ketika dia berada di suatu tempat baru. Dia terlalu nggak percaya sama kemampuan sejarahku akan kota Malang, karena pasti kalo nanya sejarahnya yang aku tahu paling juga nggak jauh-jauh dari lapak baju buku murah. Sejarahnya, tanyain mbah mbah jaman dulu dah. kantor balaikota Malang Perjalanan kita mulai dari hotel Tugu. Kita mulai dari naik becak. Tadinya saya kira aja sampai seratus ribu ya nganter ke daerah pasar besar (alun-alun kotak), eh ternyata cuman 30ribu. Terheran-heran juga kok, ini muka bule nggak dimahalin?? Derita punya partner bule, harga dibedain.   dari sampul sih nggak beda banyak, tapi begitu buka dalemnya...hmm kalah deh cetakan Indonesia sama cetakan luar negeri buku ini bagus kok, ada peta-peta jelajahnya juga Malang saat...