Skip to main content

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...

Catatan Kuliah (4) : Alfabet Korea di kelas matematika

 
Graha Cakrawala, gedung andalan kampus. Mau konser, kawin disitu juga bisa

Mahasiswa matematika di kelas gw yang niat bisa diitung jari. Hmmm yaaa ada dua lah yg top banget, tapi juga pelit banget sama ilmunya. Ada lebih dari 5 yang pinter dan rajin berbagi contekan. Sisanya nggandol wae.

Gw orang yang suka banget belajar bahasa asing. Apalagi bahasa yang alfabetnya beda. Nggak sih, nggak Jepang sama Mandarin. Susah banget. Jadi milih Korea aja. Trus gw suka aja gitu nulis di buku catetan tulisan Korea padahal juga sering dalam Bahasa Indonesia yang diganti alfabetnya aja.

Kemudian ...

"Ah elu kenapa sih? Kan gw jadi nggak bisa baca!"
"Ya kalo pengen baca, belajar lah"

Tapi gw gak punya otak Cina kek mas Riza, jadi gw kasih aja lah gratis!

Hingga akhirnya satu kelas pun bisa baca tulis dalam alfabet Korea. Keren kan gw? Gw emang pantes jadi influencer sih. Udah berapa juga orang yang pake Jenius gara-gara gw. Berapa orang yang nabung emas di Pegadaian gara-gara gw. Padahal hellooo gw nggak diuntungkan disisi ini 😓 terlalu baek gw jadi orang sih.

 
gedung matematika di sebelah kiri, nggak keliatan sih. Yang keliatan itu gedung Fisika juga Kimia yang keliatan gentengnya aja (gedungnya Ikrom)

Balik lagi, karena satu kelas udah bisa alfabet Korea, jadilah kita interaksi dalam kelas pake kertas folio yang bertuliskan obrolan ga jelas gara-gara dosen terlalu membosankan. Padahal dosennya killer banget lho. Kalo ketauan bisa-bisa dapet E lho. Serius ini nggak boong, ada kakak tingkat yang motret pak dosen itu, trus ketahuan, dia dapet E. Ngikut kuliah beliau selama 3 tahun (karena hanya beliau yg ngajar, matakuliahnya muncul satu semester aja jadi kakak tingkat itu ikut selama 3 kali) dan nggak lulus. Nilainya tetep E. Hingga pada titik "kamu minta maaf aja deh, biar dimaafin. Beliau orang yang sensitif". Minta maaf lah kakak tingkat tersebut dan lulus dengan nilai bagus. Padahal dia ga bego wong dia programmer. Jadi dia lulus 7 tahun hanya karena sakit hatinya beliau, sedih kan 😓

 
GKB, tempat kuliah matakuliah bukan matematika

Jaman dulu belom ada WA grup ya, hape pintar aja masih satu orang yang punya di kelas itu. Jadi ya komunikasi satu grup ya via kertas folio. Kemudian, ketahuan dong ya. Ketahuan dosen terkiller masa itu. Beliau berkata "Kalian ini emangnya sudah paham kok malah nulis lagu Cina di folio??"

LAGU! LAGU! LAGU! LAGU CINA PULA!

Untungnya beliau ndak tau bedanya ya Korea, Jepang, Mandarin 😂

Serempak menjawab "Hehe iya pak maaf"

Jadi ketika bosan dengan rentetan pembuktian, kita selingkuh sebentar. Selingkuhnya kompak satu kelas. Tapi yaaaa balik lagi fokus ke kelas matematika setelah refresh otak. Terlontarlah pertanyaan "Eh Dit, kamu bisa nggak ngerjain soal matematika dalam Bahasa Korea?" itu pertanyaan BODOH! Karena dalam bahasa gw sendiri aja sering ga mampu nyelesainnya bebbbbb

Moral value-nya adalah jangan pernah gombalin orang matematika karena rumus-rumus matematika aja kita kasih bukti kok berani-beraninya kamu cuma modal gombal? Kita akan minta pembuktian daripada gombalan manis #LhoGakNyambung

Comments

  1. Koncoku ndek emben ono loh, sing iso nulis huruf korea. Terus nek gawe contekan karo huruf korea, wkwkwkwk.

    PINTAR !

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...

Fire in the Building

Who would have thought that I  experienced fire in the building.  This is my first time living in an appartement. Of course I never chose appartement when living in Indonesia because it’s a real high risk when the earthquake happen. But here we are placed in an appartement. What got me relieved the first time that we are in the lowest floor so if something happen we will be quickly evacuated.  That’s what I thought.  Until it really happened.  We slept around midnight and abruptly woken up by the noise outside. I thought it was the drunk people just got back from night club or the restaurant next door was doing some deep cleaning. So loud that I had to wake up. My husband peeked outside and immediately said “fire brigade outside, you wait here!” I was just “am I dreaming or what?” I put on clothes, checked outside and saw a few of fire trucks. I checked the other side of the appartement and saw a few of police cars and ambulances.  “Oh no, something serious...