Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Menabung USD Lagi

Setelah mencoba transaksi valuta asing di DBS dan pembandingnya, kemarin gw putuskan untuk menyimpan dana dalam bentuk USD di Digibank.

Bukan investasi tujuan gw karena menurut gw valuta asing bukan instrumen investasi yang tepat buat gw. Kenapa akhirnya gw putuskan untuk nabung USD lagi? Gegara bos gw nih minta gw cariin sumber krisis Asia dan Rusia tahun 97-98. Agak serem ya ketika perusahaan-perusahaan banyak hutang dalam mata uang selain IDR, banyak yang kolaps dan dana hutang jadi menggelembung sekali. 

Makin banyak gw baca makin gw sadar juga kalau krisis pasti terjadi. Rentang tahunnya atau kapannya kita nggak akan pernah tau, tapi krisis pasti terjadi. Ada yang jarak 3 tahun, 10 tahun, 20 tahun, yang jelas krisis itu pasti terjadi. Sepanjang sejarah sih, manusia selalu berhasil melewati krisis walaupun terseok-seok. Tapi bisa. 

Dari situ gw mikir, kayaknya emang perlu sokong dana dalam bentuk mata uang asing selain IDR. Gw rasa untuk saat ini USD adalah pilihan yang pas buat gw. Apakah ada faktor takut di sini? Yah, namanya juga manusia. Manusiawi lah kalau ngerasa takut. Gw lebih takut aja ngerepotin orang lain aja kalo lagi susah. Nggak ada salahnya diversifikasi instrumen juga. 

Apakah belinya hanya saat turun saja? Hemmm metode itu bisa sih dipakai tapi karena gw nggak gitu ngikutin perkembangan naik turunnya valuta asing, jadi ya gw belinya nggak harus nunggu turun dulu. Yaudah seadanya itu berapa ya gw beli. Niatnya nabung aja. Untung atau nggak, nominal gw masih tetep sama di mata uang USD. 

Jadi, bulan-bulan lalu gw pernah bilang kalau gw buka tabungan CAD buat urusan kerjaan dan dapat nomor rekening sendiri kan. Nah, gw buka lagi akun USD di situ yang ternyata nggak dapet nomer rekening yang berbeda. Jadi nomor rekening valuta asing DBS ini cuma satu, dengan berbagai valuta asing. Nggak berbagai sih, beberapa aja yang diakomodir DBS. 

Top up minimal 10, dalam bentuk valuta asing tersebut. Jam operasionalnya atau jam masuknya uang ke rekening adalah hari kerja normal. Gw masih penasaran aja sih kalau misal dikirim duit langsung dalam bentuk valas ke rekening itu, apakah masuknya sesuai yang dikirimkan atau diubah menjadi yang sudah ada dalam tabungan tersebut. Mungkin nanti gw coba kalau ada kesempatan. 

Begitulah kiranya, akhirnya gw putuskan untuk menabung valuta asing lagi 😅 Ada yang udah punya tabungan valuta asing?

Comments

  1. Nyimpen uangnya bentuk macem2 ya Mbak. Saya bisa nyimpen uang di Bank Jateng aja udah Alhamdulillah 😆

    Ini sampe bentuk USD .. mantap. 😁

    Btw, saya baru tau kalau kita nanti pasti mengalami krisis ya. Kalau nggak ada persiapan pasti emang bakalan terseok-seok 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya lama2 uang fisik bisa jadi punah ini 😅

      Dulu mau punya rekening USD aja bukanya harus ke bank, harus bawa banyak berjuta-juta. Sekarang tinggal klik klik klik, seratus ribu juga udah boleh beli USD. Dunia berkembang secepat itu 😅

      Delete
  2. Sama deh kayak eikeh, bikin rekening USD di Digibank. Sangat praktis dan gratis ! Boleh sesekali ditransfer dollarnya ke rekening saya bu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebentar kak. Transfer ke aku dulu gimana? Nantik tak transfer balik wkwkkw

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...