Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Ibarat Lintah

Taken from internet

Terdengar klasik dan drama ketika mendengar seseorang telah ditinggalkan 'pemujanya' ketika jatuh miskin dan kehilangan hartanya. Klasik, tapi memang ada. Dan beberapa saat yang lalu terjadi disekitarku.

Alkisah *ahem alkisah*, si A menikah dengan si B. Si A adalah suami dan B adalah istri. Setelah menikah, si A cenderung melupakan keluarganya sendiri. Segala jenis kesenangan akan diberikan kepada keluarga istrinya. Pernah suatu masa si A tidak menjenguk ibundanya selama berbulan-bulan.

Karir pun menanjak, dan sedikit demi sedikit bisa membeli rumah, mobil, motor, tak hanya satu namun sampai 3 biji. 3 rumah, 4 mobil, 3 motor. Buka ajalah showroom sekalian. Dipuji-pujilah dia oleh keluarga si B. Semua siapapun pasti mendekatinya, dengab alibi 'diciprati' uangnya. A dan B pun menjadi 'penguasa'. B merasa dia memiliki segalanya, sombonglah dia.

Bertahun-tahun lamanya berada dalam 'kenikmatan duniawi' akhirnya keluarga ini terpeleset jua. Si A diketahui menggunakan uang perusahaan, dan mendapatkan skorsing perusahaan. Keluarga si B mulai kurang ajar dan berkata 'Ah si A sudah miskin dia, sudah habis hartanya, dia sudah tak bisa diandalkan lagi. Sekarang si C berkuasa'. Yang mana si C adalah salah satu adik si B.

Setelah mereka puas menghisap si A dan B, dan seketika hidup mereka dibalik oleh sang penguasa hidup ini, mereka pun pergi meninggalkan A dan B. Yang kemudian beralih ke C.

What I've learned here, betapa harta sangat menyilaukan semua orang. Harta bisa membuat mereka memuji si empunya harta, meskipun si A sejatinya melakukan itu demi menyenangkan mereka dan dengan sabarnya menuruti semua mau mereka. Mau rumah? Beli! Motor? Ambil semau kamu! Mereka ibarat lintah. Akan terus menghisap hingga tak ada lagi darah yang tersisa untuk dihisap. Hingga siap pergi memangsa inang yang baru.

Apa yang terjadi kepada si A? Dia kembali kepada keluarganya, si B pun meminta maaf kepada keluarga suaminya. Reaksi keluarga suaminya? Menerima. Karena bukanlah harta yang diinginkan, karena bukanlah menilai segala sesuatu dari berapa banyak harta yang kamu punya, tapi dari ketulusan kalian dalam menjalin kekeluargaan.

Meskipun terdengar drama, hal ini benar terjadi di sekitarku dan membuatku cukup muak melihatnya. Semoga kita selalu dijauhkan dari hal semacam itu.

Comments

  1. Semoga kita semua selalu dihindarkan dari silunya duniawi ya pris

    Memang makin ke sini tuntutan hidup semakin banyak, namun alangkah bijaknya jika bisa mengendalikan hawa nafsu, termasuk nafsu pengen dan kudu memiliki segalanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, namanya kebutuhan juga nggak bakal ada abisnya. Tapi ya jangan semena-mena atas nama kebutuhan dan keinginan trus jadi gelap mata ya

      Jauh jauhhhhh deh dari kita sifat begituan mbak

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Gojek ke bandara juanda

While waiting, jadi mending berbagi sedikit soal gojek. Karena saya adalah pengguna setia gojek, saya pengen cobain ke bandara pake gojek. Awalnya saya kira tidak bisa *itu emang sayanya aja sih yang menduga nggak bisa*, trus tanya temen katanya bisa karena dia sering ke bandara pakai motornya. Nah berarti gojek bisa dong?? Sebelum-sebelumnya kalo naek gojek selalu bayar cash, tapi kali ini pengen cobain top up go pay. Minimum top up 10ribu. Jadi saya cobain deh 30ribu dulu. Eh ternyata lagi ada promo 50% off kalo pake go pay. Haiyaaaaa kenapa ga dari dulu aja ngisi go pay hahaha. Dari kantor ke bandara juanda sekitar 8km. Kantor saya sih daerah rungkut industri. Penasarannn banget ini abang mau lewat mana ya. Tertera di layar 22ribu, tapi karena pakai go pay diskon 50% jadinya tinggal 11ribu. Bayangin tuhh... pake bis damri aja 30ribu hahaha. 11ribu udah nyampe bandara. Biasanya 15ribu ke royal plaza dari kantor haha. Lagi untung. Bagus deh. Nah sepanjang perjalanan, saya mikir ter