Skip to main content

Surviving -20 Celcius in Moscow

frozen lake in Moscow I'd say surviving because I am a tropical girl coming from 30-35 degree Celcius. So yes, this is about surviving such differences in temperature. I spent my whole life in a tropical country then I have to be in a -20 celcius, not an easy situation.  Obviously, I came prepared. I have been in a 0 celcius and learned that double triple layering is the right answer. Moscow has heater that runs nonstop since the beginning of (probably, I dont remember) November until early May. So you technically can not turn it off or on. Many days it gets too hot inside. Going to the mall in Moscow got me super sleepy and tired because it feels most of the time like in Sauna. So, double triple layering in Moscow is the right thing to do.  November temperature usually started to feel chilly, still not lower than 0. December will get colder can be minus. But January and February are the coldest season. This year dropped to -20 (that I can remember). The average temperature wa...

Cerita Marji Tentang Persepolis

 
Persepolis (taken from hitchhikershandbook.com)

Apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata Iran? Kalau mama papa sih mikirnya Iran negara yang tidak aman. Sesaat setelah terjadi bom di Tehran, kita merencanakan untuk pergi kesana yang ternyata berubah destinasi menjadi Dubai, mereka mikir Iran sedang dalam keadaan darurat teroris. Ya untuk kota-kota penting dan besar yang sering jadi sasaran teror layaknya Jakarta sih masih bisa dimaklumi (karena sejatinya ancaman teroris selalu mengejar kita).

Kalau kata suami, Iran itu negaranya cantik. Semacam persuasif bagi saya ya, jadi pengen ke Iran juga (tapi kabarnya urus visanya agak panjang prosesnya sekarang ini).

Tiba-tiba saya menemukan buku yang judulnya Persepolis. Dan buku ini adalah one of the best books yang pernah saya baca. Suami aja kaget kok saya bisa nemu buku ini (soale biasanya saya baca buku bagus hasil rekomendasi dia tapi kali ini dapet sendiri).

Buku ini adalah salah satu karya cerdas Marjane Satrapi. Marji menggambarkan bagaimana hidupnya sedari kecil hingga keluar dari Iran untuk melihat hal baru hingga kembali lagi ke Iran. Kita semua tau bahwa Iran yang di embargo Amerika sampai-sampai Iran tidak menerima segala macam bentuk kartu kredit (karena kartu kredit produknya Amerika katanya). Sik sik ini kok kayaknya nggak nyambung ya? gapapa wis buat nambah ilmu. 

Buku ini dimulai dari kejadian tahun 1979 ketika revolusi terjadi, they call it revolusi Islam. Semua hal yang tadinya bebas berubah menggunakan hukum islam. Termasuk menyuruh wanita menggunakan penutup kepala dan tidak boleh menggunakan celana. Kalau nggak pakai gimana? Ya kalau ketauan pengontrol jalanan, otomatis suruh bayar denda atau dipenjara. Tergantung hukum apa yang dilanggar. Tapi cara mengenakan kerudung bagi Iranian berbeda dengan orang lain kebanyakan. Pokoknya asal dislempangin aja pokoknya di kepalanya ada penutupnya, meskipun nggak cover semua rambutnya.

Nah sejak tahun 1980 ini semuanya berubah total. Sekolah bilingual harus ditutup semua, segala macam jenis pendidikan harus di perbanyak porsinya untuk agama islam, sederhananya mereka di doktrin secara strict dengan hukum islam. Hingga pemerintahan memiliki petugas patroli jalanan yang fungsinya mengontrol setiap perilaku orang dijalanan, termasuk jika ada sepasang sejoli berjalan bersama, besar kemungkinan mereka akan di intrograsi hubungan mereka apa (yang ini suami pernah liat sendiri katanya).

Spoiler alert!

