Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Otak Setengah-Setengah



semoga gambar ini menjawab rasa penasaran orang ketika mengetahui saya kuliah matematika. this is exactly what I did. bercerita melalui teorema dan conjecture


Otak bawaan saya dominan kearah eksak. Saya pun juga memutuskan untuk kuliah jurusan matematika. Ketika sebagian besar orang eksakta sangat membenci Bahasa (Bahasa Inggris dan Bahasa asing lainnya), saya sangat mencintai belajar Bahasa. Sejak masih SD, saya suka sekali belajar Bahasa asing. Pertama belajar pasti Bahasa inggris dong. Kemudian saya jatuh cinta dengan Bahasa Spanyol (yang sampe saat ini nggak mahir-mahir gara-gara nggak punya guru). 

Padahal, sayang sekali jika ada seorang jenius dibidang eksakta, tapi kemampuan bahasanya nggak mumpuni. Semisal temen saya, yang pinter banget kimia, fisika, matematika, eh tapi bahasanya nol. Jadilah adegan,
‘eh nyontek kimia lu’
‘enak aja nyontek, mikir sendiri’
‘ehh yaudah Bahasa Inggris lu juga mikir sendiri ya. Awas kalo nyontek gw’

Ngancemnya serius, biologi, kimia, fisika, matematika dituker sama Bahasa Inggris. Kemana-mana juga gampangan Bahasa Inggris daripada MIPA itu 😂😂

Hanya ada beberapa jenius eksakta seangkatan saya yang mumpuni Bahasa Asingnya. Mereka berani melanjutkan studi di luar negeri dan berkembang luar biasa. Sedangkan yang tidak mampu berbahasa asing, hanya stuck didalam negeri dalam tempurung kerdilnya dan mengatakan :

‘Buat apa bisa Bahasa asing, emang Bahasa Indonesia kamu udah bener? Nasionalis dong’

Ah pertanyaan itu selalu saya jawab sesimpel, ‘buat apa pinter eksakta kalo nggak bisa ngejar ilmu lebih luas, cari pengalaman di tempat asing biar bisa diamalin buat negerimu’

Diem deh. Tapi beberapa detik kemudian mereka bilang, ‘dasar kamu kumpeni, mau aja dibodohin pake bahasa asing’. 

Nggak mau kalah dong saya, saya jawab, ‘eh lu nggak nyontek gw Bahasa Inggris juga nggak bakal lulus lu. Gw mah masih bisa matematika, fisika, kimia, biologi biarpun nggak sepinter elu, nah situ? Bahasa Inggris mampu?’

Jahat ya saya😂😂😂

Lama-lama saya jadi bisa berbicara Bahasa Inggris dan sedikitttttttttt sekali Bahasa Spanyol. Sampai akhirnya saya belajar Bahasa Korea. Lingkungan saya pun terbiasa dengan Bahasa asing, termasuk Bahasa Jerman, jadilah saya familiar dengan beberapa Bahasa Jerman. Meskipun tidak belajar formal, tapi saya bisa sedikit menimpali menggunakan Bahasa Jerman ini. Pun ketika teman saya ngajar bingung nyari Bahasa Jermannya apa, eh saya nyaut jawab hal yang dia cari, dia malah marah. Katanya kok bisa saya yang nggak formal kuliah Bahasa Jerman bisa-bisanya skak mat ke dia yang kuliah Bahasa Jerman. Ah jadi kangen masa itu.

Nah sekarang ini saya sedang belajar Bahasa Belanda. Karena nanti saya pengen anak saya bisa Bahasa Indonesia dan Belanda. Jadilah saya harus mudeng juga kan. Lagipula juga biar nggak diomongin HJ sama nenek kalo mereka lagi ngobrol. So far so good. Progresnya juga oke sih. Dapet bantuan sana sini. Kalo pas HJ nggak mau jelasin, ya lari ke papanya hahaha. 


