Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Maingalarpar Yangon


"Jadi besok ke Bangkok?"
"Iya trus lusanya ke Yangon"
"Myanmar?"
"Iyalah"
"What the why Yangon?"

Tak pernah terbayangkan akan mengunjungi negeri ini. Pernah sih ngebayangin, tapi cuma ke Bagan. Lainnya nggak. Kesini juga nggak direncanakan karena tiba-tiba ada kerjaan mendadak. Yaudah deh dateng lah kesini. Negeri yang terkenal dengan kasus Rohingya nya ini terkesan serem (Ya nggak?). Tapi Yangon.... aman-aman aja kok. Meskipun memang di beberapa wilayah memang restricted area yang tidak bisa dimasuki kecuali jika kalian adalah aid worker atau orang yang berkepentingan.

Banyak yang nanya kenapa kesana kan nggak bagus. Ya menurut kita sih, sejelek-jeleknya tempat pasti punya kecantikan tersendiri. Kecuali kalo emang kamu bisa masuk tapi nggak bisa keluar itu barulah bahaya. Ini juga karena dia ada kerjaan sih disana, jadi sekalian.

Yangon itu ibarat kotalamanya ASEAN. Cantik banget sumpah. Buat yang suka bangunan kolonial atau semacem heritage begitu, tampilan kota ini bener-bener luar biasa. Karena kolonialisasi Inggris beberapa waktu ya secara otomatis bangunan mereka ala Inggris juga. Kalau di Indonesia kan rata-rata model Belanda ya.

Sofaer Building, bangunan yang dibangun oleh trader yahudi asal Iraq
 
First impressions nya apa? Ini WOW banget.

Macet

Jakarta hobi macet kan? Ini lebih dari itu. Nggak ada taksi meter ya, jadi harus pinter-pinter nawar harga taksi.

Panas

Panasnya nggak bikin berkeringat banget, tapi bikin hampir pingsan. Kemaren coba strolling downtown nya sendirian. No wifi tentunya. Suhunya sih 30an lah standar asia tenggara, tapi teriknya luar biasa. Saking pusingnya sampe hilang arah ga bisa baca peta bahkan gatau sedang berada di posisi mana padahal maps ditangan dan dibuku. Tau kan kalo penduduk asia tenggara itu cinta mati sama AC? Nah AC disini kebanyakan menggila banget dinginnya. Coba bayangkan gimana rasanya abis panas banget diluar langsung masuk ke ruangan ber AC yang super dingin trus keluar lagi ke panas super? Sakit otak. Hampir pingsan lah kemaren itu, kayak badan nggak menerima keekstriman ini. Untung survive dan buru-buru balik hotel. Pingsan tengah jalan bahaya dah. Jadi hati-hati kena heatstroke dadakan. Tetap hidrasi tubuh, kalau perlu bawa payung karena hampir tiap orang pake payung.

 


Nyawanya 7

Karena, lampu stopan nggak fungsi lah buat orang yang mau nyebrang. Mereka trabas aja lah. Lebih parah dari sini sumpah. Mereka nyebrang ga liat kanan kiri tapi mobil yang kudu ekstra hati. Mobilnya nyetir super cepet, yang nyebrang santenya setengah idup nggak mau tau deh. Jadi menurut kita nyawa mereka ada 7. Takut nyebranglah aku.

 Masala chai ini enak, teh India gitu

Kumuh

 

Lingkungan kumuh dimana-mana. Jadi cukup berhati-hati saja ketika penasaran iseng cobain "teahouse" ala Myanmar dijalanan ini. Makanan harganya all you can eat cukup 1 dollar saja. Tapi ya kalau perutnya macem gw sih gapapa yang tahan banting, semua dimakan ga gampang sakit perut. Tapi kalau tipe-tipe yang mudah sakit, mending jangan deh. Karena ya gw liat sendiri dong, gelas bekas minum orang itu nggak pake dicuci sabun atau air mengalir gitu, tapi cuma dicelupin ke kobokan depan mata dan nggak diangkat tapi dibiarkan celup disitu. Kita kan nggak tau ya bakteria jenis apa yang ngetren disana, ngeliat gitu depan mata pasti lah langsung geli sendiri. Akhirnya nggak minum deh. Cemilannya sih okelah (menurut gw). Tapi kalo soal minuman di gelas orang itu hmmmm

 

Kyat dan Dollar

Mata uang resminya sih Kyat, tapi mereka menerima dollar juga (tentunya dollar yang mulus nggak lecek macem uang mereka). Biasanya sih pukul rata aja 1 dollar seharga 1500 kyat (kalau transaksi dengan orang biasa yang ada di jalanan). Kebanyakan harga yang dipakai di hotel atau tempat perbelanjaan (termasuk bandara) pakai dollar. Jadi otomatis rate nya jauh lebih mahal. Beli kopi misal, di hotel harganya 4dollar, dijadiin kyat jadi 7600 kyat. Padahal di coffee shop, si kopi harganya nggak lebih dari 5000kyat. Teh macem chatime gitu harganya 2000-3000kyat. Jadi kudu hati-hati kalau tag harga nya dalam dollar mereka biasa pasang rate sendiri yang lebih mahal.


 



Sopan

Meski begitu, mereka terbilang orang yang sopan. Nggak ada yang liatin aku sama suamiku pas jalan. Beda banget ya kalo jalan di Indonesia dari kaki sampe ujung rambut dipelototi lah pasti. Disini nggak. Mereka suka nyapa juga (ini sih kalo liat orang kulit putih, kalo kulit gw mah sama aja ya kek mereka), tapi nggak ada yang nganggep gw orang Burma. Lucu lho ini. Baru kali ini ke negara ASEAN tapi nggak disangka orang dari negara tersebut (cuma dibilang Malay aja, wajar sih).

 
murah senyum sekali


Imigrasi cepet

Sama seperti Brunei, imigrasi di Yangon ini termasuk super cepet banget. Hampir nggak ada yang antri (mungkin emang pas sepi juga sih), dan ada ASEAN lane nya yang berlaku buat orang ASEAN aja (kalo bangkok kan ASEAN lane juga dipake orang eropa). Jadi kemaren nggak antri sama sekali, malah gw nunggu H sekitar 10 menitan. Koper nggak ada delay sama sekali. Smooth banget lah.

 


Less scammer

Ini yang penting. Kepercayaan mereka mengajarkan untuk jadi orang baik dan nggak merugikan orang lain. Mereka bener-bener menerapkan itu. Beda dengan Bali kan? Kalo Bali masih banyak scammer yang tiba-tiba naikin harga apapun kalo ga gitu dimahalin karena jalan sama H. Disini nggak. Harga rasional wajar, nggak scamming sama sekali. Bener-bener mrasa dompet nikmat. Harga taksi standar, sedikit lebih murah dari Indonesia, harga makanan di mall aja kisaran 20ribuan-50ribuan (aku belum nemu makanan pinggir jalan yang enak dan ga bikin sakit perut). Merasa aman banget lah pokoknya dengan segala bentuk harga yang ditawarkan (Indomi aja cuma 3ribu).

 
teahouse ala Myanmar

Secara keseluruhan, Myanmar ini unik menurutku. Dan tentunya cantik 💓

 
yang ambil fotonya rasanya ga ikhlas sampe bilang "bukan fotonya yang ngeblur tapi Tomnya yang gerak-gerak" 😑 kalau foto ini di Siam Paragon-Bkk

PS : Maingalarpar adalah hallonya Myanmar

Comments

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men