Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Mengenal Nyai, Eyang Buyut Orang Indo Kebanyakan

 
Bukan Nyai, hanya seorang nenek Indo yang lagi belanja di pasar beli pindang buat sarapan

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang darah campuran Eropa, saya pernah janji nulis tentang orang Indo dan Nyai, nenek buyut dari para Indo kebanyakan. Sekarang kita liat definisi dari Indo sendiri. Jadi Indo (Indo-Europeaan atau Eropa Hindia) adalah para keturunan yang hidup di Hindia Belanda (Indonesia) atau di Eropa yang merupakan keturunan dari orang Indonesia dengan orang Eropa (Kebanyakan Belanda, Jerman, Prancis, Belgia). Itulah kenapa saya agak risih mendengar orang menyebut Indonesia dengan singkatan Indo. Karena kedua hal itu beda definisi dan arti.

Sekarang apa itu Nyai? Apa definisi dari Nyai? Nyai adalah seorang perempuan pribumi (bisa jadi orang Indonesia asli), Tionghoa dan Jepang yang hidup bersama lelaki Eropa di masa Hindia Belanda. Hidup bersama atau samenleven yang artinya kumpul kebo, tidak menikah. Fungsinya nyai itu apa? Fungsinya diatas seorang baboe dan dibawah seorang istri, tapi wajib melakukan kewajiban seorang baboe dan istri. Karena memiliki istri bagi prajurit Belanda kala itu adalah hal yang mahal dan mustahil, tapi mereka juga memiliki hasrat untuk melampiaskan kebutuhan biologis mereka, akhirnya mereka diijinkan mengambil nyai. Awalnya nyai tidak diperbolehkan, namun karena sifat devoted nya seorang pribumi terhadap tuannya, yang mana itu artinya juga menjaga tuannya dari penyakit kelamin (bagi Belanda jaman dulu lebih baik mengobati prajurit yang terkena penyakit kelamin daripada harus mendatangkan prajurit baru lagi yang biayanya jauh lebih mahal dan tidak efisien), maka memelihara nyai pun akhirnya diijinkan.

Namanya juga hidup bersama, resiko untuk menghamili nyai nya sangat besar. Kurang disebutkan dalam buku tersebut tentang penggunaan kapotje (kondom), tapi yang jelas banyak dari nyai yang melahirkan anak lebih dari dua.

Menurut cerita dahulu, memiliki istri bagi prajurit artinya adalah menikah dengan seorang wanita kulit putih yang mana banyak menguras uang mereka dan juga kehidupan para istri Eropa yang selalu minta dimanjakan a.k.a diperlakukan ala putri. Bagi petinggi sih nggak masalah, yang masalah adalah bagi para prajurit rendahan. Mereka hanya mampu memelihara nyai, yang katanya dikasih uang berapapun akan ditrima dan akan dengan rela ikhlas mengurus tuan mereka layaknya seorang suami bagi mereka. Sifat ini masih diturunkan hingga generasi sekarang, yang mana istri akan secara otomatis berbakti kepada suami.

Bagi para prajurit yang terlanjur jatuh cinta kepada nyainya, dan juga berbaik hati kepada nyainya, sebut saja para nyai yang beruntung maka akan dinikahi dan status anaknya diakui. Dengan status anak yang diakui ini, maka secara otomatis sang anak akan ikut warga negara sang bapak. Tapi bagi nyai yang tidak beruntung, sang tuan akan mendepak nyai keluar dari rumahnya yang akan digantikan dengan istri Eropanya, dan nasib anak pun tak jelas karena tak mendapat pengakuan. Pun begitu dia bisa dipindahtangankan untuk menjadi nyai dari teman prajurit yang lain. Banyak dari mereka berusia muda dan memiliki tuan yang usianya jauh diatasnya. 

Kesannya enak banget sih para tuan itu, dapet yang enak-enaknya aja, lah nyainya? Habis manis sepah dibuang. Padahal juga belom sepah-sepah banget. Ada banyak tuan yang meninggalkan nyainya tapi tetap mengakui anaknya. Dan setiap anak yang diakui akhirnya harus dikirim ke Belanda untuk sekolah sejak usia 5 tahun. Meninggalkan sang ibu dan negeri ini. Banyak dari para nyai yang kehilangan kontak dengan anaknya sejak saat itu.

Ketika Jepang mengambil alih kuasa dari Belanda, para Indo yang ada di Indonesia harus dikirim kembali ke Belanda, demikian pula dengan pengiriman prajurit Belanda kembali ke Kerajaan Belanda. Bagaimana dengan nasib nyai? Nasib nyai itu kasian, apa lagi nyai yang kurang beruntung. Dia hidup di caci maki masyarakat yang menganggap hidup bersama dengan lelaki tanpa pernikahan adalah hal yang menjijikkan, sedangkan mereka juga membutuhkan uang untuk hidup. Belum lagi ketika dipisahkan dengan anaknya untuk kembali lagi ke Belanda, sedangkan sang ibu ditinggalkan di negeri ini sakit-sakitan. Sakit karena menahan rindu kepada anaknya, dan nelongso dicampakkan begitu saja oleh tuannya. Ada kemungkinan sang nyai menjadi jugun ianfu di jaman penjajahan Jepang (ada kemungkinan, karena hal ini tidak disebutkan, ini hanya pendapat pribadi). Banyak dari mereka mati karena sakit perasaan yang terlalu dalam. Tapi ada juga para nyai yang akhirnya memilih untuk pergi ke Belanda untuk berada bersama anak-anaknya (bagi yang mampu, karena tidak semua mampu).

Itulah kenapa banyak keturunan Indonesia dengan orang Eropa (terutama Belanda) yang berada di Belanda (dan juga di Indonesia). Seperti kata papa mertua saya, kamu akan merasa seperti dirumah jika ada disini, karena saking banyaknya juga sekarang orang Indonesia yang menikah dengan orang Belanda.

Pertanyaan saya, kenapa banyak bener orang Indonesia yang nikah sama orang Belanda? Termasuk gw ๐Ÿ˜

Buku ini bener-bener menarik banget buat dibaca, apalagi buat history addict dan juga keturunan Indo, coba dibaca.

 
 Pic : bukukomunitasbambu.com

Data Buku
Judul : Nyai dan pergundikan Hindia Belanda(De Njai dalam bahasa Belanda)
Pengarang : Reggie Bay
Penjual : Online pas nemu di Tokopedia (nyarinya setaun lebih), tapi kemaren pas ke Gramedia ada nih buku, yang bikin pengen obrak abrik toko buku aja haha!
Harga : Gramedia 90,000 ; tokopedia kemarin pas beli IDR 70,000 belum ongkir
Rate pribadi : 4,8/5,

Worth to read banget buat nambah pengetahuan sejarah. Dijelaskan juga tentang bagaimana mereka mendoktrin pribumi agar mendorokan para Belanda, yang sayangnya masih menurun sampai saat ini karakter tersebut. 

Beberapa hal yang sekarang saya pahami kenapa itu terjadi saat ini :

1. Sifat mendorokan kulit putih yang diturunkan dari masa penjajahan. Nggak heran sampai sekarang sifat itu masih bisa dilihat. Bedanya, jaman dulu kumpul kebo dengan lelaki kulit putih bukan merupakan pilihan dan mereka dipandang tak terhormat, tapi sekarang adalah kebalikannya contoh : banyak bule hunter yang ngejar ras kulit putih demi mungkin demi kenaikan status agar dilihat terhormat. Ini menurut cara pandang orang Asia kebanyakan (ah bosen ah bahas dukanya kawin campur!)

2. Haram hukumnya menikahi kafir. Kafir dalam hal ini adalah orang yang bukan beragama katolik. Karena merek hanya ingin anak yang dihasilkan adalah murni katolik tanpa campuran ras Indonesia yang kebanyakan bukan katolik.

3. Pribumi dan tionghoa sama-sama direndahkan oleh ras kulit putih. Dari dulu mereka berjuang bersama lho. Herannya kenapa sekarang banyak orang musuhin orang tionghoa hayo?

4. Jaman dulu anak Indo tidak memiliki tempat di dua dunia, mereka dianggap anak pembawa karakter negatif dari kedua orangtuanya. Mereka dipercaya adalah turunan yang memiliki semua karakter buruk dari orangtuanya, hingga hal ini ditentang Douwes Deker (Multatuli). Nah bedanya sekarang, anak Indo gampang bener ya ngartis?

Jaman emang udah beda!


Jangan lupa share ceritanya kalau udah baca ya ๐Ÿ˜‰

Comments

  1. bagus ni ceritanya, latarbelakangnya tentang sejarah. di gramed ada gk ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemaren sih pas aku udah beli tuh buku online, dia tiba2 nongol di gramedia malang. Padahal setaun dua taun aku nyatroni gramedia nggak ada haha
      Coba aja gramed dlu, kl ga ada coba di tokopedia. Yg jual toped cm satu haha.

      Bagus lho! Worth to read banget! Selaamat membacaaa

      Delete
  2. ini belum beli aku, nunggu neraca APBN sehat xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muahahaha
      Pinjem a? Eh ojok wes, ga enak lhooo kalo ga beli *godaansetan๐Ÿ˜Œ

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home ๐Ÿ’™ It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men