Skip to main content

Mendaftar Pelatihan di Prakerja

Sanur Jadi dulu program ini diluncurkan pemerintah untuk kasih insentif orang yang di PHK atau tidak bekerja pas pandemi. Jadi ya gw tentu saja nggak punya hak tho. Sebagai orang yang nggak punya hak, ya gw nggak ikutan lah. Trus temen gw beberapa bulan lalu bilang, ikut aja soalnya ini buat yg kerja yg mau nunjang skill juga lho.  "Hah masa sih?" Yaudah pas liat oh ya bener juga, jadi gw daftar. Daftar pertama di gelombang 20 nggak lolos. Trus ya udah patah hati dah lah gausah daftar. Eh tiba-tiba minggu lalu temen gw lolos gelombang berapa gitu, lalu bilang kalau gelombang 29 udah buka. Yaudah deh ikutan aja. Eh lolos dong. Pembukaan gelombang ini termasuk cepet. Hampir tiap minggu selalu ada gelombang baru yang dibuka. Jadi daftar di gelombangnya itu selama 3 harian, pengumumannya 3 hari kemudian, lalu 3 hari kemudian udah bukaan baru. Bener-bener cepet banget. Nah temen gw yang lagi S2 nggak bisa ikutan padahal dia juga kerja sebagai pengajar. Alasannya KTP sudah terdafta

Setengah Belanda


Kemarin, saya kembali berbicara dengan cucu dari kakaknya nenek saya. Bingung nggak? Hahaha

Oke, jadi begini ceritanya, 

Mama dari nenek saya itu seorang Indo. Saya panggilnya mami. Catet ya, Indo bukanlah Indonesia, tapi Indo adalah anak keturunan Indonesia dan negara lain (yang kebanyakan ras kaukasoid), misal Indonesia - Belanda yang paling beken, atau Indonesia – Jerman. Nanti deh saya tulis terpisah soal ini ya.
Kembali ke nenek buyut, mamanya mami yang Indo ini menikah dengan orang Belanda. Ceritanya kakek buyut ini seorang prajurit Belanda di sini. Menikahlah mereka berdua. Jadi nenek buyut yang aslinya sendiri sudah Indo, menikah dengan orang Belanda, lahirlah dua orang anak. Yang pertama laki-laki, yang kedua perempuan (nenek saya). Erich Carl (Booley) von Bannisseth dan Rita von Bannisseth (yang kemudian menjadi Rita Herawati). 

dari Kiri ke kanan : papi (kakek saya), kakak ipar mami (nenek), mami (nenek), kakaknya mami

Anak laki-lakinya akhirnya balik ke Belanda, yang perempuan tinggal di Indonesia. Terpisahlah mereka ribuan mil. Dengan masa yang masih belum canggih-canggih bener, mereka hanya komunikasi lewat surat, telepon beberapa bulan sekali, atau hanya ketika mereka pulang ke Indonesia. 

Komunikasi tidak intens seperti saat ini.

Beberapa lamanya mereka hilang kontak, karena kami pun pindah rumah dan belum sempat memberikan kabar kepindahan, hingga salah satu keluarga dari klan mamanya nenek ini memberikan kabar ke keluarga Belanda. Kami hanya bertukar surat beberapa kali saja. Benar-bener hilang kontak. Sampai pada akhirnya ada surat yang datang dari Belanda, memberikan kabar kematian kakak dari mami ini. 

Setelah saya balas suratnya, saya sertakan alamat email dengan tujuan memudahkan untuk berkomunikasi lebih lanjut. Tahun itu 2014. Akhirnya saya dan cucunya memulai komunikasi kembali. Karena ketidakpedulian saya terhadap sosmed yang namanya facebook gara-gara terlalu banyak orang random, akhirnya tiap pesan yang masuk yang tidak di friend list akhirnya saya ignore dong. disinilah letak kebodohanku.

Minggu kemarin iseng buka-buka dan ternyata, ada pesan Allysa di FB saya. Allysa adalah cucu dari anak pertamanya opa Booley ini. Syok lah saya, akhirnya saya bales pesan taun 2014 itu kemaren. 3 taun ngendap di inbox paling bawah hahahaha

Kita mulai lagi bercengkerama Indonesia – Belanda. Ehh ternyata adekku yang nomer 2 juga dihubungi sepupunya Allysa ini. Cucunya opa Booley yang lainnya. Wessss ngobrol lah kita smua ya. Kontak terjalin lagi. Yang bikin sedih, mami memulai komunikasi dengan keluarga yang jauh baru setelah kakaknya meninggal. Jadi tiap kali kita ngobrol gitu, mami jadi sedih terus. Apalagi liat istri kakaknya yang makin kurus.

