Skip to main content

Beli Kartu SIM di Dubai

Dubai creek Ini merupakan tahun ke-4 setelah kunjungan pertama ke Dubai. UAE menjadi satu-satunya negara terbanyak yang gw kunjungi untuk alasan bertemu suami. Baru kali ini juga gw punya nomer Dubai. Dulunya gw kira kalau kita nggak bisa beli nomer segampang di Indonesia karena H bilang ribet katanya. Yaudah kita nggak beli, hanya sekedar pakai wifi hotel dan tempat tujuan aja seperti Dubai Mall. Lagipula juga intensitas utama gw balas chat ya dari suami gw. Yang lain bisa menunggu. Kalo bareng juga ngapain kan chatting . Tahun lalu, kami pertama kali eksplor UAE menggunakan kendaraan sendiri. Nyetir sendiri maksudnya, nggak naik bus dll. Karena nyetir sendiri, kami perlu internet untuk GPS dong. Akhirnya H beli nomer di bandara. Pake paspor aja biasa.  "Oh ternyata bisa ih beli nomer di Dubai" Nah, sekarang waktu kami ke Dubai lagi, H bertanya-tanya apakah nomer yang lalu tuh masih aktif apa nggak. Setelah cari informasi, ternyata kita bisa verifikasi paspor kita di kios a

Setengah Belanda


Kemarin, saya kembali berbicara dengan cucu dari kakaknya nenek saya. Bingung nggak? Hahaha

Oke, jadi begini ceritanya, 

Mama dari nenek saya itu seorang Indo. Saya panggilnya mami. Catet ya, Indo bukanlah Indonesia, tapi Indo adalah anak keturunan Indonesia dan negara lain (yang kebanyakan ras kaukasoid), misal Indonesia - Belanda yang paling beken, atau Indonesia – Jerman. Nanti deh saya tulis terpisah soal ini ya.
Kembali ke nenek buyut, mamanya mami yang Indo ini menikah dengan orang Belanda. Ceritanya kakek buyut ini seorang prajurit Belanda di sini. Menikahlah mereka berdua. Jadi nenek buyut yang aslinya sendiri sudah Indo, menikah dengan orang Belanda, lahirlah dua orang anak. Yang pertama laki-laki, yang kedua perempuan (nenek saya). Erich Carl (Booley) von Bannisseth dan Rita von Bannisseth (yang kemudian menjadi Rita Herawati). 

dari Kiri ke kanan : papi (kakek saya), kakak ipar mami (nenek), mami (nenek), kakaknya mami

Anak laki-lakinya akhirnya balik ke Belanda, yang perempuan tinggal di Indonesia. Terpisahlah mereka ribuan mil. Dengan masa yang masih belum canggih-canggih bener, mereka hanya komunikasi lewat surat, telepon beberapa bulan sekali, atau hanya ketika mereka pulang ke Indonesia. 

Komunikasi tidak intens seperti saat ini.

Beberapa lamanya mereka hilang kontak, karena kami pun pindah rumah dan belum sempat memberikan kabar kepindahan, hingga salah satu keluarga dari klan mamanya nenek ini memberikan kabar ke keluarga Belanda. Kami hanya bertukar surat beberapa kali saja. Benar-bener hilang kontak. Sampai pada akhirnya ada surat yang datang dari Belanda, memberikan kabar kematian kakak dari mami ini. 

Setelah saya balas suratnya, saya sertakan alamat email dengan tujuan memudahkan untuk berkomunikasi lebih lanjut. Tahun itu 2014. Akhirnya saya dan cucunya memulai komunikasi kembali. Karena ketidakpedulian saya terhadap sosmed yang namanya facebook gara-gara terlalu banyak orang random, akhirnya tiap pesan yang masuk yang tidak di friend list akhirnya saya ignore dong. disinilah letak kebodohanku.

Minggu kemarin iseng buka-buka dan ternyata, ada pesan Allysa di FB saya. Allysa adalah cucu dari anak pertamanya opa Booley ini. Syok lah saya, akhirnya saya bales pesan taun 2014 itu kemaren. 3 taun ngendap di inbox paling bawah hahahaha

Kita mulai lagi bercengkerama Indonesia – Belanda. Ehh ternyata adekku yang nomer 2 juga dihubungi sepupunya Allysa ini. Cucunya opa Booley yang lainnya. Wessss ngobrol lah kita smua ya. Kontak terjalin lagi. Yang bikin sedih, mami memulai komunikasi dengan keluarga yang jauh baru setelah kakaknya meninggal. Jadi tiap kali kita ngobrol gitu, mami jadi sedih terus. Apalagi liat istri kakaknya yang makin kurus.

But at least, we start to talk again 😄

Comments

  1. adiknya alm mbah utiku juga ada yg di Dieren. tapi alhamdulillah komunikasi lancar tapi klo Nelpon pas tengah malem. iy kadang keluarga di sini juga sedih mbak karena lihat ybs pengen bisa ke indo tp blm bisa. tp yg penting silaturahim tetap terjaga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kalo tengah malem sana pas dinner haha. Sekarang sih udah mulai kontak lg jd gak keputus lg hubungannya. Lebih gampang jg kan skrg, thanks to internt haha

      Delete
  2. Alhmdlh ya, walaupun terpisah jauh masih bisa kontak kontakan. Masih bisa saling berhubungan. Kalo kami, sedikit menyedihkan. Hilang kontak, padahal masih sesama di Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba dikontak lagi, sekarang mah serba connected kalo udah kena internet. Sayang lho kl putus hubungan gt

      Delete
    2. Masalahnya mereka di Kampoeng nan tak terjangkau inet atau mereka tidak kenal yang namanya net. Hanya kadang ada sodara yang kirim kabar. Jadi tau berita ya, lewat sodara yang pulkam kesana aja.

      Delete
    3. Wahh susah ya kalo kayak gitu. Harus bener2 datang ya

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Soal ujian TOPIK vs EPS TOPIK

Setelah membahas perbedaan TOPIK dan EPS TOPIK , kali ini saya akan menulis materi tentang apa saja yg diujikan *agak sedikit detail ya*. Pengalaman mengikuti dan 'membimbing' untuk kedua ujian tersebut, jadi sedikit banyak mengetahui detail soal yg diujikan. Dimulai dari EPS TOPIK. Jika anda adalah warga yg ingin menjadi TKI/TKW di Korea, lulus ujian ini adalah wajib hukumnya. Kebanyakan dari mereka ingin cara singkat karena ingin segera berangkat sehingga menggunakan cara ilegal. Bahkan ada yg lulus tanpa ujian. Bisa saja, tapi di Korea dia mlongo. Untuk soal EPS TOPIK, soal-soal yg keluar adalah materi tentang perpabrikan dan perusahaan semacem palu, obeng, cangkul, cara memupuk, cara memerah susu sapi, cara mengurus asuransi, cara melaporkan majikan yg nggak bener, cara membaca slip gaji, sampai soal kecelakaan kerja. Intinya tentang bagaimana mengetahui hak dan kewajiban bekerja di Korea termasuk printilan yang berhubungan dengan pekerjaan. Karena yang melalui jalur ini