Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Tentang (Bahasa) Korea

 

Apa yang pertama kali kepikiran pas denger kata Korea? Hemm mungkin Kpop? Atau alay? Nggak bisa dipungkiri juga sih banyak KPopers yang sungguh ngegasnya luar biasa. Dulu kita termasuk golongan yang "selow". Cukup mencintai bias masing-masing di satu boyband dan berlaku adil kepada lainnya. Lambat laun, kelas kita mulai jadi random KPopers. Udah mulai oke lah welcome sama yang lainnya dan menikmati lainnya. Nah trus sekarang sih gw masih nonton drama Korea karena perlu tapi udah jarang banget update soal musik-musik dan idol terbaru. Jadi udah mulai netral.

Tapi gw bukan garis keras lah. Karena kalo yang garis keras pasti berusaha mati-matian beli album artis idolanya dan segala pernak perniknya dan bahkan rela mengeluarkan uang jutaan lah untuk konser dll. Nggak masalah. Asal duit mampu buat itu. Kalo gw cenderung cari untungnya dari suka Korea ini mulai dari bantu temen jualan merch Korea sampai ngajar Bahasa Korea dengan segala tetek bengeknya dong. Ga mau rugi.

Nah soal bahasanya, ini bahasa bener-bener kek bahasa penuh dengan perasaan. Makin lama makin sebel banyak banget aturan yang nggak baku. Tapi ya karena banyaknya itu sebenernya justru lebih gampang mendefinisikan atau mengetahui perasaan dan pandangan orang terhadap apa yang diutarakannya. Ribet juga kan?

Sampe sekarang gw masih belajar terus improve kemampuan ini. Daripada udah belajar tapi sia-sia nggak dapet apa-apa kan. Bahasa Korea ini mirip bahasa Jawa lah yang punya level ngoko sampai kromo paling alus. Kalau jelasin ke murid yang orang Jawa, gampang. Tapi kalau yang orang luar Jawa, bingung jelasinnya. Orang Korea cenderung nggak mau kalo nggak diperlakukan dengan sopan. Jadi ya jangan heran kalau pertama kali ketemu yang ditanyain umur 😃

Bentuk tulisannya sih gampang banget, bacanya gampang, itulah alasan pertama kenapa gw belajar Bahasa Korea karena ya bacanya lebih gampang daripada Jepang dan Mandarin. Cuma cukup mampus aja pas masuk gramatikanya. Riweh.

Tapi meski begitu, makin lama makin banyak yang minat belajar bahasa ini lho. Bukan hanya untuk gaya-gayaan karena  KPopers tapi karena tujuannya untuk sekolah dan kerja. Dan udah semakin jarang banget gw ngajar orang yang murni cuma karena KPopers aja. Mereka pasti tujuannya kalo nggak sekolah, kerja, ya penunjang skill bahasa lainnya yang nanti bisa jadi kepakai suatu saat nanti.

Nah kalau kalian ingin melancarkan kemampuan bahasa kalian, rajin-rajinlah nonton drama, reality show atau film. Karena dialog drama sehari-hari akan sangat membantu menambah vocab baru dan juga mengenal ekspresi atau idiom yang mungkin nggak ada di buku. Kalau lagu... bisa sih, tapi lagu cenderung menyesuaikan irama dan nada jadi kurang memperhatikan estetika gramar bahkan sering penggal semau sendiri aja. Pengalaman lho kita berantem sama Orang Korea yag ngajarin kita gara-gara bahasa dalam lagu. Ngotot sama orang asli sana 😁

Tulisan ini ditulis dengan pengharapan Pemerintah Korea Selatan mengabulkan permintaan Presiden RI untuk mencabut visa ke Korea Selatan untuk WNI 😇 Sungguh ku berharap sangat lol!

Comments

  1. kalau saya sih begitu denger kata Korea yang kebayang pasti nami islandnya hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awww winter sonata ya? :)

      keknya pas dikunjungi pas musim gugur semi gitu ya hehehe

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men