Belajar merencanakan keuangan

8:51 PM



sepertinya ini postingan agak panjang sih, jadi disclaimer dulu deh ya. siapin kripik tempe, lengkap sama cola-nya ya

Saya sadar, karena suatu saat saya akan menjadi manager keuangan dalam rumah tangga saya, saya harus belajar mengatur keuangan saya dari sekarang. Berbulan-bulan lalu saya sudah gagal dalam merencanakan keuangan yang sehat, ya karena memang banyak pengeluaran darurat yang tak terduga, jadilah saya baru bisa merencanakan keuangan sehat saya. Sebetulnya saya sudah merencanakan dari jauh hari, masalahnya baru bisa eksekusi akhir-akhir ini.



Merencanakan keuangan itu gampang kalau penghasilan kita hanya kita pakai sendiri dan kita masih single. Tapi beda cerita kalau penghasilan kita sudah digunakan untuk menghidupi orang lain. Kita bahas aja yang untuk single dan dipakai sendiri ya. 

Menurut saya, keuangan sehat itu jika kita bisa memiliki dana darurat,investasi, serta tidak memiliki utang. Tapi nyicil rumah kan juga utang? Yaaaa kan rumah itu udah masuk kategori kebutuhan primer, atau kalau rumahnya udah satu trus nyicil rumah lagi ya masuk kategori investasi itu. Wong saya aja juga nyicil emas kok. Utang yang saya maksud disini bukan utang yang datangnya dari nafsu dan kartu kredit. Bisa sih nyicil rumah pakai kartu kredit tapi bunganya bisa sangat mematikan lho. Cukup ati-ati dan cukup bernyali aja kalau mau cicil rumah pakai kartu kredit -katanya sih harus begitu-.

Menurut seorang teman, dana darurat itu penting untuk dimiliki. Itu juga menurut saya kok. Jadi dana darurat itu fungsinya emang sebagai dana yang digunakan untuk kondisi darurat. Yaiyalah namanya juga darurat. Misal, abis resign kerja dan sedang dalam masa penantian kerja selanjutnya, ya bisa pakai dana darurat itu. Dia fungsinya untuk masa transisi. Masa dimana tidak berpenghasilan tapi pengeluaran selalu jalan. Idealnya, dana itu 3 kali jumlah pengeluaran kebutuhan kita tiap bulan. Kebutuhan ya, bukan keinginan ya. Lebih bagus lagi kalau 3 kali gaji hahaha. Berapapun minimal (menurut saya dan teman saya) itu 3 kali jumlah pengeluaran untuk kebutuhan bulanan. Misal nih, pengeluaran saya perbulan untuk kebutuhan adalah 2 juta, ya minimal saya punya darurat 6 juta. Lebih banyak lebih baik. Tapi kalau lebih dari itu pikiran saya udah masukin ke tabungan emas aja hihihi

 gambar pinjem aja disini

Investasi. Beberapa orang beranggapan kalau investasi hanya bisa dimulai jika kita memiliki dana yang besar. Misal investasi tanah atau rumah. Men!!! Come on!! Investasi gede juga duitnya lama terkumpulnya kan. Itu juga kalau duitnya bisa bertahan nggak berkurang, nggak tergerus nafsu sih. Investasi itu bisa dimulai dari dini. Nah contohnya si Brenda yang masih kuliah aja dia sudah bisa investasi bentuknya reksadana, yang bisa dimulai dari 100ribu rupiah aja. Kalau saya lebih tertarik investasi emas, tiap bulan saya nabung emas satu gram. Nggak kerasa ntar lama-lama juga banyak koleksi emasnya. Asal nggak koleksi emas bule aja hahaha. Si abang Riza udah banyak macem investasinya, bahkan sampai investasi buat pendidikan anak biarpun dia belom punya anak. Saya mau jadi followernya abang Riza. Ada juga Mas Roy yang investasinya bentuknya obligasi. Mainnya udah ke arah ritel karena duitnya udah agak gedean. Yaiya sekali beli ORI minim 5juta. Kudu nabung dulu buat beli ORI. 

Kalau investasi kecil-kecilan begini ntar kalau udah gede, bisa dijual /dicairkan trus di investasikan ke yang gedean lagi, misal property. Jadi bentuk investasinya berkembang. Investasi properti dalam jangka waktu 3 bulan aja udah balik untung seperempat harga beli brooo. Teman saya beli rumah mini 200 juta, 3 bulan kemudian rumah yang sama harganya udah 250 juta. Ya namanya juga investasi, investasi kecil ya dapet kecil, investasi besar ya dapetnya juga besar. Investasi itu hasilnya baru bisa dirasain setelah jangka waktu tertentu, bukan dalam waktu dekat. Jangan kaya temen kantor saya, niat beli emas murni hari ini, harga belinya 580 ribu, harga jualnya 550 ribu. Dia seketika mengurungkan niatnya karena katanya dia rugi. Yaelah mbakkkk… ya masa hari ini beli emas trus minggu depan dijual sih? Ya jelas nggak ada return-nya lah kalo gitu. Emas nggak bikin kita kaya sih, cuman dia mengamankan kekayaan kita aja. Berarti saya harus investasi jenis lain ini. Ngincer ORI.

