Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda. 

Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami. 

Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah. 

Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana yang tidak. Sudah mulai oke untuk sekedar hidup sehari-hari. Nemuin barang-barang Indonesia yang bikin bahagia banget.

Bulan ketiga, secara mengejutkan mulai terasa hampa dan kesepian. Gw termasuk orang yang nggak pernah merasa kesepian karena gw punya orang-orang yang bisa dengan kapanpun gw hubungi. Gw analisa rasa kesepian itu, rasanya berbeda. Bukan kesepian yang "nggak punya temen" atau kesepian karena takut sendirian. Tapi kesepian yang ternyata capek juga ya tiap hari mendengar bahasa yang gw nggak kenali sama sekali. 

Sepi karena sehari-hari terisolasi dalam konteks "I am the alien here". Bahasa nggak kenal, meskipun mengerti sedikit saja. Meskipun di Indonesia juga jarang ngumpul dengan orang, tapi setidaknya waktu beli kopi, beli makan, interaksi kecil dengan penjualnya bisa bikin hati tenang. Di sini gw cuma bisa bilang makasih dan halo. 

Ada ternyata rasa sepi karena jauh sekali dengan kondisi yang familiar dari diri kita. Rasa sepi ini juga baru gw sadari saat gw berkunjung ke kedutaan besar tanggal 17 Agustus. Di sana gw denger orang ngobrol dengan bahasa daerah masing-masing yang gw nggak ngerti, dengan Bahasa Indonesia, dengan kostum Indonesia banget, dengan gelagat yang Indonesia banget, jajanan dan makanan yang Indonesia banget. 

  

Hati gw rasanya hangat sekali. Nangis dikit, terharu. Ini ratusan orang Indonesia ngapain aja ya di Moskow. Ada yang sekolah, kerja, nikah sama orang Rusia, ada yang cuma ngikut aja kayak gw. 

Beberapa waktu setelah itu kami pijat di tempat langganan kami. Lalu waktu pijat, mbaknya nanya "tekanannya sudah cukup kak?". Karena kaget gw jawabnya agak lemot. Ini gw di Sanur apa di Moskow. Ternyata mbaknya dari Bali. Satu hal kecil seperti ini terasa amat sangat menyenangkan di negara yang jauh dari rumah. 

Now that I think about it, humans are meant to be a part of community. A community where we support each other, rely on each other. The way I cope with being far from home is through cooking Indonesian food.

Ternyata memang gw tuh nggak punya masalah dengan orang Indonesia. Masalah gw adalah dengan pemerintahan Indonesia. Masalah kita bersama. 

Comments

Popular posts from this blog

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

BERDIKARI

Kau tahu kawan kepanjangan dari Berdikari?? Aku rasa, kebanyakan dari kita pasti tau itu kan??!! Yah, BERDIKARI adalah berdiri di kaki sendiri. Artinya??? Mandiri, tangguh, tidak bergantung pada orang lain. Itu yang sejak dulu di gaung-gaungkan kepada kita. Indonesia merupakan salah satu negara yg berkembang. Kita emang sih belum menjadi negara maju seperti Eropa atau Amerika atau negara manapun lah itu. Tapi jika sedikit ditelisik nih ya, kita merdeka adalah hasil perjuangan atau hasil pemberian?! Pasti kita dengan kepala tegak akan mengatakan "Perjuangan sendiri, kerja keras kami selama ratusan tahun". Iya! Benar. Kita merdeka atas keringat dan darah seluruh warga negara. Kita berdiri di tanah merdeka ini dengan kerja keras. Patut bangga? Patut!!! Karena merdeka dengan hasil sendiri, tidak ada negara lain yg menopang hidup kita. Kita berdiri, berjalan, dan berlari atas kemauan kita sendiri. Akibatnya apa? Akibatnya tidak akan ada negara lain yg mengurus kepentingan intern...