Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Berakhir Pekan di Ubud

Seminyak

Let's go back to January 2020. 

Salah satu temen deket gw lagi dilempar ke Bali buat kerja beberapa bulan. Ya di kantor yang sama kayak gw. Trus gw bilang "Ah masa lu di Denpasar Seminyak Sanur doang mainnya. Ayok lah ke Ubud biar pernah keluar dikit."

Akhirnya kami berdua berangkat ke Ubud dengan naik shuttle bus Perama. Ini andalan banget, harga dari Sanur ke Denpasar 50 ribu tapi kalau ada membernya jadi 35 ribu aja. Ya kalo sekarang sih ada opsi lain, teman bus udah bisa sampai Ubud sekarang. Kami berdua berangkat sore, abis ngantor langsung cus ke Ubud nginep 2 malem. 

Kami nginepnya di homestay yang ala Bali. Tipe homestay Bali pasti pintu depannya kecil bahkan nggak keliatan, ketika masuk barulah keliatan segede apa. Gw ambil yang di Jalan Gautama biar dia tau juga rasanya ada di tengah-tengah. Pun jalan kemanapun juga lebih deket. Karena kami berdua akan jalan kaki, bukan sewa motor ataupun sepeda. Pengalaman bersepeda di Jogja bareng dia malah sepedanya dituntun nggak dinaikin.

Water Palace ini kalau lagi musim hujan begini pasti subur


Kami nggak terlalu ngoyo harus ke semua tempat. Kami sempat ke Puri Saren Agung (bukan yang Puri Peliatan). Lalu kami juga sempat ke Water Palace yang ada di belakang Starbucks Ubud. Tentu saja kurang lengkap tanpa jalan-jalan keliling pusat Ubud dan pasar Ubudnya. Apakah kami membeli sesuatu di sana? Tentu tidak 😂 OH temen gw sih yang beli-beli buat oleh-oleh. Kita bahkan sempet ngulang pasarnya karena yaa... suka aja liat-liat.

Tentu ke Ubud tak lengkap tanpa melihat pertunjukan tari. Dia pengen banget liat tarian Bali dan di Ubud itu jadwal tarian tiap harinya beda-beda. Seperti digilir begitu. Misal hari ini tarian A di tempat A, nah besok udah harus tarian B di tempat A. Tempat terdekat waktu itu pas banget ada tarian kecak. Gw pernah sekali nonton kecak dan agak kurang suka karena panas pake acara bakar-bakar. Bukan berarti ga bagus ya, tetep bagus bangettt. Cuma karena gw duduk paling depan jadinya ya gitu deh. Panas 🔥 Tapi di pertunjukan itu juga gw duduk di tempat paling depan lagi sih 😅

Makanan depan homestay sebelum balik ke Denpasar, di Jalan Gautama.

Kami nggak sempat ke Tjampuhan karena waktu yang singkat. Sempet kepikiran lho "Bolos aja kali besok ya," tapi nggak jadi. Kami akhirnya balik ke Denpasar malamnya. Sebelum balik gw sempet pijet kaki dulu. Agak gempor dua hari jalan kaki terus.

So she's one of my best friends. I've lived with her for 6 years, so yes of course we're that close. Hobi kami adalah ngobrolin semua hal dari yang penting sampe nggak penting. Hingga pada tengah malam kami berdua lapar dan "Let's go get some snack!" Sebelum pandemi, tentu saja masih banyak Circle K yang buka 24 jam. Jaman kuliah kita sering banget tidur jam 3 jam 4 meski kuliah jam 7 pagi hanya karena bahasan obrolan kami semenarik itu. I can say that it was all positive. Ya maksudnya, nggak yang ngomongin orang, negatif, lalu iri maupun dengki akhirnya capek sendiri. 

Jalanan Ubud

Kami udah berteman sejak 2005. Pernah nggak ngobrol bertahun-tahun juga 😂 Tapi ya gitu, begitu diobrolin masalahnya juga kita udah bisa balik lagi kayak dulu. Ini orang yang paling sering jalan bareng gw, dibandingkan dengan temen deket gw lainnya. Salah satunya ke Bromo waktu semi-semi erupsi tipis. Karena sering jalan bareng jadinya tau gayanya gimana. Gaya kami berdua? Chill banget. Kami hobi meresapi energi di tempat yang kami kunjungi. 

Gw rasa emang Ubud cocok buat liburan singkat selama akhir pekan. Masih jadi tempat favorit gw sampai saat ini meskipun makin banyak WNA yg hmm begitu lah ya di sana. Yahh liat aja apakah akan berubah atau tidak dalam waktu dekat ini 😅

Comments

  1. Kalau emang dasarnya udah di Bali, kemana-mana juga nggak masalah ya ... tinggal naik bis aja udah sampe, enak banget itu pasti liburannya :D

    Btw, lagi musim covid gini di Bali masih rame orang liburan nggak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betulll banget! Everyday is sunday memang betul adanya kalau tinggal di Bali.

      Musim pandemi begini akhir-akhir ini agak rame sih daripada semester awal pandemi. Cuma yaa daerah barat sepi bgt dibandingkan dg hari normal. Tapi masih blm macet, pertanda keramaiannya ga sampai 50% hari normal. Sampe lupa rasanya macet2an di Bali wkwkw

      Delete
  2. aku waktu ke ubud naiknya kura kura bus.. beli kartu dulu...

    enaknya bisa nonton tari tarian oas malemnya itu.. aku nalah bingung terjebak jalan aja di sepanjang oasar seni ubudnya doang

    kalau tari traian malah aku lihatnya di gwk

    kocak pas bagian di jogja sewa sepeda jatohnya cuma dituntun doang hahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. GWK ini jauh bangettttt dari Denpasar ini. Bagian selatan bgt dahh. Tapi yaa emang banyak sih yg kesitu ya, kayaknya lbh familiar aja ya.

      Kura-kura bus ini yg gimana mbak? Kok aku nggak tau :D

      YAAA mbak coba aja kalo liat sendiri kejadian kita udah gowes muter kota, ternyata dia malah berhenti di tengah dan sepedanya dituntun. Ya kan kita dah nunggu setengah jam lebih taunya dia leha2 😂

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

If Money Wasn't The Problem, What Would You Do?

In this extraordinary life, I would be a teacher still.  Helping people to understand even some little things to make them feel worthy and understand themselves better. It seems that teaching has become a calling for me. Not about teaching such specific subject like mathematics or so, but more like... I like to give new perspectives for people, and having them saying "Oh.... I see..." is satisfying for me. Of course, by teaching I can learn so many new perspectives from different people too. It's like the more I teach the more I learn, and that is so true. Maybe more like a guide. I like giving guidance to people who needs it. No, I don't like giving unsolicited guiding. I like to guide people who wants to be guided. I'd teach them how to love, love themselves first. Yea sure when we are talking about things, they would say "do useful things like engineering, plumbing, this and that" but they tend to forget that we need some balance in life. Not saying t

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini