Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Beda Bahasa Beda Persona

Burmese

Have you ever feel different when you speak in your local language and Bahasa Indonesia, or even English? 

Berbicara dalam bahasa yang berbeda bisa jadi menciptakan persona yang berbeda. Dulu sih awal-awal mulai berbahasa Inggris setiap hari ngerasa "Kok beda ya rasanya pas ngomong pake Bahasa Inggris?" Sejauh ini sih gw baru ngobrol pake 4 bahasa. Keempat bahasa berbeda itu juga ada feeling dan mood yang beda tiap kali dipake. 

Ternyata, persona yang berbeda dari bahasa yang diucapkan ini juga memang betul adanya menurut penelitian. Nggak mengubah kepribadian sepenuhnya sih, tapi lebih ke menonjolkan feeling yang lagi dirasakan. Bagi gw, berbahasa Inggris lebih bikin gw percaya diri dalam mengungkapkan isi hati, keinginan, apapun itu yang ada di uneg-uneg lebih bisa tersampaikan dalam Bahasa Inggris. Nggak tau kenapa, padahal bukan bahasa ibu juga. Menurut gw sih lebih karena nggak ada batasan sopan/nggaknya seperti unggah ungguh seperti di Bahasa Jawa/Korea. Lebih fair aja kalau mau kritik atasan atau orang yang lebih tua bisa pake Bahasa Inggris. Selama kata atau kalimat yang digunakan bukan kata yang tidak senonoh, masih masuk lingkup sopan.

Dulu waktu masih kerja kantoran, gw lebih bisa gampang nyampein kritikan atau saran ke bos gw yang WNA daripada ke atasan gw yang lokal. Kayak ada rasa sungkan gitu lho kalau pakai Bahasa Indonesia atau Jawa. Keterikatan unggah ungguh yang bikin kurang rileks dalam menyampaikan ide tersebut. Meskipun harusnya sih nggak gitu ya, karena bahasa kan cuma alat. 

Apartemen di tengah kota tua Yangon

Kalau lagi marah-marah atau pengen ngumpat, tentu saja lebih nikmat dalam Bahasa Jawa. Belum ada yang bisa ngalahin enaknya ngomong Jancok dengan nada marah maksimal. Kalau berbahasa Indonesia, rasanya formal banget dan agak menjaga jarak. Ini biasanya gw pake kalau ke orang yang baru pertama kali kenal atau ngobrol. Kalau udah ngerasa nyambung dan dia bisa bahasa lain yang gw kuasai, biasanya gw pake bahasa lain. Lebih deket aja. 

Nah kalau Bahasa Korea ini gw pake tentunya ke murid gw kalo di kelas dan juga ke sahabat gw. Kami belajar bahasa bareng. Koreapun belajar bareng, sekarang belajar Prancis juga bareng-bareng. Salah satu motivasinya belajar Prancis karena banyak-banyakan poin di Duolingo πŸ˜‚ Iya kami kompetitif. Ya selain sama dia ya tentunya ke orang Korea juga. Kadang ada frasa yang nggak enak kalo disebut di bahasa selain Korea. Lebih puas aja ekspresinya di situ. 

Tapi enaknya banyak bahasa gitu, ketika kita ada dalam suatu kondisi yang bikin "duh gimana ya jelasinnya, ini tuh kalo di Bahasa Jawa itu ndelomong. Kalau di Bahasa Korea ini tuh λ©€λΆ•

Whatever works for you I guess. 

Kalian gimana, ngerasa beda nggak waktu ngomong pake bahasa lokal dengan Bahasa Indonesia atau bahasa lainnya?

Comments

  1. salfoks...fotonya keren bangaat mba oris...latar belakang bangunane so artsy

    betewe betewe...saaamaaaa...klo lagi pengen misuh misuh paling pol gayenge yo ancen go bahasa jawa sih hahahhaha...jancukkkk dengan artikulasi yang digamblangkan...hampir mirip dengan menyebutkan binatang bersikil papat utawa bahasa kromo inggile segawon kwkwkwkwkkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahh bagaimanpun jg bahasa pertama dalam hal perpisuhan adalah hal yg melegakan wkwkwkkw

      segawon yaallah πŸ˜‚

      Delete
  2. Ngeri banget mbak bisa sampai empat bahasa 😱
    Saya malah bahasa Inggris aja masih belepotan.

    Berarti emang bahasa Inggris yang paling selow ya, nggak ada kromo Inggris... Jadi kalau ngomong nggak bingung pemilihan katanya buat dipakai ke orang yang lebih tua biar sopan 😁

    Kalau saya lebih nyaman pakai bahasa Jawa ngapak sama temen2, tapi emang kalau sama guru lain biasanya bahasa kromo Alus, itu pun hanya semampunya, kadang improvisasi tambahi bahasa Indonesia karena kosakata kromonya terbatas 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkw eh iya juga yaaa, kadang jg kromo alus dikit kalo kehabisan kosakata langsung sambung bhs indonesia. kdg malu gt ga bisa kromo. aku lg belajar kromo jg. tapi yaaa ngomong sama orangtua jg ga pake kromo jadi susah prakteknya juga haha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Gojek ke bandara juanda

While waiting, jadi mending berbagi sedikit soal gojek. Karena saya adalah pengguna setia gojek, saya pengen cobain ke bandara pake gojek. Awalnya saya kira tidak bisa *itu emang sayanya aja sih yang menduga nggak bisa*, trus tanya temen katanya bisa karena dia sering ke bandara pakai motornya. Nah berarti gojek bisa dong?? Sebelum-sebelumnya kalo naek gojek selalu bayar cash, tapi kali ini pengen cobain top up go pay. Minimum top up 10ribu. Jadi saya cobain deh 30ribu dulu. Eh ternyata lagi ada promo 50% off kalo pake go pay. Haiyaaaaa kenapa ga dari dulu aja ngisi go pay hahaha. Dari kantor ke bandara juanda sekitar 8km. Kantor saya sih daerah rungkut industri. Penasarannn banget ini abang mau lewat mana ya. Tertera di layar 22ribu, tapi karena pakai go pay diskon 50% jadinya tinggal 11ribu. Bayangin tuhh... pake bis damri aja 30ribu hahaha. 11ribu udah nyampe bandara. Biasanya 15ribu ke royal plaza dari kantor haha. Lagi untung. Bagus deh. Nah sepanjang perjalanan, saya mikir ter