Skip to main content

I Thought I Hate People, but...

Sanur ... but I actually don't! That I realized when I had dinner with H and he asked me, "Do you think she's married? The seller, she looks young but not too young."  So I said, "Uhmm I don't know and I don't care."  He then said again, "Yea I know, but I am curious about people. I am curious about what they're doing in life." That's when it came to my mind, "Wait a minute! I am also curious about people, but not their personal life like marital status, how many kids they have, what religion they believe in. I am curious about what they think about things! Ah that's why I love talking to people, no matter how introvert I am but talking to people still excites me." Then we finished our big nasi goreng together.  Looking back at it, I never really like people randomly talking to me when I was in the zone... Like zoning in and out talking to myself. But actually no, maybe it was only that we didn't sync so I went &qu

Perjalanan Pulang ke Indonesia saat Pandemi

Museum di Bur Dubai.

Perjalanan pulang ini amat sangat efektif daripada berangkatnya. Pukul 1 dini hari waktu Dubai gw berangkat ke bandara. Emirates udah mulai pakai check in tanpa petugas, self check in semuanya. Agak sedih gw karena... gw bawa barang banyak maunya tinggal diladeni aja. Udah capek banget soale. Tapi ya sudah, seperti biasa Dubai amat sangat efektif dalam segala hal mempersingkat waktu.

Kemudian perjalanan dimulai pukul 5 pagi. Gw pulang bareng rombongan TKI dari Saudi. Banyak dari mereka yang sudah tua dan kurang mampu memahami prosedur protokol terbaru selama pandemi. Gw bantu semampu gw jelasin waktu ada yang nanya, sembari nahan ngantuk. 

Gw sengaja pilih bangku tengah biar nggak ada orang yang duduk di samping gw. Tapi gw kaget karena udah ada dua orang duduk di deretan bangku gw, duduk sebelahan, satunya menempati tempat gw, satunya lagi batuk hebat. 

Gw sangat menghindari orang yang lagi batuk. Untungnya gw cukup beruntung karena bangku yang isi 4 itu kosong, jadi gw pindah duduk sana sampai tiba di Cengkareng. Pesawat mendarat pukul 15.20 sore. Seperti biasa, Emirates mampu memotong 30 menit perjalanan. Kemudian kami masuk ke ruang tunggu antrian. Di situ, kami harus nunggu rombongan Qatar Air diproses. Jadi bener-bener nggak bisa campur, kecuali dipersilakan. 

Dokumen yang harus diisi.

Kami disuruh duduk kok, sembari isi segala dokumen yang diperlukan. Selain dokumen yang sudah dibawa, ada dokumen tambahan kira-kira 3-4 lembar. Meski sudah mengisi e-HAC, tetep aja disuruh isi HAC lagi (kartu kuning). Setelah rombongan Qatar habis, kami dipersilakan berdiri menuju antrian yang ada thermal detector. Suhunya nampil di layar gitu. Kalau diatas 37, nomernya jadi merah. 

Disini kami antri untuk dicek saturasi oksigen dan juga dokumen kelengkapan. Ada hand sanitizer yang pake sensor. Saking ngantuk dan capeknya gw, doi gw tekan-tekan kok nggak keluar-keluar. Sampe dibantu penumpang lain.

Setelah itu, dibagi menuju loket untuk penumpang yang punya PCR dan tidak punya. Dipisah disini. Gw nggak tau proses yang tanpa PCR gimana, karena gw masuk ke loket yang pake PCR. Nah disini, antri lagi duduk sembari nunggu giliran. Ada satu dokumen yang akan ditandatangani petugas. Dokumen ini kebanyakan salah, ditandatangani penumpang yang bikin petugasnya marah-marah 😂 Ya tuhan untung gw nggak sengantuk itu buat bisa baca kalau gw nggak perlu tandatangan disitu. Petugasnya ngeluh "DUH capek banget gw, masih ada aja yang salah" Hmmm yang terbang lebih dari 7 jam ini juga capek lho sis. 

Gw dapet bapak petugas yang ramah banget, beliau cek dokumen dan penerbangan gw selanjutnya sembari bilang "Sampai di Bali jangan lupa karantina ya, sehat-sehat ya mbak" Tentu saja gw bales "Terima kasih pak, bapak juga sehat-sehat ya. Jangan sampai sakit"

Kind words, made my day.

Setelah itu bergerak ke imigrasi bagian stempel. Disini cepet juga karena ya ga antri banget. Kali ini loket Indonesian/KITAS yang rame. Karena ga ada WNA dengan free visa juga kan. Lalu menuju ambil koper. Kopernya kebetulan udah keluar. Lalu koper dicek petugas, beserta dokumen-dokumen yang tadi. Biasanya jarang banget dicek. Lalu berjalan menuju declare itu. Sebelum keluar gerbang kedatangan internasional, dokumen dicek lagi untuk kesekian kalinya 😳 

Total ada 6 sesi tunggu dan pengecekan dokumen dalam waktu satu jam. Pas satu jam prosesnya dari keluar pesawat hingga keluar kedatangan internasional. 

Menurut gw, udah cukup nggak bertele-tele sih. Cuma bagian terakhir aja yang menurut gw nggak perlu-perlu banget karena udah dicek pas ambil koper. Semua proses ini dibantu TNI. Waktu proses bagi-bagi dokumen untuk diisi menurut gw udah cukup informatif banget. Mereka membantu orang-orang yang kebingungan. Praktis juga, tegas juga. Tapi ya nggak semena-mena. Semua bekerja sesuai bagiannya.

Esoknya, dokumen yang gw dapet di hari itu gw pake untuk masuk ke bandara domestik menuju Bali. Semua dokumen itu pada akhirnya sih nggak diserahkan ke petugas sama sekali. Tapi sebagai dokumen agar bisa terbang. 

Berterimakasih karena semua bekerja sesuai dengan posnya. Prosesnya memang lebih lama daripada proses di Dubai ketika tiba di bandara, tapi untuk ukuran cara kerja "Indonesia" udah cukup oke kok. 

Jangan lupa, jaga kesehatan ya! 

Comments

  1. kalau dibaca dari awal sampai akhir, sungguh proses pengecekan berkas dan waktu perjalanan bikin capek ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget huhu :( mending di rumah juga deh

      Delete
    2. hahahah,ya namanya perjalanan jauh mbak, enjoy it aja kan mbak :)

      Delete
  2. Alhamdulillah kalo meningkat. Sepi sihhh

    Coba rame kaya biasa, pasti teriak-teriak kaya di terminal angkot, wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaaaa bener juga sih bang. bisa2 gw ikutan triak2 juga :D

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Mendaftar Pelatihan di Prakerja

Sanur Jadi dulu program ini diluncurkan pemerintah untuk kasih insentif orang yang di PHK atau tidak bekerja pas pandemi. Jadi ya gw tentu saja nggak punya hak tho. Sebagai orang yang nggak punya hak, ya gw nggak ikutan lah. Trus temen gw beberapa bulan lalu bilang, ikut aja soalnya ini buat yg kerja yg mau nunjang skill juga lho.  "Hah masa sih?" Yaudah pas liat oh ya bener juga, jadi gw daftar. Daftar pertama di gelombang 20 nggak lolos. Trus ya udah patah hati dah lah gausah daftar. Eh tiba-tiba minggu lalu temen gw lolos gelombang berapa gitu, lalu bilang kalau gelombang 29 udah buka. Yaudah deh ikutan aja. Eh lolos dong. Pembukaan gelombang ini termasuk cepet. Hampir tiap minggu selalu ada gelombang baru yang dibuka. Jadi daftar di gelombangnya itu selama 3 harian, pengumumannya 3 hari kemudian, lalu 3 hari kemudian udah bukaan baru. Bener-bener cepet banget. Nah temen gw yang lagi S2 nggak bisa ikutan padahal dia juga kerja sebagai pengajar. Alasannya KTP sudah terdafta

Tips Membeli Buku

Ada duitnya wkwkw! Ya maksud gw, harga buku di Indonesia bisa dibilang nggak murah terutama buku yang berbahasa asli misalnya Bahasa Inggris. Buku cetakan versi asli biasanya harganya bisa 2 kali harga buku terjemahannya, atau dua-tiga kali harga e-book. Ini e-book yang original ya, bukan yang bajakan. Kayak semacem beli di kindle atau books-nya google itu.  Kadang emang sering pengen beli fisik bukunya tapi kok harganya sampe 300ribu banget, sedangkan hasrat ingin membaca ini tinggi sekali. Nah, kalau skenario yang begini yang terjadi (dan paling sering), gw biasanya cek toko buku bekas dulu. Di Bali ada beberapa toko buku bekas yang reliable , meskipun koleksinya kita nggak akan tau ya karena ya random juga. Satu di Sanur, satu di Ubud.  Ini karena kapan hari gw udah beli bukunya Madeline yang Song of Achilles di Periplus, 200ribuan. Lalu nemuin bekasnya dengan sampul yang gw mau, cuma 25ribu. Jadi gw udah beli yang baru, beberapa hari kemudian gw ke toko buku bekas dan nemu itu. Set

I Thought I Hate People, but...

Sanur ... but I actually don't! That I realized when I had dinner with H and he asked me, "Do you think she's married? The seller, she looks young but not too young."  So I said, "Uhmm I don't know and I don't care."  He then said again, "Yea I know, but I am curious about people. I am curious about what they're doing in life." That's when it came to my mind, "Wait a minute! I am also curious about people, but not their personal life like marital status, how many kids they have, what religion they believe in. I am curious about what they think about things! Ah that's why I love talking to people, no matter how introvert I am but talking to people still excites me." Then we finished our big nasi goreng together.  Looking back at it, I never really like people randomly talking to me when I was in the zone... Like zoning in and out talking to myself. But actually no, maybe it was only that we didn't sync so I went &qu