Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Surrender Dana Unitlink


Gw punya satu unitlink sejak 2017. Waktu itu sih belum paham bener bedanya apa. Yang gw tau gw butuh tabungan yang nggak bisa diambil sewaktu-waktu, agennya juga temen gw sendiri. Jadi yaudah lah ya. Bikin satu. 

Namanya belajar, kalau nggak terjun langsung ya kurang yahud dong.

Waktu berlalu dan gw udah lebih melek soal investasi dll. Gw pikir-pikir, ngapain gw taro di unitlink 500rb/bulan kalo gw bisa taro dananya di Index fund dengan nilai pengembangan yang jauh lebih bagus. Karena duit yang disetor ke unitlink itu sebagian untuk asuransi jiwa, sebagian lagi buat komisi agen, sedikitnya buat diinvestasikan. Nilai yang diinvestasikan baru akan penuh setelah tahun keberapa gitu. 

Nggak kok, gw nggak nyesel. Belajar kalo nggak ngalamin sendiri juga bakal bertanya-tanya. Senggaknya jiwa gw terasuransi sejak 2017 hingga 2020 Desember kemaren.

Gw isi formulir surender yang kemudian harus dikirimkan ke kantor pusatnya, beserta dengan polisnya. Yaudah gw kirim balik semuanya. Map itu nggak pernah gw buka sejak gw terima pertama kali 😂

Gw dapet dana gw sebesar kira-kira 50-55%. Menurut gw sih, gw lagi beruntung karena nilainya cukup bagus di masa pandemi, bulan Desember kemarin. Jadi pengembalian dana gw terhitung cukup bagus. Trus kehilangan 50% dana dong? Yaa nggak juga, kan itu asuransi jiwanya. Anggep aja gitu. 

Prosesnya bisa dibilang cepet banget. Saat gw email perkara ingin memberhentikan polis gw, gw langsung dapet email balik tentang prosedurnya. Setelah gw isi dan gw kirim balik ke kantor pusat, gw dapet sms soal proses pengajuan surrender tadi. Tentu saja dirayu dulu agar tidak surrender namun mengajukan cuti bayar polis atau diambil sebagian saja. Tapi karena gw mau rombak portofolio gw jadi lebih baik surrender saja. Dokumen diterima mereka sekitar 4 hari setelah gw kirim. Seketika itu gw dapet SMS dan dana diterima dalam jangka waktu 14 hari katanya. Tapi setelah 3 harian, dana sudah gw terima di rekening gw. 

Dari banyak hal yang gw baca soal surrender ini gw sempet was-was karena kok orang-orang dengan polis yg sama per bulannya tapi dapetnya kok cuma 30% itu gimana. Dari komentar-komentar yg ada pada marah-marah karena dapetnya nggak banyak. Tapi setelah gw alami sendiri, bisa jadi mereka lupa soal potongan untuk asuransi jiwa, potongan untuk komisi agen, bisa jadi waktu itu nilai investasi juga sedang rendah, dsb. 

Menurut gw sistemnya ga ada yang salah. Itu bukan penipuan seperti yg orang sering sebutkan. Yang salah adalah persepsi kebanyakan dari kita tentang "Unitlink adalah investasi" dan juga penyampaian agen yg kebanyakan cuma kejar target nasabah tapi nggak bilang resikonya apa. 

Tapi setelah gw ngerti, gw juga nggak akan buka unitlink lagi di masa depan karena unitlink nggak cocok buat profil gw. Gw lebih cocok investasi di reksa dana yang bisa gw diversifikasi jadi macem-macem bentuk tergantung tujuan gw investasi. 

Jadi, apakah kalian ada yg punya unitlink?  

Comments

  1. Akoh tak punya unitlink karna kebetulan dari dulu udah melek finansial. Orang yang mata duitan kaya gw sangat tidak cocok masuk unitlink. Paling bener pisahin asuransi sama investasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHA iyak betollll. Akupun juga karena belajar jadi tau. Nyesel ga nyesel sih. Kalo liat jumlah duitnya ya nyesel HAHAHHAHAHA tapi yaaasudahlah wong sudah kejadian ya dijadikan bahan belajar biar bisa menggurui yg lain 🤣

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Tentukan Jangka Waktu Investasi

Seperti Ganesha bukan? Dewa ilmu pengetahuan dan lambang kecerdasan. Favorit gw. Tapi ini speaker sih 😆   "Aku mau investasi" "Oke bentuknya apa dan berapa lama?" "Hmm ya pokoknya apa lah yang cocok buatku" Ya you kira I dukun? Selain menentukan profil resiko , acara yang perlu untuk dipikirkan adalah menentukan berapa lama jangka waktu investasi. Ada yang membagi kedalam dua kategori yaitu pendek dan panjang, ada pula yang membaginya ke tiga kategori yaitu jangka pendek, menengah, dan panjang. Nah kebutuhan ini hanya investor yang tahu. Tentunya tiap orang nggak bisa disamakan kebutuhannya.  Jangka pendek biasanya berkisar tidak lebih dari 5 tahun. Biasanya deposito dan obligasi dimasukkan dalam kategori ini. Biasanya yang jangka pendek ini selalu mendapat return pasti, karena selalu pasti jadi resikonya sangat rendah sekali. Kemudian jangan lupa untuk mengecek apakah return yang ditawarkan masih mampu untuk menghalau laju inflasi untuk beberapa tahun ...