Skip to main content

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Beda Bahasa Beda Persona

Burmese

Have you ever feel different when you speak in your local language and Bahasa Indonesia, or even English? 

Berbicara dalam bahasa yang berbeda bisa jadi menciptakan persona yang berbeda. Dulu sih awal-awal mulai berbahasa Inggris setiap hari ngerasa "Kok beda ya rasanya pas ngomong pake Bahasa Inggris?" Sejauh ini sih gw baru ngobrol pake 4 bahasa. Keempat bahasa berbeda itu juga ada feeling dan mood yang beda tiap kali dipake. 

Ternyata, persona yang berbeda dari bahasa yang diucapkan ini juga memang betul adanya menurut penelitian. Nggak mengubah kepribadian sepenuhnya sih, tapi lebih ke menonjolkan feeling yang lagi dirasakan. Bagi gw, berbahasa Inggris lebih bikin gw percaya diri dalam mengungkapkan isi hati, keinginan, apapun itu yang ada di uneg-uneg lebih bisa tersampaikan dalam Bahasa Inggris. Nggak tau kenapa, padahal bukan bahasa ibu juga. Menurut gw sih lebih karena nggak ada batasan sopan/nggaknya seperti unggah ungguh seperti di Bahasa Jawa/Korea. Lebih fair aja kalau mau kritik atasan atau orang yang lebih tua bisa pake Bahasa Inggris. Selama kata atau kalimat yang digunakan bukan kata yang tidak senonoh, masih masuk lingkup sopan.

Dulu waktu masih kerja kantoran, gw lebih bisa gampang nyampein kritikan atau saran ke bos gw yang WNA daripada ke atasan gw yang lokal. Kayak ada rasa sungkan gitu lho kalau pakai Bahasa Indonesia atau Jawa. Keterikatan unggah ungguh yang bikin kurang rileks dalam menyampaikan ide tersebut. Meskipun harusnya sih nggak gitu ya, karena bahasa kan cuma alat. 

Apartemen di tengah kota tua Yangon

Kalau lagi marah-marah atau pengen ngumpat, tentu saja lebih nikmat dalam Bahasa Jawa. Belum ada yang bisa ngalahin enaknya ngomong Jancok dengan nada marah maksimal. Kalau berbahasa Indonesia, rasanya formal banget dan agak menjaga jarak. Ini biasanya gw pake kalau ke orang yang baru pertama kali kenal atau ngobrol. Kalau udah ngerasa nyambung dan dia bisa bahasa lain yang gw kuasai, biasanya gw pake bahasa lain. Lebih deket aja. 

Nah kalau Bahasa Korea ini gw pake tentunya ke murid gw kalo di kelas dan juga ke sahabat gw. Kami belajar bahasa bareng. Koreapun belajar bareng, sekarang belajar Prancis juga bareng-bareng. Salah satu motivasinya belajar Prancis karena banyak-banyakan poin di Duolingo πŸ˜‚ Iya kami kompetitif. Ya selain sama dia ya tentunya ke orang Korea juga. Kadang ada frasa yang nggak enak kalo disebut di bahasa selain Korea. Lebih puas aja ekspresinya di situ. 

Tapi enaknya banyak bahasa gitu, ketika kita ada dalam suatu kondisi yang bikin "duh gimana ya jelasinnya, ini tuh kalo di Bahasa Jawa itu ndelomong. Kalau di Bahasa Korea ini tuh λ©€λΆ•

Whatever works for you I guess. 

Kalian gimana, ngerasa beda nggak waktu ngomong pake bahasa lokal dengan Bahasa Indonesia atau bahasa lainnya?

Comments

  1. salfoks...fotonya keren bangaat mba oris...latar belakang bangunane so artsy

    betewe betewe...saaamaaaa...klo lagi pengen misuh misuh paling pol gayenge yo ancen go bahasa jawa sih hahahhaha...jancukkkk dengan artikulasi yang digamblangkan...hampir mirip dengan menyebutkan binatang bersikil papat utawa bahasa kromo inggile segawon kwkwkwkwkkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahh bagaimanpun jg bahasa pertama dalam hal perpisuhan adalah hal yg melegakan wkwkwkkw

      segawon yaallah πŸ˜‚

      Delete
  2. Ngeri banget mbak bisa sampai empat bahasa 😱
    Saya malah bahasa Inggris aja masih belepotan.

    Berarti emang bahasa Inggris yang paling selow ya, nggak ada kromo Inggris... Jadi kalau ngomong nggak bingung pemilihan katanya buat dipakai ke orang yang lebih tua biar sopan 😁

    Kalau saya lebih nyaman pakai bahasa Jawa ngapak sama temen2, tapi emang kalau sama guru lain biasanya bahasa kromo Alus, itu pun hanya semampunya, kadang improvisasi tambahi bahasa Indonesia karena kosakata kromonya terbatas 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkw eh iya juga yaaa, kadang jg kromo alus dikit kalo kehabisan kosakata langsung sambung bhs indonesia. kdg malu gt ga bisa kromo. aku lg belajar kromo jg. tapi yaaa ngomong sama orangtua jg ga pake kromo jadi susah prakteknya juga haha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Sudah Vaksin Covid Lengkap

Sei sapi yang kucintai Yes, it's my biggest flex this year.  Setelah vaksin pertama akhir Mei kemarin, akhirnya gw udah dapet suntikan kedua tanggal 21 Agustus 2021. Cantik kan tanggalnya?  Masih di RS yang sama, Surya Husadha, kali ini gw berangkat pagi. Yaa... 15 menit lebih pagi daripada vaksin pertama 😬 Karena gw ketiduran, seperti biasa. Hari itu hari sabtu, memang sengaja milih akhir pekan waktu vaksin pertama. Kita nggak tau efeknya bakalan gimana kan.  Vaksin pertama gw bisa bilang hampir ga ada efek apapun sih. Cuma ke UGD aja hari ketiga karena asam lambung naik banget. Setelah gw inget-inget, gw emang nggak banyak makan setelah vaksin malah gegoleran dan kata dokternya "Kalau abis vaksin tuh makan mbak yang banyak, protein yang banyak, jangan malah ga makan. Jadinya asam lambung naik kan?" Yasudah abis disuntik ranitidin, sejam juga gw udah mendingan.  Jadi gw bertekad "Ok setelah vaksin kedua, gw harus makan yang banyak!!!" Setelah gw datang di RS,