Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Drama Transportasi Kita

vector-eps.com

Gimana kalo kemana-mana naek ini aja? Bebas macet deh kayaknya

Seminggu yang lalu, angkot pada demo di Malang. Agendanya sama, menentang keberadaan transportasi online. Lagi, katanya di Bandung dan Tangerang juga demo. Hal yang sama, di Surabaya pun tempo hari juga seperti itu.

Ada sopir angkot yang bahkan menabrak pengendari transportasi online hingga tewas. Berujung pada dikenakannya hukuman pasal pembunuhan berencana. Ada juga yang keluarga menjemput keluarga lainnya di mall dan mobilnya dirusak sopir angkot, yang dikira itu adalah mobil Uber. Padahal mobil pribadi dan bukan sopir Uber.

Geli saya mendengar semua berita itu. Bukan kenapa-napa ya, rejeki udah ada yang ngatur. Dan lagi sekarang ini jamannya hidup di era yang serba fast moving. Internet sudah menjadi kebutuhan utama. Kita semua memang tau transportasi di Indonesia masih acakadut. Mbok ya sekalian bikin sinkanzen sana, Jakarta Surabaya bisa ditempuh 3 Jam. OHHH surga.

Dari sisi supir angkot (ataupun ojek pangkalan, dan juga supir taksi), hal ini memang mengalahkan mereka. Mereka kalah dengan kemajuan teknologi, yang katanya berakibat pada pengurangan pendapatan mereka. Well, hukum ekonomi berlaku, semakin banyak kompetitor otomatis semakin berkurang pendapatan. Tinggal gimana cara jadi kreatif aja buat menggaet pelanggan.

Dari sisi konsumen, kita tentu membutuhkan satu alat transportasi yang cepat, tepat, dan terjangkau. Saya pernah lho, jarak yang sedianya hanya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja, menjadi satu jam. Kenapa? Karena bapak sopir angkot terhormat memilih untuk ngetem selama belasan menit sambil ngopi. Beneran kita penumpangnya dianggurin dalam angkot. Hell! Kita juga punya jadwal dan kegiatan lain. Kalo kita komplain, dia bilangnya 'Yaudah naek taksi sana'. And I did. Turun dan naek taksi.

Seringkali mereka itu semena-mena, seenaknya sendiri. Tapi pas diajak bersaing mereka nggak suka dan bikin rusuh. Sekarang ya, karena sudah tersedia angkutan online dan offline, saya yakin 100% mereka memiliki penggemar masing-masing. Misal nih ya, si emak -asisten rumah tangganya tante- suruh ke pasar sendirian naek angkot, saya yakin 100% dia nggak akan pesen gojek atau uber ato grab. Kenapa? Dia nggak bisa baca, jadi ya udah pasti lebih milih angkot.

Saya pribadi, sebagai konsumen yang fair, saya masih menggunakan semua jenis transportasi tersebut. Misal pengen cepet, nggak usah jalan, ya saya pesen gojek. Misal ujan atau jalan agak jauh, ya saya pesen uber. Misal pengen jalan santai olahraga, ya saya pesen angkot. Misal males nggak mau cangcingcong, ya saya nyetop blue bird. Gampang kan? It's fair. 

Tapi mereka nggak mau mikir sejauh itu. Mereka nggak mikir masih ada konsumen seloyal saya yang masih mau menyempatkan semenit dua menit untuk sekedar mikir hal seperti itu. Mereka nggak tau kalau persaingan juga semakin kedepan. Nggak ada namanya persaingan kebelakang. Masa iya kalo seorang jualan tempe, trus orang yang lainnya nggak boleh jualan tempe? Nggak sehat dong otak ente ngelarang orang jualan begitu.

Be wise dong! Orang jualan dipasar aja nggak protes ada banyak online shop. Karena semua memiliki penggemar masing-masing. Dan lagi, rejeki udah ada yang atur. Tinggal gimana aja nyarinya dengan cara yang bener. Good luck!

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena suami gw dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya dia dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya dia. Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. Dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Gw belum pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ada pengalaman bikin visa kecuali  Visa Sosial...