Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Mengenal Nyai, Eyang Buyut Orang Indo Kebanyakan

 

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang darah campuran Eropa, saya pernah janji nulis tentang orang Indo dan Nyai, nenek buyut dari para Indo kebanyakan. Sekarang kita liat definisi dari Indo sendiri. Jadi Indo (Indo-Europeaan atau Eropa Hindia) adalah para keturunan yang hidup di Hindia Belanda (Indonesia) atau di Eropa yang merupakan keturunan dari orang Indonesia dengan orang Eropa (Kebanyakan Belanda, Jerman, Prancis, Belgia). Itulah kenapa saya agak risih mendengar orang menyebut Indonesia dengan singkatan Indo. Karena kedua hal itu beda definisi dan arti.

Sekarang apa itu Nyai? Apa definisi dari Nyai? Nyai adalah seorang perempuan pribumi (bisa jadi orang Indonesia asli), Tionghoa dan Jepang yang hidup bersama lelaki Eropa di masa Hindia Belanda. Hidup bersama atau samenleven yang artinya kumpul kebo, tidak menikah. Fungsinya nyai itu apa? Fungsinya diatas seorang baboe dan dibawah seorang istri, tapi wajib melakukan kewajiban seorang baboe dan istri. Karena memiliki istri bagi prajurit Belanda kala itu adalah hal yang mahal dan mustahil, tapi mereka juga memiliki hasrat untuk melampiaskan kebutuhan biologis mereka, akhirnya mereka diijinkan mengambil nyai. Awalnya nyai tidak diperbolehkan, namun karena sifat devoted nya seorang pribumi terhadap tuannya, yang mana itu artinya juga menjaga tuannya dari penyakit kelamin (bagi Belanda jaman dulu lebih baik mengobati prajurit yang terkena penyakit kelamin daripada harus mendatangkan prajurit baru lagi yang biayanya jauh lebih mahal dan tidak efisien), maka memelihara nyai pun akhirnya diijinkan.

Namanya juga hidup bersama, resiko untuk menghamili nyai nya sangat besar. Kurang disebutkan dalam buku tersebut tentang penggunaan kapotje (kondom), tapi yang jelas banyak dari nyai yang melahirkan anak lebih dari dua.

Menurut cerita dahulu, memiliki istri bagi prajurit artinya adalah menikah dengan seorang wanita kulit putih yang mana banyak menguras uang mereka dan juga kehidupan para istri Eropa yang selalu minta dimanjakan a.k.a diperlakukan ala putri. Bagi petinggi sih nggak masalah, yang masalah adalah bagi para prajurit rendahan. Mereka hanya mampu memelihara nyai, yang katanya dikasih uang berapapun akan ditrima dan akan dengan rela ikhlas mengurus tuan mereka layaknya seorang suami bagi mereka. Sifat ini masih diturunkan hingga generasi sekarang, yang mana istri akan secara otomatis berbakti kepada suami.

Bagi para prajurit yang terlanjur jatuh cinta kepada nyainya, dan juga berbaik hati kepada nyainya, sebut saja para nyai yang beruntung maka akan dinikahi dan status anaknya diakui. Dengan status anak yang diakui ini, maka secara otomatis sang anak akan ikut warga negara sang bapak. Tapi bagi nyai yang tidak beruntung, sang tuan akan mendepak nyai keluar dari rumahnya yang akan digantikan dengan istri Eropanya, dan nasib anak pun tak jelas karena tak mendapat pengakuan. Pun begitu dia bisa dipindahtangankan untuk menjadi nyai dari teman prajurit yang lain. Banyak dari mereka berusia muda dan memiliki tuan yang usianya jauh diatasnya. 

Kesannya enak banget sih para tuan itu, dapet yang enak-enaknya aja, lah nyainya? Habis manis sepah dibuang. Padahal juga belom sepah-sepah banget. Ada banyak tuan yang meninggalkan nyainya tapi tetap mengakui anaknya. Dan setiap anak yang diakui akhirnya harus dikirim ke Belanda untuk sekolah sejak usia 5 tahun. Meninggalkan sang ibu dan negeri ini. Banyak dari para nyai yang kehilangan kontak dengan anaknya sejak saat itu.

Ketika Jepang mengambil alih kuasa dari Belanda, para Indo yang ada di Indonesia harus dikirim kembali ke Belanda, demikian pula dengan pengiriman prajurit Belanda kembali ke Kerajaan Belanda. Bagaimana dengan nasib nyai? Nasib nyai itu kasian, apa lagi nyai yang kurang beruntung. Dia hidup di caci maki masyarakat yang menganggap hidup bersama dengan lelaki tanpa pernikahan adalah hal yang menjijikkan, sedangkan mereka juga membutuhkan uang untuk hidup. Belum lagi ketika dipisahkan dengan anaknya untuk kembali lagi ke Belanda, sedangkan sang ibu ditinggalkan di negeri ini sakit-sakitan. Sakit karena menahan rindu kepada anaknya, dan nelongso dicampakkan begitu saja oleh tuannya. Ada kemungkinan sang nyai menjadi jugun ianfu di jaman penjajahan Jepang (ada kemungkinan, karena hal ini tidak disebutkan, ini hanya pendapat pribadi). Banyak dari mereka mati karena sakit perasaan yang terlalu dalam. Tapi ada juga para nyai yang akhirnya memilih untuk pergi ke Belanda untuk berada bersama anak-anaknya (bagi yang mampu, karena tidak semua mampu).

