Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Berkendara Keliling UAE

Sudah lama banget rasanya nggak nulis tentang jalan-jalan. Banyak draft yang belum dirilis, pelan-pelan deh. Satu per satu, mumpung longgar buat nulis. 

Tahun lalu ketemu suami di Dubai setelah 10 bulan nggak ketemu. Aturan selama pandemi di Dubai adalah semuanya harus memakai masker, semua tempat sedia hand sanitizer, diberi jarak agar tdk terlalu mepet juga, boleh melakukan semua aktifitas. Waktu itu kasus harian berkisar 1000 kasus/hari, dg kematian yang sangat rendah. Tes PCR bisa didapat hasilnya dalam waktu 4 jam dengan harga yang tidak sampai satu juta rupiah. 

Tidak ada aturan yang kami langgar, kami memutuskan untuk berkeliling UAE sembari menunggu visa dan printilannya. Dubai bisa dibilang kota yang sibuk dan padat. Setelah keluar Dubai malah lebih jarang menemui manusia dan keramaian 😁 Gw ngerasa lebih aman tanpa dekat-dekat manusia. Dengan segala protokol tambahan tentang kebersihan dan kesehatan, udah hampir gila aja kita semua ini. No, we can't afford to get covid. We don't want that.

Metro stop dan parkir bandara yang sepi.

Tadinya berencana naik bus saja. Tapi kalau naik transportasi umum malah nggak bebas kemana-mana karena harus naik taksi dan lainnya, sedangkan gw paham banget gaya kita yg selalu di luar rencana. Jadi, kami putuskan untuk menyewa mobil yang diambil di bandara DXB. Kami sewa menggunakan emirates.com untuk menabung miles juga. Mobil yang kami sewa harganya sekitar 500 ribuan/hari. Mobil automatic, baru, bersih, semuanya dicek terlebih dahulu kurang lebihnya termasuk goresan kecilpun. Begitupun saat mengembalikannya. 

Ini tentang perjalannnya, nanti tentang tempat yang kami tuju akan coba gw tulis terpisah.

Perjalanan awal kami dari Dubai menuju kota Sharjah, tepatnya Arabia's wildlife center. Menempuh jarak 45 KM dengan jarak tempuh sekitar 40 menit saja. Sebagai perbandingan di Bali, 40 menit itu jarak tempuh rumah gw ke bandara DPS, dengan jarak 10 KM. Kalo nggak macet dan lewat tol baru bisa 30 menit. You got the idea.

Jalanannya tentu saja mulus, aspalnya mulus, jarang gronjalan nggak jelas, jalan juga super lebar dan membingungkan hamba si pengarah GPS (you definitely know what I mean). Saking santainya nyetir nggak kerasa aja diatas 120km/jam. 

Harga bensin di seluruh UAE nggak sampai 2 Dirham/liter. Harga per liternya nggak sampai 7ribuan rupiah. Iya, murah banget emang. Lebih murah dari harga air botolan. Pertama kali berkunjung ke Dubai nanya supir taksi, "Di Dubai yang murah apa ya?", beliau jawabnya "BENSIN!" Akhirnya gw tau emang harganya murah gila.

Kami lanjutkan perjalanan ke Fossil Rock. Dikiranya fossil rock ini cukup keliatan dari jauh aja, tapi ternyata it's more than thatIt's way more fascinating. Tentu saja ini pasti gw tulis tentang ini karena begitu keren banget. Karena kami salah kira dan tujuan, di belakang kami ada 2 mobil jeep yg kasih tau kalau jalannya bukan ini. Kami harus ke sana sini untuk ini itu begitulah. Tapi yang gw perhatiin banget, dalam mobil ini ada 2 cewek-cewek yang ketika keluar itu rasanya mirip kayak di film-film yang diambil di gurun. Sumpah men! Gw aja terpesona (dan kaget).

Ngikutin apa kata GPS, berakhir di jalan aspal terakhir di sini.

Akhirnya kami lanjutkan perjalanan ke Mleiha Archeological center. Tempat ini bikin gw ngiler nggak henti, super keren. Hari itu kami harus ke Fujairah karena tempat kami menginap ada di sana untuk semalam saja. Total di hari pertama, perjalanan yang kami tempuh sejauh 120KM dengan rute jalan panjang memecah batuan. Cepet sih, tiap perjalanan bosan juga kami berhenti untuk sekadar makan atau minum. Tapi, ngelewatin tol panjang dg pemandangan batuan meskipun hanya setengah jam juga bosen banget. Takut ngantuk juga saking membosankannya.

