Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.
Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.
Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.
Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana yang tidak. Sudah mulai oke untuk sekedar hidup sehari-hari. Nemuin barang-barang Indonesia yang bikin bahagia banget.
Bulan ketiga, secara mengejutkan mulai terasa hampa dan kesepian. Gw termasuk orang yang nggak pernah merasa kesepian karena gw punya orang-orang yang bisa dengan kapanpun gw hubungi. Gw analisa rasa kesepian itu, rasanya berbeda. Bukan kesepian yang "nggak punya temen" atau kesepian karena takut sendirian. Tapi kesepian yang ternyata capek juga ya tiap hari mendengar bahasa yang gw nggak kenali sama sekali.
Sepi karena sehari-hari terisolasi dalam konteks "I am the alien here". Bahasa nggak kenal, meskipun mengerti sedikit saja. Meskipun di Indonesia juga jarang ngumpul dengan orang, tapi setidaknya waktu beli kopi, beli makan, interaksi kecil dengan penjualnya bisa bikin hati tenang. Di sini gw cuma bisa bilang makasih dan halo.
Ada ternyata rasa sepi karena jauh sekali dengan kondisi yang familiar dari diri kita. Rasa sepi ini juga baru gw sadari saat gw berkunjung ke kedutaan besar tanggal 17 Agustus. Di sana gw denger orang ngobrol dengan bahasa daerah masing-masing yang gw nggak ngerti, dengan Bahasa Indonesia, dengan kostum Indonesia banget, dengan gelagat yang Indonesia banget, jajanan dan makanan yang Indonesia banget.
Hati gw rasanya hangat sekali. Nangis dikit, terharu. Ini ratusan orang Indonesia ngapain aja ya di Moskow. Ada yang sekolah, kerja, nikah sama orang Rusia, ada yang cuma ngikut aja kayak gw.
Beberapa waktu setelah itu kami pijat di tempat langganan kami. Lalu waktu pijat, mbaknya nanya "tekanannya sudah cukup kak?". Karena kaget gw jawabnya agak lemot. Ini gw di Sanur apa di Moskow. Ternyata mbaknya dari Bali. Satu hal kecil seperti ini terasa amat sangat menyenangkan di negara yang jauh dari rumah.
Now that I think about it, humans are meant to be a part of community. A community where we support each other, rely on each other. The way I cope with being far from home is through cooking Indonesian food.
Ternyata memang gw tuh nggak punya masalah dengan orang Indonesia. Masalah gw adalah dengan pemerintahan Indonesia. Masalah kita bersama.
Comments
Post a Comment
Share your thoughts with me here