Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Book : Muallaf

 

'I call them noun Muslims, religious by name but not by the nature'

I got this book months ago. HJ told me that he want to read this book, as he found the tittle is quite interesting. He asked me to get him the English version one. I ordered online and it is on our book shelves. Till I found it interesting last night.

The author lives in Jakarta and for sure it also take place in Indonesia.

Great minds discuss ideas, average minds discuss events... and small minds discuss people

John Michaelson menceritakan bagaimana masa kecil dan remajanya, bagaimana dia berusaha survive dengan kehidupan dan menanggung beban seorang anak, dan bagaimana dia menjadi seorang muslim kemudian. Yes he have son. 

Bagian pertama cukup menyedihkan. Tentang kehidupannya yang tak mudah dan ya menurut saya itu kelam. Cukup kelam dibandingkan dengan masa kecil saya. And I said 'Alhamdulillah, mine was better than his'. 

Terlibat kehidupan dengan narkoba, rokok, minuman keras, dan ternyata menghamili pacarnya tak lama setelah mereka berdua living together, tentang bagaimana dia harus mencari uang untuk support kehidupan anaknya dan juga pacarnya yang emotionally unstable menurut saya. That must be so hard

'This is from your heart?'
'Of course'
'You dont want to get married?'
'I am sorry?'
'Many bule enter Islam for this reason' 
 
Yang menjadi sangat menarik adalah part ketiga. Buku ini dibagi menjadi 3 part dan part terakhir menjadi yang paling menarik. Menceritakan tentang bagaimana dia mulai tertarik dengan Islam, termasuk pertanyaan yang umum ditanyakan ketika melihat para kulit putih memilih menjadi mualaf. Menceritakan pula tentang beberapa hal yang so Indonesia. Dan buku ini menggunakan bahasa Inggris yang so british, termasuk beberapa joke yang ntah jika itu dibaca orang akan menjadi hal yang lucu atau tidak, tapi itu cukup membuat saya tertawa lepas ditengah keseriusan membaca buku ini.

'... terified by the driver who threw us into the bends and overtook the other road users as if we were in some kind of death race'
'the worst is angkot drivers. Only two people know which direction the angkot will go. The drivers and God' 

it's so Indonesia 😂😂😂😂😂😂

Buku ini menjadi buku berbahasa Inggris pertama yang kelar saya baca dalam sehari. Karena alurnya yang menarik dan cukup membuat saya terhanyut dalam ceritanya.Bener-bener touching story, betapa perjuangan dimasa mudanya begitu berat dan kemudian digantikan dengan ketenangan dan kedamaian ketika dia memilih untuk beragama. 

Lagi-lagi ini mengajarkan saya untuk bersyukur. Kenapa? Bersyukur karena memiliki kehidupan dan keluarga yang baik sedari saya dilahirkan, bersyukur karena Tuhan tidak mencabut keimanan saya (itu adalah bagian dari rejeki yang harus disyukuri), bersyukur I am surrounded by good people, bersyukur untuk semuanya. Karena hidupnya jauh lebih tidak beruntung dibandingkan hidup saya seumurannya.

Coba deh baca yang versi Inggris. Saya kurang tau sih versi Indonesianya tapi versi Inggrisnya bener-bener memuaskan. It's so British. I give this book 9 out of 10. I simply love it.


Dear Mr John Michaelson, mind to drop me an email? I love how you write this book and become your fan within a day 😄

Comments

  1. Replies
    1. Stuju kan? Paling sebel nyetir dibelakang angkot 😂😂

      Delete
  2. Seru yaa kayanya, aku suka cerita model begini. Novel bahasa inggrisku rata2 isinya terlalu 'free' sih, huhu
    Cantumin dimana belinya donk :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak kudu baca deh. Asik banget gaya bahasanya
      Aku beli di gramedia mbak online, hrganya 120an kayaknya. Gatau di tokonya ada apa nggak, yg aku tau versi indonesianya. Tp lebih asik deh baca yg inggris, soale krasa bgt dan ak ga bisa bayangin kl diterjemah haha

      Delete
  3. Jadi kepengin baca bukunya deh hihih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca yg english ver aja nov. Biar lebih masuuuukkk candaanya, sama auranya. Ini british banget. Soale yg nulis orang enggres juga si

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Seolah Kalian Tau Segalanya

'Ihiw, ada bahan obrolan baru buat dianalisa dan dinyinyirin nih. Si dia mau kawin sama bule. Duitnya banyak kali. Ato kalo gak gitu yaaa dia cuma buat mainan aja' Kita nggak akan pernah memuaskan hasrat banyak orang demi membuat mereka semua senang. Jika kita ingin membuat pasangan hidup kita bahagia, ya wajar, ya normal. Tapi tidak untuk membuat para suporter ataupun hanya penonton dalam hidup kita bahagia juga kah? Toh dari setiap langkah yang kita ambil, benar maupun salah juga masih saja bisa diambil celah salahnya untuk diwejangi ala mereka. Atau lebih bekennya, dinyinyirin. Mungkin beberapa tulisan saya tentang menikahi WNA banyak yang terdengar 'keras', maafkan saya yang sedang jengkel-jengkelnya. Menikah dengan orang yang berbeda yang datangnya ribuan miles jauhnya dari Indonesia juga bukan hal yang mudah, you know! Tapi orang dengan mudahnya saja melihat kita yang sedang jalan berdua dan bertanya, atau nyeletuk istilahnya, 'Guidenya ya mbak?'...

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...