This dude almost lick me inside the car. Super stink! Man, do not leave your window open when you're very close to animals. Ya, gw nggak pernah ke Taman Safari sih.


Hari itu panas banget, kita terlalu excited dengan perjalanan pertama kami keliling UAE sampai lupa minum. Sampai di hotel suhu tubuh gw 36.9, suami gw lebih dari 37. Oh tentu saja kami khawatir. Ternyata esoknya suhu badan normal. Hari itu kami kurang minum dan suhu di luar sangat terik sekali. Dehidrasi banget. 


Bentuk jalan yang relatif mirip sepanjang puluhan hingga ratusan KM.

Dari Dubai ke Fujairah ini seperti perjalanan dari Barat ke Timur. Esoknya kami lanjutkan perjalanan menuju Khor Fakhan lalu lanjut ke Dibba dan bermalam di Dibba. Ini menuju utara, berbatasan dengan batas Oman. Ini negara bener-bener lucu banget batas negaranya. Ada yg irisan dalam irisan juga 😆

Kamipun sempat "menerobos" Oman melalui UAE tanpa perlu dokumen perjalanan apapun. Ini legal ya, meskipun gw dredegnya bukan main takut dicegat polisi batas negara 😂 Gw juga doa banget semoga mobilnya tahan banting dibawa perjalanan ngelewatin batu-batuan begini. Ini udah mikir banget kalo ban kempes minta tolong kemana ini. Kita berdua sama-sama bego urusan beginian.


Nggak kok, nggak ada apa-apa dan kita bisa selamat sampai tujuan berikutnya. Tujuan berikutnya adalah Hatta area. Hatta ini adalah kota batas antara UAE dan Oman tapi kalau mau lewatin batas negara harus pake visa. Kami hampir nembus karena salah jalan dan untungnya keliatan U-turn terakhir sebelum masuk dokumen cek. 

Secara keseluruhan, jalanan di UAE ini mulus banget (kecuali bagian bebatuan ini). Jalannya juga lebar banget bisa buat 4 jalur mobil di satu arah. Jalan tolnya juga otomatis pake sensor. Urusan ini gw kurang paham karena gw biasanya top up e-money di Indonesia 😂 Lalu ada juga sensor untuk kecepatan mobil. Perhatikan aja maksimum berapa kecepatannya. Ya sapa tau tiba-tiba dapet surat cinta dari pemerintah buat bayar denda kan. Terlalu cepat kena denda, terlalu lambatpun kena denda juga. Dendanya kisaran AED 1500 - 3000 tergantung apa yang dilanggar. Sepanjang jalan mantengin berapa kecepatan maks dan min. Jereng mata gw. 

Jangan lupa pake kacamata item juga sih karena silau banget meskipun musim dingin. Brightness level-nya matahari di sana selalu tinggi. Waktu itu musim gugur sih hitungannya. Suhu di Dubai masih di kisaran 30-40 aja, teriknya luar biasa. Waktu di Hatta suhu siang hari 30an, teriknya bukan main, tapi begitu malam hari suhunya turun jadi di bawah 20. 


But it was fun. Even more when I got to see camels walked along the road as if they're a group of ducks here 😌

Comments

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

[Piknik] Jejak sejarah di Malang

Beberapa bulan yang lalu ketika si mas ke Bromo, dengan waktu yang mepet banget, akhirnya kita niat jelajah singkat jejak sejarah di Kota Malang. Biasa lah ya, dia selalu bawa buku panduan. Selain nerd, dia juga nggak mau oon ketika dia berada di suatu tempat baru. Dia terlalu nggak percaya sama kemampuan sejarahku akan kota Malang, karena pasti kalo nanya sejarahnya yang aku tahu paling juga nggak jauh-jauh dari lapak baju buku murah. Sejarahnya, tanyain mbah mbah jaman dulu dah. kantor balaikota Malang Perjalanan kita mulai dari hotel Tugu. Kita mulai dari naik becak. Tadinya saya kira aja sampai seratus ribu ya nganter ke daerah pasar besar (alun-alun kotak), eh ternyata cuman 30ribu. Terheran-heran juga kok, ini muka bule nggak dimahalin?? Derita punya partner bule, harga dibedain.   dari sampul sih nggak beda banyak, tapi begitu buka dalemnya...hmm kalah deh cetakan Indonesia sama cetakan luar negeri buku ini bagus kok, ada peta-peta jelajahnya juga Malang saat...