Skip to main content

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...

Drama Transportasi Kita

vector-eps.com

Gimana kalo kemana-mana naek ini aja? Bebas macet deh kayaknya

Seminggu yang lalu, angkot pada demo di Malang. Agendanya sama, menentang keberadaan transportasi online. Lagi, katanya di Bandung dan Tangerang juga demo. Hal yang sama, di Surabaya pun tempo hari juga seperti itu.

Ada sopir angkot yang bahkan menabrak pengendari transportasi online hingga tewas. Berujung pada dikenakannya hukuman pasal pembunuhan berencana. Ada juga yang keluarga menjemput keluarga lainnya di mall dan mobilnya dirusak sopir angkot, yang dikira itu adalah mobil Uber. Padahal mobil pribadi dan bukan sopir Uber.

Geli saya mendengar semua berita itu. Bukan kenapa-napa ya, rejeki udah ada yang ngatur. Dan lagi sekarang ini jamannya hidup di era yang serba fast moving. Internet sudah menjadi kebutuhan utama. Kita semua memang tau transportasi di Indonesia masih acakadut. Mbok ya sekalian bikin sinkanzen sana, Jakarta Surabaya bisa ditempuh 3 Jam. OHHH surga.

Dari sisi supir angkot (ataupun ojek pangkalan, dan juga supir taksi), hal ini memang mengalahkan mereka. Mereka kalah dengan kemajuan teknologi, yang katanya berakibat pada pengurangan pendapatan mereka. Well, hukum ekonomi berlaku, semakin banyak kompetitor otomatis semakin berkurang pendapatan. Tinggal gimana cara jadi kreatif aja buat menggaet pelanggan.

Dari sisi konsumen, kita tentu membutuhkan satu alat transportasi yang cepat, tepat, dan terjangkau. Saya pernah lho, jarak yang sedianya hanya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja, menjadi satu jam. Kenapa? Karena bapak sopir angkot terhormat memilih untuk ngetem selama belasan menit sambil ngopi. Beneran kita penumpangnya dianggurin dalam angkot. Hell! Kita juga punya jadwal dan kegiatan lain. Kalo kita komplain, dia bilangnya 'Yaudah naek taksi sana'. And I did. Turun dan naek taksi.

Seringkali mereka itu semena-mena, seenaknya sendiri. Tapi pas diajak bersaing mereka nggak suka dan bikin rusuh. Sekarang ya, karena sudah tersedia angkutan online dan offline, saya yakin 100% mereka memiliki penggemar masing-masing. Misal nih ya, si emak -asisten rumah tangganya tante- suruh ke pasar sendirian naek angkot, saya yakin 100% dia nggak akan pesen gojek atau uber ato grab. Kenapa? Dia nggak bisa baca, jadi ya udah pasti lebih milih angkot.

Saya pribadi, sebagai konsumen yang fair, saya masih menggunakan semua jenis transportasi tersebut. Misal pengen cepet, nggak usah jalan, ya saya pesen gojek. Misal ujan atau jalan agak jauh, ya saya pesen uber. Misal pengen jalan santai olahraga, ya saya pesen angkot. Misal males nggak mau cangcingcong, ya saya nyetop blue bird. Gampang kan? It's fair. 

Tapi mereka nggak mau mikir sejauh itu. Mereka nggak mikir masih ada konsumen seloyal saya yang masih mau menyempatkan semenit dua menit untuk sekedar mikir hal seperti itu. Mereka nggak tau kalau persaingan juga semakin kedepan. Nggak ada namanya persaingan kebelakang. Masa iya kalo seorang jualan tempe, trus orang yang lainnya nggak boleh jualan tempe? Nggak sehat dong otak ente ngelarang orang jualan begitu.

Be wise dong! Orang jualan dipasar aja nggak protes ada banyak online shop. Karena semua memiliki penggemar masing-masing. Dan lagi, rejeki udah ada yang atur. Tinggal gimana aja nyarinya dengan cara yang bener. Good luck!

Comments

Popular posts from this blog

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Fire in the Building

Who would have thought that I  experienced fire in the building.  This is my first time living in an appartement. Of course I never chose appartement when living in Indonesia because it’s a real high risk when the earthquake happen. But here we are placed in an appartement. What got me relieved the first time that we are in the lowest floor so if something happen we will be quickly evacuated.  That’s what I thought.  Until it really happened.  We slept around midnight and abruptly woken up by the noise outside. I thought it was the drunk people just got back from night club or the restaurant next door was doing some deep cleaning. So loud that I had to wake up. My husband peeked outside and immediately said “fire brigade outside, you wait here!” I was just “am I dreaming or what?” I put on clothes, checked outside and saw a few of fire trucks. I checked the other side of the appartement and saw a few of police cars and ambulances.  “Oh no, something serious...

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...