Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit. Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya. Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego. Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...
Taken from internet
Terdengar klasik dan drama ketika mendengar seseorang telah ditinggalkan 'pemujanya' ketika jatuh miskin dan kehilangan hartanya. Klasik, tapi memang ada. Dan beberapa saat yang lalu terjadi disekitarku.
Alkisah *ahem alkisah*, si A menikah dengan si B. Si A adalah suami dan B adalah istri. Setelah menikah, si A cenderung melupakan keluarganya sendiri. Segala jenis kesenangan akan diberikan kepada keluarga istrinya. Pernah suatu masa si A tidak menjenguk ibundanya selama berbulan-bulan.
Karir pun menanjak, dan sedikit demi sedikit bisa membeli rumah, mobil, motor, tak hanya satu namun sampai 3 biji. 3 rumah, 4 mobil, 3 motor. Buka ajalah showroom sekalian. Dipuji-pujilah dia oleh keluarga si B. Semua siapapun pasti mendekatinya, dengab alibi 'diciprati' uangnya. A dan B pun menjadi 'penguasa'. B merasa dia memiliki segalanya, sombonglah dia.
Bertahun-tahun lamanya berada dalam 'kenikmatan duniawi' akhirnya keluarga ini terpeleset jua. Si A diketahui menggunakan uang perusahaan, dan mendapatkan skorsing perusahaan. Keluarga si B mulai kurang ajar dan berkata 'Ah si A sudah miskin dia, sudah habis hartanya, dia sudah tak bisa diandalkan lagi. Sekarang si C berkuasa'. Yang mana si C adalah salah satu adik si B.
Setelah mereka puas menghisap si A dan B, dan seketika hidup mereka dibalik oleh sang penguasa hidup ini, mereka pun pergi meninggalkan A dan B. Yang kemudian beralih ke C.
What I've learned here, betapa harta sangat menyilaukan semua orang. Harta bisa membuat mereka memuji si empunya harta, meskipun si A sejatinya melakukan itu demi menyenangkan mereka dan dengan sabarnya menuruti semua mau mereka. Mau rumah? Beli! Motor? Ambil semau kamu! Mereka ibarat lintah. Akan terus menghisap hingga tak ada lagi darah yang tersisa untuk dihisap. Hingga siap pergi memangsa inang yang baru.
Apa yang terjadi kepada si A? Dia kembali kepada keluarganya, si B pun meminta maaf kepada keluarga suaminya. Reaksi keluarga suaminya? Menerima. Karena bukanlah harta yang diinginkan, karena bukanlah menilai segala sesuatu dari berapa banyak harta yang kamu punya, tapi dari ketulusan kalian dalam menjalin kekeluargaan.
Meskipun terdengar drama, hal ini benar terjadi di sekitarku dan membuatku cukup muak melihatnya. Semoga kita selalu dijauhkan dari hal semacam itu.

Semoga kita semua selalu dihindarkan dari silunya duniawi ya pris
ReplyDeleteMemang makin ke sini tuntutan hidup semakin banyak, namun alangkah bijaknya jika bisa mengendalikan hawa nafsu, termasuk nafsu pengen dan kudu memiliki segalanya
Iya mbak, namanya kebutuhan juga nggak bakal ada abisnya. Tapi ya jangan semena-mena atas nama kebutuhan dan keinginan trus jadi gelap mata ya
DeleteJauh jauhhhhh deh dari kita sifat begituan mbak