Skip to main content

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite spot ...

Satu langkah baru



...

Keesokan paginya kita ada jadwal ke kantor MUI. Nyapo? Minta surat pengesahan keislaman. Ya kali nikah kudu pake begituan kan buat yang mixed couple ini. Sebenernya secara praktikal dia sudah menjalankan kewajibannya. Hanya saja tanpa memiliki surat keterangan tersebut. Jadilah kita dibantu Pak Ustad kenalan keluarga yang kebetulan aja temennya ketua MUI Pasuruan. Kepriben tho? Langsung ke ketuanya mintanya.

Syaratnya ya sama aja sih sebenernya, cuman mengucapkan dua kalimat syahadat dan ya sudah disaksikan orang-orang disana. Karena diurusin sama pak ustad, jadilah saya tugasnya cuman menerjemah aja hehe. Gegara orang-orang disana pada bisa Bahasa Arab tapi nggak ada yang bisa Bahasa Inggris. Barulah ketika datang itu si bapak sekertaris MUI, yang bisa Bahasa Inggris dikit-dikit, baru deh bisa saya tinggal pipis. 
 
Saya deg-degan lho, padahal kan ini cuman bikin suratnya aja. Tapi pas dia ngucapin itu sama artinya saya deg-deg an banget. Kesannya kayak pertama kali gitu. Hemm bener-bener deg-deg an. Suasananya sih santai banget. Santai banget, mereka pada pake sarung tho, yang akhirnya dia nanya ‘itu mereka pake dress apa sih sayang kok keliatannya enak banget’ 

Setelah sah, resmi, kita lanjut ngeprint dokumennya. Menulis sih lebih tepatnya. Nama saya tertulis sebagai saksi dan nama dia juga ditulis juga yang nama islamnya. Nggak wajib sih, tapi kalo ada ya lebih bagus katanya. Manut wae lah. Wis nulis lengkap semuanya, drama dimulai eng ing enggggg…

‘Aduh mbak kok printernya ngadat sih?’
‘Lah trus gimana dong Pak?’
‘Ini masih dibenerin sih, bisa kok, tapi ya nunggu. Nggak ada jadwal kemana-mana kan?’
‘Santai kok pak’

Karena kesian telah membuat kita menunggu lama, akhirnya diputuskan untuk print diluar. Baru juga 5 menit keluar eh lampu mati. Trus bapak-bapak yang lain bilang : ‘wahh kalo lampu mati gini bisa sampek malam mini. Gimana ini?’

Mampus lah kowe

Ya udah akhirnya dengan perdebatan sengit dan alot akhirnya diputuskan untuk ketemu lagi besok dengan bapak sekertaris itu untuk mengambil sertifikat. Kebetulan rumah bapak itu nggak jauh dari rumahku. Yawes lah, kita langsung cus pulang dan makan bakso. 

Oiya untuk fee sebenernya gratis, cuman kasih semacem ‘infaq’ aja gitu. Rata-rata sih 200 ribu. Mau lebih juga nggak apa-apa.



…bersambung lagi…

Comments

  1. Infaq opo kui mbak 200 ewu???

    Salah sui ngko dadi inFAK.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya tak ralat ya. Administrasi fee seikhlasnya hahaha

      *seikhlasnya tp minim 200rb hahah

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here