Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Satu langkah baru



...

Keesokan paginya kita ada jadwal ke kantor MUI. Nyapo? Minta surat pengesahan keislaman. Ya kali nikah kudu pake begituan kan buat yang mixed couple ini. Sebenernya secara praktikal dia sudah menjalankan kewajibannya. Hanya saja tanpa memiliki surat keterangan tersebut. Jadilah kita dibantu Pak Ustad kenalan keluarga yang kebetulan aja temennya ketua MUI Pasuruan. Kepriben tho? Langsung ke ketuanya mintanya.

Syaratnya ya sama aja sih sebenernya, cuman mengucapkan dua kalimat syahadat dan ya sudah disaksikan orang-orang disana. Karena diurusin sama pak ustad, jadilah saya tugasnya cuman menerjemah aja hehe. Gegara orang-orang disana pada bisa Bahasa Arab tapi nggak ada yang bisa Bahasa Inggris. Barulah ketika datang itu si bapak sekertaris MUI, yang bisa Bahasa Inggris dikit-dikit, baru deh bisa saya tinggal pipis. 
 
Saya deg-degan lho, padahal kan ini cuman bikin suratnya aja. Tapi pas dia ngucapin itu sama artinya saya deg-deg an banget. Kesannya kayak pertama kali gitu. Hemm bener-bener deg-deg an. Suasananya sih santai banget. Santai banget, mereka pada pake sarung tho, yang akhirnya dia nanya ‘itu mereka pake dress apa sih sayang kok keliatannya enak banget’ 

Setelah sah, resmi, kita lanjut ngeprint dokumennya. Menulis sih lebih tepatnya. Nama saya tertulis sebagai saksi dan nama dia juga ditulis juga yang nama islamnya. Nggak wajib sih, tapi kalo ada ya lebih bagus katanya. Manut wae lah. Wis nulis lengkap semuanya, drama dimulai eng ing enggggg…

‘Aduh mbak kok printernya ngadat sih?’
‘Lah trus gimana dong Pak?’
‘Ini masih dibenerin sih, bisa kok, tapi ya nunggu. Nggak ada jadwal kemana-mana kan?’
‘Santai kok pak’

Karena kesian telah membuat kita menunggu lama, akhirnya diputuskan untuk print diluar. Baru juga 5 menit keluar eh lampu mati. Trus bapak-bapak yang lain bilang : ‘wahh kalo lampu mati gini bisa sampek malam mini. Gimana ini?’

Mampus lah kowe

Ya udah akhirnya dengan perdebatan sengit dan alot akhirnya diputuskan untuk ketemu lagi besok dengan bapak sekertaris itu untuk mengambil sertifikat. Kebetulan rumah bapak itu nggak jauh dari rumahku. Yawes lah, kita langsung cus pulang dan makan bakso. 

Oiya untuk fee sebenernya gratis, cuman kasih semacem ‘infaq’ aja gitu. Rata-rata sih 200 ribu. Mau lebih juga nggak apa-apa.



…bersambung lagi…

Comments

  1. Infaq opo kui mbak 200 ewu???

    Salah sui ngko dadi inFAK.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya tak ralat ya. Administrasi fee seikhlasnya hahaha

      *seikhlasnya tp minim 200rb hahah

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena suami gw dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya dia dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya dia. Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. Dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Gw belum pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ada pengalaman bikin visa kecuali  Visa Sosial...