But at least, we start to talk again 😄

Comments

  1. adiknya alm mbah utiku juga ada yg di Dieren. tapi alhamdulillah komunikasi lancar tapi klo Nelpon pas tengah malem. iy kadang keluarga di sini juga sedih mbak karena lihat ybs pengen bisa ke indo tp blm bisa. tp yg penting silaturahim tetap terjaga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kalo tengah malem sana pas dinner haha. Sekarang sih udah mulai kontak lg jd gak keputus lg hubungannya. Lebih gampang jg kan skrg, thanks to internt haha

      Delete
  2. Alhmdlh ya, walaupun terpisah jauh masih bisa kontak kontakan. Masih bisa saling berhubungan. Kalo kami, sedikit menyedihkan. Hilang kontak, padahal masih sesama di Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba dikontak lagi, sekarang mah serba connected kalo udah kena internet. Sayang lho kl putus hubungan gt

      Delete
    2. Masalahnya mereka di Kampoeng nan tak terjangkau inet atau mereka tidak kenal yang namanya net. Hanya kadang ada sodara yang kirim kabar. Jadi tau berita ya, lewat sodara yang pulkam kesana aja.

      Delete
    3. Wahh susah ya kalo kayak gitu. Harus bener2 datang ya

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Mendaftar Pelatihan di Prakerja

Sanur Jadi dulu program ini diluncurkan pemerintah untuk kasih insentif orang yang di PHK atau tidak bekerja pas pandemi. Jadi ya gw tentu saja nggak punya hak tho. Sebagai orang yang nggak punya hak, ya gw nggak ikutan lah. Trus temen gw beberapa bulan lalu bilang, ikut aja soalnya ini buat yg kerja yg mau nunjang skill juga lho.  "Hah masa sih?" Yaudah pas liat oh ya bener juga, jadi gw daftar. Daftar pertama di gelombang 20 nggak lolos. Trus ya udah patah hati dah lah gausah daftar. Eh tiba-tiba minggu lalu temen gw lolos gelombang berapa gitu, lalu bilang kalau gelombang 29 udah buka. Yaudah deh ikutan aja. Eh lolos dong. Pembukaan gelombang ini termasuk cepet. Hampir tiap minggu selalu ada gelombang baru yang dibuka. Jadi daftar di gelombangnya itu selama 3 harian, pengumumannya 3 hari kemudian, lalu 3 hari kemudian udah bukaan baru. Bener-bener cepet banget. Nah temen gw yang lagi S2 nggak bisa ikutan padahal dia juga kerja sebagai pengajar. Alasannya KTP sudah terdafta

Soal ujian TOPIK vs EPS TOPIK

Setelah membahas perbedaan TOPIK dan EPS TOPIK , kali ini saya akan menulis materi tentang apa saja yg diujikan *agak sedikit detail ya*. Pengalaman mengikuti dan 'membimbing' untuk kedua ujian tersebut, jadi sedikit banyak mengetahui detail soal yg diujikan. Dimulai dari EPS TOPIK. Jika anda adalah warga yg ingin menjadi TKI/TKW di Korea, lulus ujian ini adalah wajib hukumnya. Kebanyakan dari mereka ingin cara singkat karena ingin segera berangkat sehingga menggunakan cara ilegal. Bahkan ada yg lulus tanpa ujian. Bisa saja, tapi di Korea dia mlongo. Untuk soal EPS TOPIK, soal-soal yg keluar adalah materi tentang perpabrikan dan perusahaan semacem palu, obeng, cangkul, cara memupuk, cara memerah susu sapi, cara mengurus asuransi, cara melaporkan majikan yg nggak bener, cara membaca slip gaji, sampai soal kecelakaan kerja. Intinya tentang bagaimana mengetahui hak dan kewajiban bekerja di Korea termasuk printilan yang berhubungan dengan pekerjaan. Karena yang melalui jalur ini

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?' 'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik' Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_- Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya. Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kala