Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Pentingnya Asuransi Kesehatan


Jujur sih gw kurang paham dengan scene menunggaknya tagihan BPJS ke rumah sakit/faskes yang ditunjuk. Tapi bisa jadi itu juga soal pengguna BPJS yang molor bayar atau malas bayar. Disini juga gw ngga bakal bahas masalah itu karena sangat diluar ranah saya (elahh iyalah gw idupnya sama angka dan huruf korea aja lol).

Histori pemakaian BPJS gw juga sebenernya peralihan dari ASKES (karena babe adalah PNS yang ASKES nya cover buat 2 orang anak juga hingga si anak lulus kuliah) ketika lulus kuliah. Karena selalu terbantu dengan ASKES, maka sesegera mungkin babe daftarin anaknya BPJS. Karena pribadi, kemudian kerja di kantor dan di cover kantor, jadi kudu dialihkan lagi dari BPJS pribadi ke BPJS yang ditanggung kantor dan prosesnya terkendala sekian bulan jadi harus bayar 1,5juta. Setelah dibayar langsung jadi tanggungan kantor (yg sebenernya juga gw ikutan bayar juga kan dipotong gaji). Setelah resign dan harus dipindah ke pribadi lagi, alhasil berbulan-bulan juga jadi bayar 1juta.

Dulu pengguna ASKES hanya pegawai negeri dan keluarganya saja. Masyarakat umum nggak bisa dapet asuransi kesehatan kecuali ikut asuransi swasta. Lambat laun ternyata dibikinlah sistem asuransi kesehatan khusus warga miskin. Agak aneh sih karena menurut gw asuransi kesehatan adalah hak semua warga. Nggak kaya miskin harus terjamin kesehatannya. Kemudian lahirnya BPJS ini yang mampu mengakomodir kebutuhan kesehatan bagi semua warga. Kaya miskin, pertanyaan pertama di rumah sakit adalah "Punya BPJS? Atau asuransi kesehatan?".

penampakan Kartu BPJS yang merge dengan KIS

Sebetulnya tulisan ini bukan soal BPJS, tapi tentang asuransi kesehatan. Banyak yang cerita ke gw kalo BPJS ini kurang ciamik. Ya lagi-lagi bukan urusan gw ya apa yg ada dibelakang layar mereka tapi selama mereka masih melayani dan fasilitas bisa gw pake yaudah. Asuransi kesehatan yang murah disini adalah BPJS dengan harga mulai 25ribu untuk kelas 3 hingga 80ribu untuk kelas 1. Yang membedakan bukan obat yang diberikan untuk penyakit yang sama tapi lebih kepada kamarnya. Bisa upgrade tapi selisih biaya ditanggung sendiri. Sedangkan untuk asuransi swasta biasanya tarifnya lebih mahal tapi servis juga agak lebih daripada BPJS. Kembali lagi soal harga tergantung kemampuan. Kalau mampunya pake yang murah yaudah yang murah aja, kalo mampunya pake yang mahal yaudah beli yang mahal.

Banyak banget temen yang nggak mau pake (dalam hal ini) BPJS karena pelayanannya katanya nggak bagus kalo dirumah sakit. Sedangkan kalo pake asuransi swasta gitu mereka ga sanggup bayar. Akhirnya mereka pake biaya sendiri yang biasanya mahal dong sekali periksa. Atau cerita lain yang nggak kalah seru adalah "Masa aku ga sakit masih harus bayar? Enak dong mereka pake duit kita terus? Lagian ngapain pake asuransi kesehatan sih, kek doain kita sakit aja". Elahhh bukan gitu juminten! Ya okelah nggak bisa disalahin juga dong mereka mikirnya gitu, tapi kok sedangkal itu sih.

Siapa coba manusia yang pengen sakit?? Nggak ada dong. Tapi beberapa bulan lalu ga ada angin ga ada ujan, cuma ada pasir aja dijalanan yang bikin suami gw nyetirnya nyelungsep yang akhirnya gw harus ke UGD di Bali. Eh keliatannya murah deh, tapi setelah dibayar rontgen dll abis juga 400ribu sekali periksa (gara-gara BPJS kondisi nonaktif). Yang kemudian setelah tangan gw sembuh, eh kaki gw ngajak masuk UGD juga di Surabaya. Sebulan itu masuk UGD dua kali dengan biaya yang kurang lebih sama. Ga ada yang tau kan? Kaki gw gatel aja pengen masuk UGD sampe berakibat nggak bisa jalan gitu.

Jadi pada dasarnya jarang banget orang yang seumur hidupnya nggak pernah sakit. Ya kan? Menurut gw, asuransi kesehatan itu perlu banget. Dan banyak orang yang nggak sadar akan pentingnya asuransi kesehatan. Cari aja asuransi kesehatan yang bisa cover kebutuhan dasar yang contoh scalling gigi dapet, nambal gigi dapet, lumayan lho sekali scalling kan 100-200ribuan. Ya kalo nggak sakit ya alhamdulillah, asuransinya bisa dipakai buat scalling tiap 6 bulan sekali kan.

Tapi kembali lagi, semua itu soal mindset masing-masing tentang asuransi kesehatan. Selama merasa nantinya mampu membayar biaya pas sakit tanpa menggunakan asuransi kesehatan ya kenapa nggak? Gw cukup terbantu dengan adanya asuransi kesehatan ini. Sekarang lagi mau dipindah faskes ke Malang deket rumah biar bisa urus gigi juga nggak harus pulang ke Pandaan dulu.

Jadi gimana? Kamu punya asuransi kesehatan juga nggak? 😄

Comments

  1. setuju dengan isi tulisannya….mantap ulasannya.

    ReplyDelete
  2. Eikeh dong BPJS Kesehatan. Dan alhamdulillah sampe sekarang gak pernah dipake. Karena akuhnya dikasih nikmat sehat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya... sehat ini nikmat bgt deh yg kudu disyukurin ya

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men