Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Pentingnya Asuransi Kesehatan


Jujur sih gw kurang paham dengan scene menunggaknya tagihan BPJS ke rumah sakit/faskes yang ditunjuk. Tapi bisa jadi itu juga soal pengguna BPJS yang molor bayar atau malas bayar. Disini juga gw ngga bakal bahas masalah itu karena sangat diluar ranah saya (elahh iyalah gw idupnya sama angka dan huruf korea aja lol).

Histori pemakaian BPJS gw juga sebenernya peralihan dari ASKES (karena babe adalah PNS yang ASKES nya cover buat 2 orang anak juga hingga si anak lulus kuliah) ketika lulus kuliah. Karena selalu terbantu dengan ASKES, maka sesegera mungkin babe daftarin anaknya BPJS. Karena pribadi, kemudian kerja di kantor dan di cover kantor, jadi kudu dialihkan lagi dari BPJS pribadi ke BPJS yang ditanggung kantor dan prosesnya terkendala sekian bulan jadi harus bayar 1,5juta. Setelah dibayar langsung jadi tanggungan kantor (yg sebenernya juga gw ikutan bayar juga kan dipotong gaji). Setelah resign dan harus dipindah ke pribadi lagi, alhasil berbulan-bulan juga jadi bayar 1juta.

Dulu pengguna ASKES hanya pegawai negeri dan keluarganya saja. Masyarakat umum nggak bisa dapet asuransi kesehatan kecuali ikut asuransi swasta. Lambat laun ternyata dibikinlah sistem asuransi kesehatan khusus warga miskin. Agak aneh sih karena menurut gw asuransi kesehatan adalah hak semua warga. Nggak kaya miskin harus terjamin kesehatannya. Kemudian lahirnya BPJS ini yang mampu mengakomodir kebutuhan kesehatan bagi semua warga. Kaya miskin, pertanyaan pertama di rumah sakit adalah "Punya BPJS? Atau asuransi kesehatan?".

penampakan Kartu BPJS yang merge dengan KIS

Sebetulnya tulisan ini bukan soal BPJS, tapi tentang asuransi kesehatan. Banyak yang cerita ke gw kalo BPJS ini kurang ciamik. Ya lagi-lagi bukan urusan gw ya apa yg ada dibelakang layar mereka tapi selama mereka masih melayani dan fasilitas bisa gw pake yaudah. Asuransi kesehatan yang murah disini adalah BPJS dengan harga mulai 25ribu untuk kelas 3 hingga 80ribu untuk kelas 1. Yang membedakan bukan obat yang diberikan untuk penyakit yang sama tapi lebih kepada kamarnya. Bisa upgrade tapi selisih biaya ditanggung sendiri. Sedangkan untuk asuransi swasta biasanya tarifnya lebih mahal tapi servis juga agak lebih daripada BPJS. Kembali lagi soal harga tergantung kemampuan. Kalau mampunya pake yang murah yaudah yang murah aja, kalo mampunya pake yang mahal yaudah beli yang mahal.

Banyak banget temen yang nggak mau pake (dalam hal ini) BPJS karena pelayanannya katanya nggak bagus kalo dirumah sakit. Sedangkan kalo pake asuransi swasta gitu mereka ga sanggup bayar. Akhirnya mereka pake biaya sendiri yang biasanya mahal dong sekali periksa. Atau cerita lain yang nggak kalah seru adalah "Masa aku ga sakit masih harus bayar? Enak dong mereka pake duit kita terus? Lagian ngapain pake asuransi kesehatan sih, kek doain kita sakit aja". Elahhh bukan gitu juminten! Ya okelah nggak bisa disalahin juga dong mereka mikirnya gitu, tapi kok sedangkal itu sih.

Siapa coba manusia yang pengen sakit?? Nggak ada dong. Tapi beberapa bulan lalu ga ada angin ga ada ujan, cuma ada pasir aja dijalanan yang bikin suami gw nyetirnya nyelungsep yang akhirnya gw harus ke UGD di Bali. Eh keliatannya murah deh, tapi setelah dibayar rontgen dll abis juga 400ribu sekali periksa (gara-gara BPJS kondisi nonaktif). Yang kemudian setelah tangan gw sembuh, eh kaki gw ngajak masuk UGD juga di Surabaya. Sebulan itu masuk UGD dua kali dengan biaya yang kurang lebih sama. Ga ada yang tau kan? Kaki gw gatel aja pengen masuk UGD sampe berakibat nggak bisa jalan gitu.

Jadi pada dasarnya jarang banget orang yang seumur hidupnya nggak pernah sakit. Ya kan? Menurut gw, asuransi kesehatan itu perlu banget. Dan banyak orang yang nggak sadar akan pentingnya asuransi kesehatan. Cari aja asuransi kesehatan yang bisa cover kebutuhan dasar yang contoh scalling gigi dapet, nambal gigi dapet, lumayan lho sekali scalling kan 100-200ribuan. Ya kalo nggak sakit ya alhamdulillah, asuransinya bisa dipakai buat scalling tiap 6 bulan sekali kan.

Tapi kembali lagi, semua itu soal mindset masing-masing tentang asuransi kesehatan. Selama merasa nantinya mampu membayar biaya pas sakit tanpa menggunakan asuransi kesehatan ya kenapa nggak? Gw cukup terbantu dengan adanya asuransi kesehatan ini. Sekarang lagi mau dipindah faskes ke Malang deket rumah biar bisa urus gigi juga nggak harus pulang ke Pandaan dulu.

Jadi gimana? Kamu punya asuransi kesehatan juga nggak? 😄

Comments

  1. setuju dengan isi tulisannya….mantap ulasannya.

    ReplyDelete
  2. Eikeh dong BPJS Kesehatan. Dan alhamdulillah sampe sekarang gak pernah dipake. Karena akuhnya dikasih nikmat sehat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya... sehat ini nikmat bgt deh yg kudu disyukurin ya

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Gojek ke bandara juanda

While waiting, jadi mending berbagi sedikit soal gojek. Karena saya adalah pengguna setia gojek, saya pengen cobain ke bandara pake gojek. Awalnya saya kira tidak bisa *itu emang sayanya aja sih yang menduga nggak bisa*, trus tanya temen katanya bisa karena dia sering ke bandara pakai motornya. Nah berarti gojek bisa dong?? Sebelum-sebelumnya kalo naek gojek selalu bayar cash, tapi kali ini pengen cobain top up go pay. Minimum top up 10ribu. Jadi saya cobain deh 30ribu dulu. Eh ternyata lagi ada promo 50% off kalo pake go pay. Haiyaaaaa kenapa ga dari dulu aja ngisi go pay hahaha. Dari kantor ke bandara juanda sekitar 8km. Kantor saya sih daerah rungkut industri. Penasarannn banget ini abang mau lewat mana ya. Tertera di layar 22ribu, tapi karena pakai go pay diskon 50% jadinya tinggal 11ribu. Bayangin tuhh... pake bis damri aja 30ribu hahaha. 11ribu udah nyampe bandara. Biasanya 15ribu ke royal plaza dari kantor haha. Lagi untung. Bagus deh. Nah sepanjang perjalanan, saya mikir ter