Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Book : Jatuh Cintaku Pada Bumi Manusia



Gw tau buku ini justru dari H. Iya dari siapa lagi? Dia bilang katanya buku ini bagus, dia pengen baca. Ada berbagai macam versi bahasa kan ini. Tapi tak kunjung beli hingga akhirnya kemarin kok penasarannya memuncak dan pengen lah beli, kubelilah Bumi Manusia ini. Maksud hati beli versi Bahasa Inggris tapi nggak ada dong, yasudah. Padahal kalo beli versi Inggris kan ntar H bisa baca juga. 

Tapi membeli buku ini dalam versi Bahasa pun tak kusesali sama sekali. Sungguh ini buku bagus banget. Gw baca sample dalam Bahasa Inggris di kindle, terjemahannya bagus bener. Sama sekali nggak merubah esensi dan feel yang ada di buku itu. Begitu gw baca versi bahasa Indonesianya, ya tuhan! Gw jatuh cinta! Bahasa yang digunakan Pak Pram ini aduhai. Gimana ya? Seperti digunakan bahasa baku ala roman romansa tapi masih renyah dibacanya. Nggak kaku. Pinter amat sih nulisnya. Gw jadi iri banget.

Caranya mengutarakan "bercinta"
 
Gw udah jatuh cinta banget dari segi bahasa, penulisan, dan gayanya. Setelah mengenal setting lokasi dan tahunnya, makinlah ku jatuh cinta. Settingnya di awal abad ke-20 yang mana pergundikan dilarang sejak puluhan tahun lalu tapi masih ada juga aksi tersembunyi menyimpan gundik. OMG merinding lah ku dibuatnya. Disitu juga diceritakan gimana sih seorang Jawa yang sungguh sebenernya nggak bodoh dibandingkan Eropa, cuma aja dilarang mengenyam pendidikan kecuali beberapa keluarga pejabat. Jadilah terkesan bodoh, ya padahal cuma nggak tau sama seperti orang Eropa aja.

Gimana perlakuan kepada perempuan. Duh gemes lah gw! Gimana "pribumi" dimusuhi dan dianggap rendah. Eh itu rumah juga rumah pribumi, yang cuma "tamu" malah gatau diri. Gila ya! Gemes kan jadinya gw nih.

Sosok Nyai Ontosoroh begitu menamparku. Perempuan yang "dijual" bapaknya buat dijadiin gundik, bisa "menampar" pandangan orang tentang perempuan kala itu. Perempuan lokal jaman dulu kalo udah dijadiin gundik, biasanya dimusuhi orang karena ya nggak nikah secara agama, seringnya juga berakhir dibaptis, dituduh cuma cari enaena dan harta aja. Padahal jadi gundik juga nggak seperti yang orang pikirkan. Kalo beruntung ya dijadiin istri, kalo nggak beruntung ya.... begitulah.


Uniknya, Nyai Ontosoroh ini luarbiasa pinter karena akses yang diberikan tuannya terhadap pendidikan. Intinya si nyai ini nggak cuma urus rumah dan enaena aja tapi sampai urus perusahaan besar pula. Jarang kali itu. Bisa lah berdiri di kaki sendiri, tabungannya aja udah ribuan gulden yang kala itu belanja sebulan aja cukup 10 gulden bahkan kurang. Sungguh menginspirasi.

Hayo tebak ini foto di Surabaya bagian mana? 😄
 
Latar lokasi cerita diambil di Surabaya, sekitaran Wonokromo pisan. Gimana makin ga cinta coba? Gw pernah hidup di Surabaya dan juga familiar dengan beberapa set masa lalu yang ada di Surabaya.

Tokoh utama si Minke sebenernya ya. Setelah mengenal Minke, sekarang gw paham kenapa beberapa waktu lalu banyak orang protes yang bakal memerankan Minke adalah si Iqbal Dilan. Ya kita tunggu aja ya Minke versi Iqbal ini apakah memuaskan pembaca Tetralogi ini.

Buku ini buku kedua tercepat yang selesai kubaca setelah Persepolis. Semalem udah setengah buku aja. Sebegitu menariknya 😍 Harganya yang versi Indonesia 140ribuan, yang kindle versi Inggris USD 13.99. Kalau yang paperbook versi Inggris di periplus sekitar 270ribuan. Kalo yang bajakan yaaa 30ribuan. Tapi ada juga yang jual e-booknya 30ribuan.

 

Intinya satu sih, gw nyesel ga baca buku ini dulu-dulu. Nggak sabar buat baca Anak Semua Bangsa  💗 Btw tahun depan gw mau turunin aja deh reading challenge gw di goodreads. Masa iya 24 buku cuma kelar 7 buku 😓 Terlalu pemilih mah.

Gimana, ada yang udah baca buku ini juga?

Comments

  1. menarik ceritanya, bagus synopsisnya…
    thank you for sharing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sungguh menarik kakak :)
      Thankyou for stopping by :)

      Delete
    2. Buku karangan yang lainnya juga tidak kalah menariknya. Pokoknya saya hampir punya semua deh.

      Delete
  2. Ya telat, saya sudah lama, dan hampir dibilang semua karangan Pram saya punya. Dulu untuk mendapatkan buku karangan pram, harus sembunyi, alias dijual dengan terbatas. Sebab buku-buku karangan pram waktu itu dibakar atau disita penguasa.dan saya mendapatkan buku, langsung dari rumah pram waktu itu. Membacanya harus dilanjutkan dengan buku lainnya, ada empat buah kalau tidak salah, semisal rumah kaca, jejak langkah dan anak semua bangsa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. HUWAAAAAAAA mas bumi udah baca semua :O

      aku nyesel banget mas ini telat banget lah bacanya. sekarang lg baca yg kedua, anak semua bangsa. belom semalem udah baca 100 halaman aja. Saking kerennya gaya bahasa dan penulisannya pak pram nih. Ku jatuh cinta banget

      gimana itu kok bs dapet bukunya langsung dari penulisnya??? :O Tuh kan jadi iri lah aku. lebih iri lagi

      skg banyak di jual di mana2, cm yg anak smua bangsa ini yang susah abis dimana2

      Delete
  3. Judul yang ini belum baca, jadi penasaran pengen baca.
    D.waktu jajan buku nanti pengen coba cari-cari buku yang seperti ini.
    Oh ada ebooknya juga ya, Teh yang jual buku ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dibaca kak dibacaa yuk cus. bagus banget deh. berbobot tapi nggak krasa berat banget. Beda sama Max Havelaar yang antep banget isinya.

      nda jual bukunya hehe coba cari di toko2 online, banyak kok yang jual e-booknya :) ada juga yang free download sih hehhe

      Delete
  4. Mbak, saya punya LENGKAP semua karangan Pramoedya Ananta Toer, ihik...


    #pamer

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men