Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Book : Dilihat Dari Rumah Kaca


Setelah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, tetralogi terakhir dari Buru ini adalah Rumah Kaca. Berbeda dengan buku sebelumnya, Rumah Kaca ini mengambil seorang lain untuk membaca situasi yang dihadapi oleh Minke. Menelisik siapa saja tokoh tokoh yang diceritakan Minke di 3 buku sebelumnya. Apakah fakta ataukah hanya karangan belaka.

Buku ini auranya berbeda dari tiga buku sebelumnya. Karena di buku sebelumnya kita bisa mendalami sosok Minke dengan segala kegalauannya, disini kita memang memandang orang lain dari Rumah Kaca kita. Dari kacamata dengan data yang ada untuk digali lebih dalam. Kata salah satu kolega, ini closure dari ketiga buku sebelumnya.

Minke memang luar biasa, di masa segitu, Minke berani bersuara dengan tulisan termasuk hal yang sangat berani. Tantangannya dibredel atau yaaa minimal diasingkan lah, paling parahnya dihilangkan. Karena ketakutan akan mempengaruhi kekuasaan kolonial.

Tidak banyak yang bisa kutulis tentang buku keempat ini. Karena semua cerita sudah tercakup di tiga buku sebelumnya. Yang jelas di buku ini pembaca diajak untuk refleksi tentang apa yang dialami Minke di tiga buku sebelumnya. Sosok Minke yang bisa dibilang kontroversial dimasanya. Seperti kata mertua gw :
Menjadi berbeda di Indonesia itu sulit, kamu harus kuat Pris. 
Terima kasih Minke, Terima kasih Pramoedya. Masterpiece ini harus dibaca semua orang. Kita beruntung pernah memiliki kalian 💗

Comments

  1. Bagus kan mbak? Semua bukunya Pramoedya bagus-bagus tau. Makanya saya ngoleksi buku-bukunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh anda mengoleksinya? Ga berminat disumbangkan kepadaku yg unyuk ini? Pahala lho 😋

      Tapi seriusan deh, Pram, bruntung kita pnya Pram. Ya walopun pd akhirnya dia dikecewakan sih

      Delete
    2. yauda pokoknya kutunggu bukunya dikirim ke malang ya mas e :D

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...