Nah selanjutnya itu bebaskan diri dari semua jenis utang dan nafsu. Nafsu apa? Nafsu celamitan! Kok enak sih utang gitu? bisa tidur ya kalo punya utang? Saya utang 100ribu hari ini, udah kepikiran nggak bisa tidur. Padahal lho besok dibalikin. Itu pinjem duit gara-gara kartu atm-nya nggak dibawa dan harus beli sesuatu hari itu juga. Kepikiran sumpah. Padahal ada duit buat bayar besoknya. Saya nggak tau ya kalau utang buat kebutuhan sehari-hari karena memang itu perlu dan primer misal makan. Nah yang saya bahas disini utang ‘barang yang diinginkan’. Bagi yang memiliki kartu kredit, biasanya hasrat menggesek kartu kredit ini tak terbendung jika sudah menyangkut keinginan. Alibinya ‘mumpung diskon’, kalau nggak gitu ‘mumpung ada, jarang-jarang ini ada’. Masalah lain yang muncul biasanya adalah harga yang ditawarkan dengan fasilitas kartu kredit itu nggak murah. Mana ada beli tas 50ribu bisa pakai kartu kredit? Yang ada tas seharga 500 ribu bisa dibeli dengan kartu kredit dengan iming-iming cicilan nol persen. Saat kita bisa membayar seharga kurang dari 500ribu untuk barang yang sama, akhirnya kita harus mengeluarkan lebih banyak dengan asumsi kita bisa mencicilnya. Beli tas 500 ribu nggak apa-apa deh toh bayarnya tiap bulan nggak sampai 100ribu. Hmm hmm hmmm

Yang namanya nafsu, nafsu menuruti keinginan itu selalu besar. Ketika orang bisa menghasilkan rupiah dengan jumlah yang lumayan, dia akan berusaha untuk memperbaiki keadaan dia dari berbagai sisi. Well… jadi social climber itu nggak masalah, asal nggak keblinger aja. Dengan segala kemudahan era sekarang, memenuhi keinginan bukanlah hal yang sulit sekarang. gimana nggak sulit, meski nggak punya duit kita bisa dapatkan keinginan kita dengan kartu kredit. Biasanya ini yang membuat perencanaan keuangan kita jadi berantakan. 

Nah terus, nabung itu apa nggak termasuk dalam kategori keuangan yang sehat? Menurut saya, menabung itu ditujukan untuk memenuhi keinginan kita. Nah ini nih, daripada ngutang kan mending kita nabung dulu kan. Hasilnya lho bikin kita lebih puas daripada ngutang. Dulu waktu kuliah, saya termasuk kategori yang bisa mengatur keuangan. Buktinya, saya bisa beli laptop sendiri dari hasil menabung uang bulanan dan mengaturnya sedemikian sehingga saya bisa membeli laptop sendiri. Dulu sih waktu kuliah sudah punya laptop warisan babe, tapi karena udah uzur dan nggak kuat diperkosa buat ngoding, akhirnya harus beli laptop lagi. Si babe nggak mau beliin lagi, yawes saya nabung jadinya. Alhasil laptopnya kusayang sayang dan masih prima sampe sekarang. Padahal udah lebih dari 4 tahun tapi baterenya masih bisa tahan 4-5 jam. Ini sekarang lagi dipake buat nulis blog hehehe... Itu karena efek menyayangi hasil jerih payah menabung untuk membeli keinginan. Sebenernya kebutuhan ya, tapi itu masuk kategori keinginan versi saya. Tapi ada juga sih orang yang bisa nabung tanpa mikir investasi karena dia mikir kalau udah ada duit banyak ya aman kan, kebutuhan terpenuhi keinginan juga terpenuhi. Persis pikiran pacar saya ini. Tak brainwash kamu mas bentar lagi!

Jadi kalau ingin sesuatu, nabung aja. Sebisa mungkin hindari ngutang apalagi pakai kartu kredit. Duhh itu bisa membinasakan rencana keuangan deh bener. Atau menabung untuk traveling keliling dunia misal. Biasanya kalau memiliki keinginan besar atas sesuatu, kita bisa nabung dengan rajin. Apapun dilakukan untuk mencapai keinginannya. Tapi kalau bisa jangan ngutang. 

Intinya, luruskan niat untuk mengatur keuangan sehat. Bener-bener luruskan niat deh. Puasa mengekang hawa nafsu celamitannya. Dan inget masa depan, atau lebih tepatnya inget masa tuanya ntar. Masa iya ntar dimasa tua masih nyusahin orang lain secara financial sih. 

Semua memang tergantung bagaimana cara kita mengatur keuangan dan masa depan kita sih. Niatnya yang kenceng lah ya harus. Yawes lah Good luck! Semoga bisa memiliki keuangan yang sehat untuk saat ini dan bisa menjamin masa depan nantinya.


Sejujurnya ini juga tulisan untuk mengingatkan dan memotivasi diri saya sendiri hohoho

You Might Also Like

4 komentar

  1. Aih, nama saya disebut, jadi malu *sibak rambut*


    Mbak aku sampean tukokke omah mbokan....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rambut yg mana mas? 😝

      Omah keong ta? Ayok wes saiki budal nang pasar, tak tukokno sak kranjang

      Hapus
    2. Dikira rumah keong ga beneran rumah? Omah tenanan kuwi. Omah e keong tenanan keong 😋

      Hapus

Let me know what you think about mine ~ Share it here