Itulah kenapa banyak keturunan Indonesia dengan orang Eropa (terutama Belanda) yang berada di Belanda (dan juga di Indonesia). Seperti kata papa mertua saya, kamu akan merasa seperti dirumah jika ada disini, karena saking banyaknya juga sekarang orang Indonesia yang menikah dengan orang Belanda.

Pertanyaan saya, kenapa banyak bener orang Indonesia yang nikah sama orang Belanda? Termasuk gw 😁

Buku ini bener-bener menarik banget buat dibaca, apalagi buat history addict dan juga keturunan Indo, coba dibaca.

 
 Pic : bukukomunitasbambu.com

Data Buku
Judul : Nyai dan pergundikan Hindia Belanda(De Njai dalam bahasa Belanda)
Pengarang : Reggie Bay
Penjual : Online pas nemu di Tokopedia (nyarinya setaun lebih), tapi kemaren pas ke Gramedia ada nih buku, yang bikin pengen obrak abrik toko buku aja haha!
Harga : Gramedia 90,000 ; tokopedia kemarin pas beli IDR 70,000 belum ongkir
Rate pribadi : 4,8/5,

Worth to read banget buat nambah pengetahuan sejarah. Dijelaskan juga tentang bagaimana mereka mendoktrin pribumi agar mendorokan para Belanda, yang sayangnya masih menurun sampai saat ini karakter tersebut. 

Beberapa hal yang sekarang saya pahami kenapa itu terjadi saat ini :

1. Sifat mendorokan kulit putih yang diturunkan dari masa penjajahan. Nggak heran sampai sekarang sifat itu masih bisa dilihat. Bedanya, jaman dulu kumpul kebo dengan lelaki kulit putih bukan merupakan pilihan dan mereka dipandang tak terhormat, tapi sekarang adalah kebalikannya contoh : banyak bule hunter yang ngejar ras kulit putih demi mungkin demi kenaikan status agar dilihat terhormat. Ini menurut cara pandang orang Asia kebanyakan (ah bosen ah bahas dukanya kawin campur!)

2. Haram hukumnya menikahi kafir. Kafir dalam hal ini adalah orang yang bukan beragama katolik. Karena merek hanya ingin anak yang dihasilkan adalah murni katolik tanpa campuran ras Indonesia yang kebanyakan bukan katolik.

3. Pribumi dan tionghoa sama-sama direndahkan oleh ras kulit putih. Dari dulu mereka berjuang bersama lho. Herannya kenapa sekarang banyak orang musuhin orang tionghoa hayo?

4. Jaman dulu anak Indo tidak memiliki tempat di dua dunia, mereka dianggap anak pembawa karakter negatif dari kedua orangtuanya. Mereka dipercaya adalah turunan yang memiliki semua karakter buruk dari orangtuanya, hingga hal ini ditentang Douwes Deker (Multatuli). Nah bedanya sekarang, anak Indo gampang bener ya ngartis?

Jaman emang udah beda!


Jangan lupa share ceritanya kalau udah baca ya 😉

Comments

  1. bagus ni ceritanya, latarbelakangnya tentang sejarah. di gramed ada gk ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemaren sih pas aku udah beli tuh buku online, dia tiba2 nongol di gramedia malang. Padahal setaun dua taun aku nyatroni gramedia nggak ada haha
      Coba aja gramed dlu, kl ga ada coba di tokopedia. Yg jual toped cm satu haha.

      Bagus lho! Worth to read banget! Selaamat membacaaa

      Delete
  2. ini belum beli aku, nunggu neraca APBN sehat xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muahahaha
      Pinjem a? Eh ojok wes, ga enak lhooo kalo ga beli *godaansetan😌

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Gojek ke bandara juanda

While waiting, jadi mending berbagi sedikit soal gojek. Karena saya adalah pengguna setia gojek, saya pengen cobain ke bandara pake gojek. Awalnya saya kira tidak bisa *itu emang sayanya aja sih yang menduga nggak bisa*, trus tanya temen katanya bisa karena dia sering ke bandara pakai motornya. Nah berarti gojek bisa dong?? Sebelum-sebelumnya kalo naek gojek selalu bayar cash, tapi kali ini pengen cobain top up go pay. Minimum top up 10ribu. Jadi saya cobain deh 30ribu dulu. Eh ternyata lagi ada promo 50% off kalo pake go pay. Haiyaaaaa kenapa ga dari dulu aja ngisi go pay hahaha. Dari kantor ke bandara juanda sekitar 8km. Kantor saya sih daerah rungkut industri. Penasarannn banget ini abang mau lewat mana ya. Tertera di layar 22ribu, tapi karena pakai go pay diskon 50% jadinya tinggal 11ribu. Bayangin tuhh... pake bis damri aja 30ribu hahaha. 11ribu udah nyampe bandara. Biasanya 15ribu ke royal plaza dari kantor haha. Lagi untung. Bagus deh. Nah sepanjang perjalanan, saya mikir ter