Karena familiar dengan Bahasa Jerman, belajar Bahasa belanda pun nggak sebegitu kaget. Kata orang kan susah banget ini Bahasa, yaaaa sejauh ini sih belom susah. Apalagi kan cuman buat ngobrol sehari-hari aja. Nggak buat bikin tesis juga kan. Jadi masih santai. Terbiasa dengan Bahasa Jerman, Bahasa Indonesiapun sangat membantu. Karena banyak dari kata Bahasa Indonesia diserap dari Bahasa Belanda. Contohnya tas aja deh, yang bener-bener saya kira originally Bahasa Indonesia, eh ternyata Bahasa Belanda juga. Schaak = catur, itulah kenapa banyak orang jawa bilang ‘main catur’ dengan kata ‘main skak’. Koffer = koper, mirip kan? Oiya, kalo ada yang bilang ‘ahh stupid tuh, masa nulis coffee aja koffie’, itu bisa jadi diambil dari Bahasa Belanda ya saudara-saudara. Jadi bukan yang bikin oon ga bisa Bahasa Inggris, tapi emang itu dari Bahasa lain. Bioscoop juga lho, bioskop. Ada lagi hem (kemeja), nenek saya lebih suka bilang hem daripada kemeja. Ya karena itu emang dari sono. Dan masih banyak yang lainnya.

Kenapa saya suka belajar Bahasa asing? Seperti kata Bung Karno, pelajari Bahasanya, kuasai orangnya. Jadi saya harus belajar bahasanya, baru kuasai dia sepenuhnya 😏 *senyum jahat*

update : gw sekarang lagi belajar bahasa Pashto lol

Comments

  1. Nih bahasa keseharian saya....


    BAHASA KALBU.....

    ReplyDelete
  2. tetep. Bahasa Tagalog di hati

    😂😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahahaha teuteeeppp
      Gampang kah? Kayake ngomongnya susah

      Delete
    2. gampang2 susah sih, yg jelas bnyk kata mirip bhs Jawa, jadi klo kita orang jawa agak di untungkan

      Delete
    3. Iya katanya kek gitu. Mungkin efek ekspansi majapahit kali yaaaa

      Wong suriname aja juga ada jawanya juga haha

      Delete
  3. Kereeen ih.. sya pernah latah pengen belajar bahasa jerman, tapi etspi langsung mundur pas tau, vocab di bhsa jerman ternyata rempong, pke jenis kelamin. Remfooooong. Wkwkwkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya bner, kl bhasa eropa kebanyakan pake kelamin. Spanyol juga, belanda jg kok
      Yg penting suka dlu, kalo udah suka mah rempong apa jg lewat haha

      Delete
  4. Belajar bahasa asing perlu, tapi jangan sampai melupakan bahasa daerah, karena dalam uud bahasa daerah di pelihara oleh negara

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa bener. Aku juga masih proses bljr bahasa Jawa yg bener. Nyesel dulu ga suka

      Delete
  5. 2 kali belajar bahasa china sama mahasiswa china yang belajar di UM. Dan sampai saat ini cuma bisa itung-itungan 1 sampe 10. Sama bilang xie xie, bue ke qi, ahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah iya dikampus dlu ada ya program bahasa china gt. Aku juga dftr tapi pas mau mulai udah keder duluan haha

      Delete
    2. Kalau aku pas udah kerja ini. Untuk pegawai cuma bayar 10rebu aja buat ganti buku materi. hahaha.

      Delete
  6. aku juga sama, tapi sekarang di lapangan yang tiap ari ketemu malah gapernah ngomong. sok sibuk mulu dpn komp. malah yg aku kasih contekan maenannya uda ke singapore. sediihh kan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedih ya, aku juga sering gt. Yg dicontekin idupnya lebih enak
      Tau gt aku dulu nyontek aja maksimalin biar lbh sukses sekarangnya haha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

If Money Wasn't The Problem, What Would You Do?

In this extraordinary life, I would be a teacher still.  Helping people to understand even some little things to make them feel worthy and understand themselves better. It seems that teaching has become a calling for me. Not about teaching such specific subject like mathematics or so, but more like... I like to give new perspectives for people, and having them saying "Oh.... I see..." is satisfying for me. Of course, by teaching I can learn so many new perspectives from different people too. It's like the more I teach the more I learn, and that is so true. Maybe more like a guide. I like giving guidance to people who needs it. No, I don't like giving unsolicited guiding. I like to guide people who wants to be guided. I'd teach them how to love, love themselves first. Yea sure when we are talking about things, they would say "do useful things like engineering, plumbing, this and that" but they tend to forget that we need some balance in life. Not saying t

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini