Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Setelah Beberapa Minggu Tinggal di Moskow

red square

Nggak ada yang bikin gw 100% kaget dengan perbedaan, cuma rada syiksyaksyok aja dikit. 

Beberapa bulan lalu gw ke sini buat jalan-jalan. Ada kenalan suami bilang, "Gila ya, orang Moskow tuh wangi-wangi banget. Penasaran banget pake parfum apa." Waktu itu beneran nggak ngeh karena lebih banyak bau rokok daripada parfum sih menurut gw. Orang Moskow kalo ngerokok 11-12 kayak orang Indonesia di warkop. 

Tapi otak udah terpapar ide tersebut, jadi waktu gw balik lagi ke sini, eh beneran dong mereka di jalan tuh wangi banget. Wanginya nggak nusuk, malah blend-in banget sama sekitar jadi nggak yang tiba-tiba puyeng makbrengg gitu baunya. Enak banget. Iya bener juga, gw jadi penasaran mereka pake parfum apa. Gw pengen beli. 

Orang bilang kalau orang Rusia tuh jarang senyum, kaku, yang mana gw rasain pas awal dateng ke sini. Tapi setelah tinggal di sini, nggak juga kok. Mereka senyum kalau kita ngobrol sama mereka. Emang sih beberapa tetep ada yang pahit tapi nggak semuanya. Cuma ya emang nggak senyum juga ke orang random yang ga kenal gitu, karena akan dianggap flirting (dan gila).

Toilet umumnya, behhh mantap kali. Bersih banget. Kira-kira selevel lah sama toilet restoran fancy di Indonesia. Beberapa emang ada yang bayar 100-150 rubel (dalam mall) tapi kalau di luar gratis. Ini yang bikin menganga karena gila banget sebersih sewangi itu. Nggak ada yang namanya tisu berantakan, basah becek. Nggak ada sama sekali. 

gw liat-liat orang sini rajin banget aktifitas bersih-bersihnya.

Nah berkenaan dengan merokok, ini budaya yang gw anggap agak aneh dikit. Di tengah-tengah makan di restoran, wajar buat mereka untuk ambil break di tengah-tengah makan untuk keluar merokok. Jadi kalau tiba-tiba ada meja kosong, tapi penuh makanan yang setengah habis, itu biasanya penghuninya lagi di luar ngerokok. Buat gw ini aneh banget. 

Jalanannya di sini bersih banget. Kalaupun ada perbaikan jalan, itu bisa selesai dalam waktu beberapa hari aja dan nggak ada bekasnya kalau itu baru aja diperbaiki. 

Kereta dan stasiunnya masih ala Soviet jadi keliatan banget tuanya. Tapi asik banget.


Stasiun bawah tanahnya banyak mosaik keren. Tangga untuk naik turunnya sangat panjang dan dalem banget. Konon kabarnya tujuannya sebagai shelter kalau-kalau ada sesuatu di atas sana. Masuk akal sih. Keretanya pun datang tiap 2 menit sekali, harga per tripnya cuma 63 rubel. Ini meski ganti-ganti kereta, sejauh apapun, ya segitu bayarnya. Gila kan. Murah banget. Kita nggak perlu tap out saat keluar stasiun.

Baru setengahnya

Stasiun sebelah 

Harga makanan di sini termasuk murah. Dalam artian untuk harga kisaran $3-$5 per porsi makan, porsinya gede banget. Kalau beli take out yang dari supermarket, per porsi sekali makan cuma $1-$3 aja tapi puas. Sedangkan kalau masak, lebih mahal lagi meskipun harga groceries masih termasuk 11-12 sama Indonesia. Tapi perlu diingat kalau harga tersebut meski murah, bisa saja hanya satu item. Misal makan ayam goreng enaknya pakai kentang goreng, ya mereka adalah dua hal yang berbeda harga. 

Ini harganya sekitar 289 rubel

Menu yang sama, ini harganya 400an rubel di restoran

Di Moskow nggak ada bawang merah yang kecil (shallot). Adanya yang segede bawang bombay. Jadi kalau bikin makanan Indonesia yang harus pake bawang merah kecil, agak tricky dikit. Masih bisa pakai yang besar, tapi rasa beda sedikit. Kalau mau beli bahan-bahan asia harus ke toko Cina atau Korea. 

cabe pedes beli di toko cina

OH IYA, di sini ada resto Korea Utara. Gw udah makan di sana 2 kali. Rasa makanannya enak banget. Agak lebih soft dibandingkan dengan makanan dari selatan. Restonya cuma ada satu ya (update ada resto baru satu lagi, agak upscale). Yang banyak di sini adalah resto makanan Vietnam. Buanyakkkk banget, tinggal ngesot aja. Tiap blok ada resto makanan Vietnam.

 
tulip

Satu hal yang bikin gw berbunga-bunga adalah kebiasaan orang Moskow untuk beli bunga. Cewe-cowo bawa sebuket bunga adalah hal yang normal di sini. Kebiasaan memberikan bunga untuk orang lain atau beli bunga untuk diri sendiri tuh wajar banget. Jadi seneng tiap jalan ngeliat buket-buket bunga warna warni cantik banget. 

Udara di sini jauh lebih kering daripada udara di Belanda. Menurut kulit gw yang sensitif, shea butter itu udah yang paling minimal buat kulit gw. Kalau nggak gitu nggak mempan. Segala krim harus yang thick banget. Update: setelah berbulan-bulan gawe bergantung pada La Roche Posay lipikar yang 400 ml untuk body lotion. Untuk wajah gw juga pakai LRP yang 75 ml lipikar baume, dan juga Illiyoon yang lotion karena thick banget. Udah itu aja. Sunscreen gw sekarang pakai Beauty of Joseon. 

salju bulan April


Dan bulan Mei masih bersalju ❆


Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Seolah Kalian Tau Segalanya

'Ihiw, ada bahan obrolan baru buat dianalisa dan dinyinyirin nih. Si dia mau kawin sama bule. Duitnya banyak kali. Ato kalo gak gitu yaaa dia cuma buat mainan aja' Kita nggak akan pernah memuaskan hasrat banyak orang demi membuat mereka semua senang. Jika kita ingin membuat pasangan hidup kita bahagia, ya wajar, ya normal. Tapi tidak untuk membuat para suporter ataupun hanya penonton dalam hidup kita bahagia juga kah? Toh dari setiap langkah yang kita ambil, benar maupun salah juga masih saja bisa diambil celah salahnya untuk diwejangi ala mereka. Atau lebih bekennya, dinyinyirin. Mungkin beberapa tulisan saya tentang menikahi WNA banyak yang terdengar 'keras', maafkan saya yang sedang jengkel-jengkelnya. Menikah dengan orang yang berbeda yang datangnya ribuan miles jauhnya dari Indonesia juga bukan hal yang mudah, you know! Tapi orang dengan mudahnya saja melihat kita yang sedang jalan berdua dan bertanya, atau nyeletuk istilahnya, 'Guidenya ya mbak?'...

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...