Marji merupakan sosok perempuan yang dibesarkan secara bebas dan demokratis oleh keluarganya. let say, Marji is such kind of rebel girl. Marji tumbuh menjadi sosok yang berani. Berani melawan apapun yang tidak sesuai logikanya. Marji kecil merupakan sosok yang lebih spiritual, bahkan bercita-cita menjadi seorang nabi. Hingga suatu ketika peristiwa revolusi itu terjadi, Marji kecil mulai tidak 'percaya' kepada tuhan yang selalu dipujinya. Menurut pandangan saya pribadi, sosok tuhan yang kita percayai pasti mengajarkan semua kebaikan bagi pengikutnya. Tidak ada yang mengajarkan keburukan, meskipun dalam kitab yang saya percayai ada beberapa hal yang terdengar seperti kekerasan, tapi kembali lagi, kitab tersebut diturunkan di jaman orang yang tidak bisa sama sekali diberitahu dengan lembut dan santai, jadi kudu agak keras agar mereka paham. Seiring dengan berkembangnya jaman, tentunya cara berpikir manusia juga berubah menjadi lebih canggih dan lebih luas. Tentu saja kita tidak bisa semena-mena dengan mata tertutup melakukan kekerasan dan menjustifikasinya dengan alasan bahwa kitab kita menyuruh kita melakukannya (bahkan untuk hal yang katanya baik sekalipun, kita harus berpikir panjang dengan alasan yang logis agar tidak menyakiti orang lain, tentunya dengan alasan yang rasional dan jangan pernah sekali-kali justifikasi nafsu kita menggunakan kitab kita).

Revolusi Iran mengubah hidupnya. Orangtua Marji merasa mereka harus menyelamatkan putri mereka dengan cara mengirimkannya ke Amerika. Tapi karena alasan politik mereka tidak semudah tahun sebelumnya mengeluarkan visa Amerika untuk warga Iran. Marji pun dikirim ke Eropa. Surprisingly, banyak orang Eropa yang tidak mengetahui keberadaan Iran. Bahkan tidak tahu bahwa Iran itu ada. Marji meninggalkan Iran yang sedang dibombardir sana sini.

Marji hidup bertahun-tahun di negeri orang, dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih baik. Tapi Marji merasa gagal. Marji terlalu terlena mendapatkan kebebasannya diluar sana. Merasa gagal dengan kehidupan asmara, pendidikannya, kehidupan sosialnya, Marji rindu akan kampung halamannya dan memutuskan untuk pulang.

Enough for spoiler!

 

Kenapa buku ini layak baca? Karena buku ini memberikan gambaran politik dari revolusi yang ada disana dari sudut pandang citizen yang tertarik akan politik. Buku ini ringan tapi berbobot. Bentuknya komik, tapi baru kali ini saya bisa baca komik. Penyajian grafiknya juga menarik. Bahkan filmnya pun juga bentuknya persis seperti bukunya, bedanya buku dengan filmnya hanya terletak pada gambar bergerak dan gambar diam saja. Papa mertua memberikan copy filmnya, tapi sayang dalam bahasa Prancis dan belum nemu subtitle nya.

Harga buku ini, karena impor ya, tapi saya beli di tokopedia dengan harga sekitar 170ribuan (kalau nggak salah inget sih). Yang jelas buku ini worth to read 👍

Tenang, gw udah update review gw di goodreads huhhu

Comments

Popular posts from this blog

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Fire in the Building

Who would have thought that I  experienced fire in the building.  This is my first time living in an appartement. Of course I never chose appartement when living in Indonesia because it’s a real high risk when the earthquake happen. But here we are placed in an appartement. What got me relieved the first time that we are in the lowest floor so if something happen we will be quickly evacuated.  That’s what I thought.  Until it really happened.  We slept around midnight and abruptly woken up by the noise outside. I thought it was the drunk people just got back from night club or the restaurant next door was doing some deep cleaning. So loud that I had to wake up. My husband peeked outside and immediately said “fire brigade outside, you wait here!” I was just “am I dreaming or what?” I put on clothes, checked outside and saw a few of fire trucks. I checked the other side of the appartement and saw a few of police cars and ambulances.  “Oh no, something serious...

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...