Skip to main content

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite spot ...

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda. 

Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami. 

Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah. 

Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana yang tidak. Sudah mulai oke untuk sekedar hidup sehari-hari. Nemuin barang-barang Indonesia yang bikin bahagia banget.

Bulan ketiga, secara mengejutkan mulai terasa hampa dan kesepian. Gw termasuk orang yang nggak pernah merasa kesepian karena gw punya orang-orang yang bisa dengan kapanpun gw hubungi. Gw analisa rasa kesepian itu, rasanya berbeda. Bukan kesepian yang "nggak punya temen" atau kesepian karena takut sendirian. Tapi kesepian yang ternyata capek juga ya tiap hari mendengar bahasa yang gw nggak kenali sama sekali. 

Sepi karena sehari-hari terisolasi dalam konteks "I am the alien here". Bahasa nggak kenal, meskipun mengerti sedikit saja. Meskipun di Indonesia juga jarang ngumpul dengan orang, tapi setidaknya waktu beli kopi, beli makan, interaksi kecil dengan penjualnya bisa bikin hati tenang. Di sini gw cuma bisa bilang makasih dan halo. 

Ada ternyata rasa sepi karena jauh sekali dengan kondisi yang familiar dari diri kita. Rasa sepi ini juga baru gw sadari saat gw berkunjung ke kedutaan besar tanggal 17 Agustus. Di sana gw denger orang ngobrol dengan bahasa daerah masing-masing yang gw nggak ngerti, dengan Bahasa Indonesia, dengan kostum Indonesia banget, dengan gelagat yang Indonesia banget, jajanan dan makanan yang Indonesia banget. 

  

Hati gw rasanya hangat sekali. Nangis dikit, terharu. Ini ratusan orang Indonesia ngapain aja ya di Moskow. Ada yang sekolah, kerja, nikah sama orang Rusia, ada yang cuma ngikut aja kayak gw. 

Beberapa waktu setelah itu kami pijat di tempat langganan kami. Lalu waktu pijat, mbaknya nanya "tekanannya sudah cukup kak?". Karena kaget gw jawabnya agak lemot. Ini gw di Sanur apa di Moskow. Ternyata mbaknya dari Bali. Satu hal kecil seperti ini terasa amat sangat menyenangkan di negara yang jauh dari rumah. 

Now that I think about it, humans are meant to be a part of community. A community where we support each other, rely on each other. The way I cope with being far from home is through cooking Indonesian food.

Ternyata memang gw tuh nggak punya masalah dengan orang Indonesia. Masalah gw adalah dengan pemerintahan Indonesia. Masalah kita bersama. 

Comments

Popular posts from this blog

Taking a Train from Moscow City to Yaroslavky

walking to the wagon We chose deliberately in the winter to travel from Moscow to Yaroslavsky. In my defense, we kinda had to use the holiday a little bit. If we're waiting for the good weather, it probably not gonna happen for 3 months and then nothing again. So this trip was taken on February 2026. So we've decided to take a few days off going from Moscow to half of the golden ring. The name ring, means literally ring. Refers to a few cities that used to be very important in the past. Starting from Moscow city (where which we're coming from, technically). I have to mention the cities here anyway; Sergiyev Posad, Pereslavl Zalessky, Rostov Veliky, Yaroslavl, Kostroma, Ivanovo, Vladimir, and Suzdal. there will be info about the train  We took the train trip from Moscow. I would say it's the "normal type" of train. So we sat next to each other. Two seaters next to each other. I think my husband took the non-economy one. He booked the train from the app, tutu. T...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Rough Guide to Bali

Penjor "Hey I am coming to Bali, can you recommend me things to do?" I got that question a lot. I get it, I live in Bali so people would think that I master everything about Bali. Well... 50:50. I happened to travel around Bali since 2017. So it wasn't wrong to assume me knowing Bali. But I am also a lazy traveler so I don't always do many things in one place.  That is why we will call this a rough guide to Bali.  First thing first, define your style of traveling. Because we all know that Bali is an island. Not a city. So it is quite big, you know. You can not explore all of it in two weeks. Well you might be able to do so, but probably not immersing enough of it.  So... what is your style of traveling? Bali offers you some cultures, quiet normal life, party hotspots, quiet beaches, busy beaches, temples, and so on.  Mt Batur West part of Bali (Canggu, Seminyak, Kuta) If you enjoy partying, you might want to spend your time more in the west part of Bali like Canggu, ...